Representasi visual pesan kebenaran Qur'ani.
Teks Arab dan Transliterasi
Surat Al-Isra (Bani Israil) adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran moral, sejarah, dan hukum. Salah satu ayat yang sangat penting dan sering menjadi landasan etika sosial adalah ayat ke-17, yang berbicara tentang kehancuran umat-umat terdahulu yang menzalimi dan kekejaman mereka terhadap orang-orang yang lemah.
Transliterasi: Wa kam ahlakna minal-quruuni mim ba'di Nuuhin, wa kafaa bi Rabbika bi-dzunuubi 'ibaadihii khabiiran bashiiraa.
Terjemahan Surat Al-Isra Ayat 17
Makna Filosofis Ayat 17 Al-Isra
Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras dari Allah SWT kepada kaum musyrikin Mekah pada masa Rasulullah SAW, sekaligus menjadi pelajaran abadi bagi seluruh umat manusia. Fokus utama ayat ini adalah penekanan akan adanya konsekuensi ilahiah atas kezaliman dan kemaksiatan yang dilakukan secara kolektif oleh suatu generasi.
Frasa "Dan berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sesudah Nuh" menunjukkan bahwa meskipun Nabi Nuh AS adalah salah satu dari para rasul ulul azmi yang membawa pesan tauhid setelah masa-masa awal penciptaan, umat-umat setelahnya juga menghadapi siksaan dan kehancuran karena penolakan mereka terhadap wahyu. Ini menegaskan bahwa peringatan Allah tidak berhenti pada satu generasi saja, tetapi berlaku universal dan berkelanjutan sepanjang sejarah.
Konsep Pembinasaan dan Keadilan Ilahi
Pembinasaan (ihlak) dalam konteks Qur'ani bukanlah sekadar tindakan sewenang-wenang, melainkan manifestasi dari keadilan mutlak Allah (Al-Adl). Pembinasaan ini biasanya terjadi setelah suatu kaum melewati batas toleransi kesabaran ilahi, terutama ketika kezaliman (dhulm) merajalela dan mereka menindas kaum yang lemah serta mendustakan para rasul. Ayat ini mengingatkan bahwa Allah tidak lupa akan perbuatan buruk mereka.
Bagian penutup ayat, "dan cukuplah Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa-dosa hamba-Nya," adalah jaminan ketenangan bagi orang-orang yang beriman dan ancaman bagi para penindas. Pengetahuan Allah (Khabiir) dan Penglihatan-Nya (Bashiir) bersifat absolut. Tidak ada satu pun niat tersembunyi, pengkhianatan halus, atau penindasan yang luput dari pengawasan-Nya. Ayat ini menegaskan bahwa perhitungan amal, sekecil apa pun, pasti akan ditegakkan.
Keterkaitan dengan Ayat Sebelumnya dan Sesudahnya
Ayat 17 ini sangat erat kaitannya dengan ayat sebelumnya, yaitu Al-Isra ayat 16, yang membahas tentang ketika Allah hendak membinasakan suatu negeri, maka Dia akan memerintahkan orang-orang yang bermewah-mewahan (pemimpin yang zalim) di dalamnya untuk berbuat maksiat. Ketika mereka melakukannya, maka kepastian siksa akan datang. Ayat 17 kemudian menjadi konklusi: "Lihatlah, betapa seringnya hal itu terjadi pada umat-umat terdahulu!"
Hal ini menempatkan ayat 17 sebagai penegasan historis dari prinsip penetapan siksa yang dijelaskan di ayat 16. Bagi seorang Muslim, pemahaman ini mendorong sikap introspeksi dan kehati-hatian dalam berinteraksi sosial, menjauhi penindasan, dan selalu menasihati orang lain agar menjauhi perbuatan dosa yang dapat mengundang murka kolektif.
Pelajaran Moral untuk Generasi Kontemporer
Di era modern, di mana kekuatan dan pengaruh sering disalahgunakan untuk menindas yang lemah—baik secara ekonomi, politik, maupun sosial—ayat ini menjadi relevan. Ia mengajarkan bahwa meskipun kezaliman tampak menang dalam jangka pendek, Allah adalah Hakim Agung yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Kehancuran umat-umat terdahulu adalah bukti nyata bahwa kekuatan duniawi tidak menjamin kekekalan jika landasan moral dan keadilan telah runtuh. Oleh karena itu, ayat ini memotivasi umat untuk menegakkan keadilan dan tidak pernah meremehkan dampak dari dosa kolektif, karena pengetahuan Allah tentang setiap kesalahan adalah janji bahwa pertanggungjawaban pasti akan tiba.
Pemahaman mendalam mengenai terjemahan Surat Al-Isra ayat 17 ini seharusnya mendorong setiap individu untuk hidup dengan penuh kesadaran etis, mengingat bahwa sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa Allah tidak akan membiarkan kezaliman berlanjut tanpa adanya perhitungan yang cermat, sebagaimana Dia Maha Mengetahui dan Maha Melihat segalanya.