Surat Al-Isra (atau dikenal juga sebagai Bani Israil) adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang menceritakan perjalanan spiritual luar biasa Nabi Muhammad SAW, termasuk peristiwa Isra' Mi'raj. Ayat 79 secara spesifik membahas perintah untuk melaksanakan salat di waktu-waktu tertentu sebagai bagian dari ibadah wajib setelah peristiwa agung tersebut.
Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk melaksanakan ibadah salat malam (Tahajjud) sebagai amalan nāfilah (tambahan atau sunnah) di luar salat wajib yang telah ditetapkan sebelumnya.
Perintah dalam Al Isra ayat 79 ini sangat erat kaitannya dengan konteks ayat-ayat sebelumnya yang membahas perintah salat wajib lima waktu (lihat Al Isra ayat 78). Sementara ayat 78 menekankan konsistensi dalam salat fardhu, ayat 79 menambahkan dimensi spiritual yang lebih tinggi, yaitu salat sunnah yang dikerjakan pada malam hari.
Tahajjud adalah salat sunnah yang dikerjakan setelah tidur malam. Dalam konteks ayat ini, Tahajjud disebut sebagai "nāfilah lak" (tambahan bagimu). Ini menunjukkan bahwa meskipun salat wajib sudah mencukupi, keutamaan dan kedekatan dengan Allah dapat dicapai melalui amalan sunnah yang dilakukan dengan ketulusan. Bagi Rasulullah SAW, Tahajjud adalah bentuk pengabdian pribadi yang memperkuat hubungan beliau dengan Sang Pencipta, terutama setelah beliau memikul beban dakwah yang berat.
Keistimewaan Tahajjud terletak pada waktu pelaksanaannya. Malam hari adalah waktu yang hening, jauh dari hiruk pikuk dunia, di mana konsentrasi jiwa dan hati untuk menghadap Allah menjadi lebih sempurna. Ini adalah kesempatan emas untuk 'berbicara' secara intim dengan Allah.
Puncak dari perintah salat malam ini adalah janji Allah: "‘asā an yab‘athaka Rabbuka maqāman mahmūdā", yaitu mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.
Maqam Mahmud adalah kedudukan tertinggi yang dijanjikan Allah kepada Rasulullah SAW. Para ulama tafsir sepakat bahwa Maqam Mahmud ini merujuk pada kedudukan syafaat agung ( syafa'ah al-'uzma) di hari kiamat. Ketika seluruh umat manusia berkumpul dan diliputi kegelisahan, hanya Rasulullah SAW yang diizinkan untuk memberikan syafaat agung kepada umatnya agar perhitungan amal segera dimulai. Ini adalah kehormatan tertinggi yang tidak diberikan kepada nabi dan rasul lainnya.
Ayat ini menegaskan bahwa ketekunan Rasulullah dalam ibadah sunnah, khususnya salat malam, adalah jalur spiritual yang mengantarkan beliau pada kemuliaan abadi tersebut. Hal ini menjadi motivasi besar bagi umat Islam untuk tidak hanya berfokus pada kewajiban, tetapi juga giat dalam ibadah sunnah untuk meraih keridhaan dan kedudukan mulia di sisi Allah.
Meskipun janji Maqam Mahmud secara spesifik ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, semangat dari Al Isra ayat 79 tetap relevan bagi setiap Muslim. Ayat ini mengajarkan beberapa prinsip penting:
Dengan demikian, Al Isra ayat 79 adalah pengingat abadi bahwa ibadah yang tulus, yang dilakukan bahkan di saat dunia sedang terlelap, akan menghasilkan ganjaran yang melampaui imajinasi, yaitu kedudukan terhormat di hadapan Allah SWT.