Ilustrasi visualisasi jalan menuju kebenaran dan tujuan yang ditetapkan.
Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau pertolongan yang benar (pembela)."
Ayat ke-80 dari Surah Al-Isra (Bani Israil) ini adalah salah satu doa yang sangat fundamental dan universal dalam Islam. Doa ini diajarkan kepada Nabi Muhammad SAW, meskipun maknanya melampaui konteks spesifik kenabian dan menjadi pedoman bagi setiap Muslim yang menghadapi fase-fase penting dalam hidup, baik permulaan sebuah usaha maupun akhir dari sebuah perjalanan.
Permintaan dalam doa ini terbagi menjadi tiga bagian utama yang saling berkaitan erat.
Permintaan "Masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar" (Adkhilnī mudkhala ṣidqin) merujuk pada permulaan segala sesuatu. Ini bisa berarti masuk ke dalam kota baru, memulai pekerjaan baru, memasuki fase kehidupan baru (seperti pernikahan atau kepemimpinan), atau bahkan masuk ke dalam surga di akhirat. Kata Ṣidq (kebenaran/kejujuran) di sini menekankan bahwa pintu masuk tersebut harus didasari oleh kebenaran, keberkahan, dan ridha Allah, bukan atas dasar tipu muslihat atau kesesatan.
Bagian kedua adalah doa agar dikeluarkan dari keadaan atau tempat dengan cara yang benar (Akhrijnī mukhraja ṣidqin). Jika "masuk" adalah tentang awal, maka "keluar" adalah tentang akhir, resolusi, atau transisi. Ini bisa berarti keluar dari kesulitan, keluar dari suatu wilayah (seperti Hijrah Nabi SAW dari Mekkah), atau keluarnya ruh dari jasad menuju ke alam baka. Keluar yang benar berarti berakhir dengan kemuliaan dan keselamatan, bukan kehinaan atau kegagalan.
Permintaan terakhir adalah memohon agar Allah SWT memberikan kepadanya "pertolongan yang benar" (Sulṭānan Naṣīrā). Pertolongan ini bukanlah kekuasaan duniawi yang sewenang-wenang, melainkan otoritas (kekuatan argumentasi, pembuktian, dan dukungan) yang bersumber langsung dari sisi Allah dan bertujuan untuk menegakkan kebenaran. Ini adalah dukungan ilahi yang memastikan bahwa setiap langkah masuk dan keluar dilakukan dengan kebenaran, didukung oleh kekuatan yang murni dan benar.
Secara keseluruhan, Al Isra ayat 80 adalah doa permohonan agar setiap gerak hidup—dari niat awal hingga hasil akhir—diberkahi, diarahkan, dan dimenangkan oleh kebenaran yang bersumber dari Allah SWT. Ayat ini mengajarkan bahwa manusia harus selalu bergantung penuh pada petunjuk ilahi dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan hidupnya.