Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat yang sarat akan pesan-pesan ilahiah mengenai kebenaran, akidah, dan peringatan bagi umat manusia. Khususnya pada ayat 81 hingga 85, Allah SWT menegaskan tentang kedatangan kebenaran hakiki dan kejatuhan kebatilan, sebuah janji yang selalu berlaku sepanjang masa.
Ayat-ayat ini sering kali dibaca sebagai penegasan bahwa syariat dan risalah Islam adalah kebenaran mutlak yang pasti terwujud, sementara kepalsuan akan lenyap ditelan kebenaran tersebut. Berikut adalah paparan dari ayat-ayat tersebut.
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
(81) Dan katakanlah: "Kebenaran telah datang, dan kebatilan telah lenyap." Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.
Ayat ini merupakan inti dari pesan yang dibawa oleh Rasulullah SAW. "Al-Haqq" (Kebenaran) di sini merujuk pada Islam, Al-Qur'an, dan risalah tauhid yang dibawanya. Ketika kebenaran ini datang dan diterima oleh hati manusia, maka segala bentuk kesesatan, kekufuran, dan kebohongan ('Al-Bathil') akan runtuh dan hilang kekuatannya. Ini adalah janji Allah bahwa kebenaran akan selalu menang atas kepalsuan.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
(82) Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman; dan Al-Qur'an tidak menambah bagi orang-orang yang zalim selain kerugian.
Ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Al-Qur'an bukan hanya pembawa konsep kebenaran, tetapi juga berfungsi sebagai penyembuh. Penyembuhan ini bersifat total: baik penyakit fisik, penyakit hati (keraguan, iri dengki), maupun kerusakan moral dan sosial. Bagi orang beriman, Al-Qur'an adalah rahmat dan penyejuk. Namun, bagi mereka yang menolak dan berbuat zalim, Al-Qur'an justru menjadi hujjah yang memberatkan, menambah kerugian mereka di akhirat.
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا
(83) Dan apabila Kami melimpahkan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menyombongkan diri; dan apabila ia ditimpa kejahatan, ia berputus asa.
Ayat 83 menyoroti sifat kontradiktif pada diri manusia ketika terlepas dari bimbingan wahyu. Ketika mendapat kemudahan dan kekayaan, manusia cenderung lupa diri, sombong, dan berpaling dari Tuhan. Sebaliknya, ketika ditimpa musibah atau kesulitan, sifat putus asa mudah sekali menguasainya karena kurangnya ketergantungan sejati kepada Allah.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
(84) Katakanlah: "Masing-masing berbuat menurut keadaannya (cara yang biasa dilakukannya), maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."
Ayat ini memberikan pedoman kepada Nabi Muhammad SAW dalam berinteraksi dengan orang-orang yang menolak dakwah. Setiap orang akan beramal sesuai dengan kecenderungan watak dan keyakinan yang ia pegang ('syakilatihi'). Tugas Nabi hanyalah menyampaikan dengan jelas; penilaian akhir dan siapa yang benar-benar berada di jalan lurus adalah sepenuhnya hak prerogatif Allah SWT.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
(85) Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit sekali."
Ayat penutup ini menjawab pertanyaan penting yang diajukan kaum musyrik kepada Nabi mengenai hakikat ruh (jiwa). Allah memerintahkan Nabi untuk menjawab bahwa hakikat ruh adalah urusan ilahi yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia secara menyeluruh. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual; betapapun majunya ilmu pengetahuan manusia, batas pemahaman tentang rahasia alam gaib—termasuk ruh—tetaplah sangat terbatas dibandingkan luasnya ilmu Allah.
Kombinasi ayat 81-85 ini menawarkan kerangka spiritual yang kuat. Ayat 81 mengingatkan kita untuk selalu berada di pihak kebenaran dan tidak gentar melihat kebatilan merajalela sesaat. Ayat 82 menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah panduan penyembuhan rohani di tengah kesulitan hidup modern. Sementara ayat 83 hingga 85 mengingatkan kita akan keterbatasan pengetahuan manusia dan perlunya selalu berserah diri kepada kehendak dan ilmu Allah yang Maha Luas.
Dalam menghadapi tantangan zaman, mengingat ayat-ayat ini membantu memfokuskan kembali energi kita pada prinsip kebenaran yang kekal, menjauhi kesombongan saat sukses, dan menerima keterbatasan diri dalam menghadapi misteri alam semesta.