Al Isra ayat 73 merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang membahas tentang tantangan berat yang dihadapi oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalah kenabian. Ayat ini menyoroti upaya kaum kafir Quraisy untuk menggiring Nabi agar menyimpang dari wahyu Allah, bahkan dengan cara yang menguji keimanan secara ekstrem.
"Dan sungguh, mereka hampir memalingkan kamu (wahai Muhammad) dari wahyu (Al-Qur'an) yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat kedustaan terhadap Kami, dan sekalipun kamu melakukannya, niscaya mereka akan menjadikan kamu sebagai sahabat karib. Dan sekiranya Kami tidak memperkuat hati kamu (dengan kesabaran), niscaya kamu hampir condong sedikit kepada mereka." (QS. Al-Isra [17]: 73)
Ayat ini turun sebagai penegasan atas keteguhan Nabi Muhammad SAW di tengah tekanan dakwah yang luar biasa. Kaum musyrikin Mekah, yang merasa terancam oleh ajaran tauhid yang dibawa Nabi, mencoba berbagai cara untuk menjauhkan beliau dari kebenaran. Mereka menawarkan kompromi: jika Nabi mau sedikit saja mengubah ajarannya—misalnya, menyembah berhala mereka atau mengakui sebagian tuhan mereka—mereka akan berhenti mengganggu dan bahkan menjadikan beliau sebagai bagian dari kelompok elite mereka.
Inti dari godaan ini adalah tawaran duniawi sebagai imbalan atas pengorbanan prinsip agama. Namun, Allah menegaskan bahwa jika Nabi sampai mengikuti godaan tersebut walau sedikit saja ('qaliilan'), niscaya konsekuensinya sangat besar: beliau akan dianggap telah berdusta atas nama Allah, dan kaum musyrikin akan menjadikannya sahabat sejati (karena tujuannya tercapai).
Bagian krusial dari ayat ini terletak pada kalimat: "Wa lau laa an sabbatnaaka 'alaihi" (Dan sekiranya Kami tidak memperkuat hati kamu dengannya). Ini menunjukkan bahwa kekuatan Nabi untuk menolak godaan sebesar itu bukanlah semata-mata karena kemauan keras manusiawi beliau, melainkan karena pertolongan dan pengokohan langsung dari Allah SWT.
Iman dan keteguhan di medan dakwah sering kali memerlukan dukungan spiritual yang tak terlihat. Allah menguatkan hati Nabi agar tidak goyah sedikit pun. Frasa "walau laa an kidta tarkanu ilayhim qaliilan" (Dan sekiranya kamu hampir condong sedikit kepada mereka) adalah bentuk kasih sayang dan peringatan dini. Meskipun Allah mengetahui Nabi tidak akan pernah melakukannya, peringatan ini menekankan betapa tipisnya batas antara teguh dan tergelincir ketika godaan datang dalam bentuk iming-iming duniawi yang halus.
Al Isra ayat 73 memberikan pelajaran fundamental bagi setiap Muslim yang berjuang di jalan dakwah atau mempertahankan prinsip kebenaran di tengah masyarakat yang menentang.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan tingkatan kesempurnaan makam kenabian. Meskipun Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling teguh, Allah tetap menekankan perlunya penguatan ilahi. Ini menandakan bahwa dalam menghadapi ujian iman yang paling berat, manusia membutuhkan bantuan supranatural dari Sang Pencipta. Keimanan yang sejati tidak pernah merasa aman dari tipu daya setan dan godaan hawa nafsu, sehingga permohonan doa agar ditetapkan hati adalah amalan yang wajib terus dilakukan hingga akhir hayat.