Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, di mana setiap ayat membawa hikmah dan pelajaran mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang sering menjadi bahan perenungan adalah Surah Al-Isra (atau Al-Isra' wal-Mi'raj) ayat ke-76. Ayat ini secara spesifik membahas tentang upaya kaum musyrik Mekkah untuk menggoyahkan keimanan Nabi Muhammad SAW, khususnya dengan menawarkan imbalan duniawi agar beliau meninggalkan dakwah risalahnya.
Teks dan Konteks Al-Isra Ayat 76
"Dan sesungguhnya mereka hampir memprovokasi engkau (Nabi Muhammad) agar keluar dari negeri (Mekkah) untuk mengusirmu darinya. Dan apabila demikian yang terjadi, niscaya mereka tidak akan tinggal (setelah engkau pergi) melainkan sebentar saja." (QS. Al-Isra: 76)
Ayat ini turun pada masa-masa sulit kenabian di Mekkah, ketika tekanan terhadap Rasulullah ﷺ semakin memuncak. Kaum Quraisy, yang merasa terancam dengan ajaran tauhid yang dibawa Nabi, mencoba berbagai cara untuk menghentikan dakwah tersebut. Salah satu strategi yang mereka gunakan adalah melalui lobi politik dan tekanan sosial, yang puncaknya adalah usulan untuk mengusir Nabi Muhammad ﷺ dari kota kelahirannya, Mekkah.
Perangkap Duniawi dan Ujian Kesabaran
Tawaran untuk mengusir Nabi Muhammad ﷺ dari Mekkah, meskipun tampak seperti solusi untuk meredakan konflik, sejatinya adalah sebuah jebakan. Bagi orang-orang yang berpegang teguh pada prinsip ilahi, tanah air bukanlah segalanya jika ketaatan kepada Allah terancam. Ayat 76 ini menyoroti betapa tipisnya pertimbangan kaum musyrik; mereka hanya melihat keuntungan sesaat dan posisi sosial di Mekkah.
Ilustrasi: Keteguhan iman dalam menghadapi tekanan.
Pesan utama yang terkandung dalam ayat ini adalah janji ilahi. Allah memberitahu Rasul-Nya bahwa jika kaum musyrik berhasil mengusir beliau, mereka (kaum musyrik) sendiri tidak akan mampu bertahan lama di Mekkah setelah kehilangan pilar utama perlawanan dan magnet spiritual kota tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan Nabi Muhammad ﷺ justru menjaga stabilitas (meskipun dalam konflik) di kota itu dari sudut pandang ilahi, dan tanpa beliau, siklus kekuasaan mereka akan segera berakhir.
Pelajaran untuk Umat Masa Kini
Kisah dalam Al-Isra ayat 76 ini mengajarkan beberapa pelajaran penting. Pertama, kebenaran seringkali menghadapi perlawanan keras dari pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya. Kedua, teguh pada prinsip tauhid adalah prioritas di atas kenyamanan materiil atau status sosial di dunia. Para sahabat Nabi, yang kemudian berhijrah ke Madinah, membuktikan prinsip ini.
Ketika kita dihadapkan pada pilihan antara kemudahan yang mengorbankan prinsip atau kesulitan yang menjaga integritas, ayat ini mengingatkan kita bahwa pertolongan Allah selalu menyertai mereka yang berpegang teguh pada jalan-Nya. Pengusiran yang dimaksudkan sebagai kekalahan oleh kaum musyrik, justru menjadi titik balik sejarah dan kemenangan besar bagi Islam melalui hijrah.
Ayat ini menegaskan bahwa keteguhan hati dalam menghadapi provokasi adalah kunci. Jika seseorang didasarkan pada kebenaran yang otentik, maka kekuatan luar yang mencoba menggoyahkannya hanyalah sementara. Sikap konsisten Nabi Muhammad ﷺ di tengah ancaman pengusiran menunjukkan strategi ketenangan dan tawakal yang luar biasa, yang pada akhirnya membalikkan keadaan secara dramatis.
Oleh karena itu, Al-Isra ayat 76 bukan sekadar catatan sejarah, melainkan manual spiritual tentang bagaimana menghadapi intimidasi politik dan sosial ketika berpegang pada akidah. Realitas bahwa kaum musyrik tidak akan bertahan lama setelah pengusiran itu adalah janji dukungan ilahi yang menguatkan mental kaum beriman untuk tidak gentar sedikit pun.
Perenungan mendalam terhadap ayat ini mendorong kita untuk selalu meninjau kembali prioritas hidup kita. Apakah kita lebih memilih kenyamanan sesaat atau keberkahan abadi? Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesetiaan kepada panggilan kebenaran akan selalu membuahkan hasil, meskipun jalannya penuh dengan tantangan berat.