Kekuatan Pintu Gerbang: Tafsir Al-Isra Ayat 80 & 81

RABBANA AFRIĞ LĪ SABILĀ Jalan Keluar dan Kebenaran Visualisasi permintaan jalan keluar yang jelas dan perlindungan dari kegelapan

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, memuat banyak sekali pelajaran penting mengenai perjalanan hidup manusia, tantangan spiritual, dan janji pertolongan dari Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang sarat makna tersebut, ayat 80 dan 81 memegang peranan krusial, terutama dalam konteks permohonan petunjuk dan penegasan atas kebenaran ilahi. Ayat-ayat ini seringkali dibaca sebagai doa agar diberikan kemudahan dalam urusan dunia dan akhirat.

Permohonan Nabi untuk Jalan yang Lurus (Ayat 80)

وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا 80
"Dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan (atau pertolongan) yang benar.'"

Ayat 80 ini merupakan sebuah doa agung yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Doa ini mencakup tiga pilar utama kehidupan spiritual dan praktis:

  1. Memasuki Kebenaran (Mudkhala Sidqin): Memohon agar setiap langkah awal—baik dalam berdakwah, memulai usaha, atau memasuki situasi baru—dilandasi oleh kejujuran dan kebenaran. Ini adalah permintaan agar segala permulaan yang dilakukan berada di jalur yang diridai Allah.
  2. Keluar dari Kebenaran (Mukhraja Sidqin): Ini bukan sekadar keluar fisik, melainkan keluar dari kesulitan, keluar dari pertempuran dengan kemenangan yang jujur, atau mengakhiri sebuah fase dengan hasil yang terpuji dan bersih dari dosa.
  3. Kekuasaan/Pertolongan yang Benar (Sultanan Nasiro): Permintaan untuk mendapatkan otoritas atau pertolongan yang hakiki dari Allah. 'Sultan' di sini sering ditafsirkan sebagai bukti, hujjah yang kuat, atau dukungan spiritual yang tak terkalahkan oleh kebatilan.
Doa ini sangat relevan bagi setiap Muslim yang menghadapi persimpangan jalan atau memulai perjuangan baru. Ia mengajarkan bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari pencapaian materi, melainkan dari konsistensi berada dalam koridor kebenaran Allah.

Konfirmasi Kebenaran dan Kehancuran Kebatilan (Ayat 81)

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا 81
"Dan katakanlah: 'Kebenaran (Al-Haqq) telah datang, dan kebatilan (Al-Bathil) telah lenyap.' Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."

Ayat 81 menyusul doa di ayat sebelumnya dengan sebuah pernyataan tegas dan deklarasi kemenangan. Ketika seseorang telah memohon petunjuk yang benar (Ayat 80), maka konsekuensinya adalah keyakinan teguh bahwa kebenaran akan selalu menang atas kepalsuan. Ayat ini sering dikaitkan dengan penaklukan Mekkah, di mana simbol-simbol kesyirikan dihancurkan, menandai kemenangan absolut Islam.

Frasa "Innal batila kana zahuqan" (Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap) adalah janji kosmik. Kebatilan, menurut tabiatnya, diciptakan untuk hancur dan tidak memiliki daya tahan jangka panjang. Sebaliknya, Al-Haqq (Kebenaran mutlak) adalah sifat dari Allah SWT, dan karena itu ia kekal.

Dalam konteks kontemporer, ayat ini memberikan kekuatan moral yang luar biasa. Ketika menghadapi isu-isu yang menyesatkan, propaganda yang salah, atau godaan hawa nafsu, seorang mukmin diingatkan bahwa semua itu hanyalah fatamorgana yang akan sirna. Tugas kita adalah teguh berada di posisi kebenaran, terus berjuang, dan memohon pertolongan seperti yang diajarkan dalam ayat 80. Kehadiran kebenaran secara otomatis akan menyingkirkan kegelapan kebatilan, sebagaimana matahari terbit meniadakan kegelapan malam.

Oleh karena itu, Al-Isra ayat 80 dan 81 harus menjadi pegangan harian. Ayat 80 adalah permohonan yang aktif dan penuh harapan, sedangkan ayat 81 adalah penegasan spiritual yang memberikan kepastian hasil akhir. Keduanya saling melengkapi dalam menciptakan seorang pejuang yang tawakal, berhati-hati dalam bertindak, dan yakin akan pertolongan ilahi.

🏠 Homepage