Ilustrasi visual pesan Ilahi
Qul kafā bi-llāhi shahīdan baynī wa baynakum, innahū kāna bi-'ibādihī khabīran baṣīrā.
Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 96 ini menempati posisi krusial dalam penutup pembahasan mengenai mukjizat Al-Qur'an dan tantangan yang diajukan kepada kaum musyrikin Mekkah. Ayat ini berfungsi sebagai penegasan mutlak dari Nabi Muhammad SAW mengenai kebenaran risalahnya, yang didukung oleh kesaksian paling agung di alam semesta: Allah SWT.
Ayat ini muncul setelah serangkaian ayat yang menantang kaum kafir untuk mendatangkan satu surat seperti Al-Qur'an, atau bahkan sepuluh surat, atau satu surat saja. Tantangan ini selalu berakhir dengan kegagalan mereka karena Al-Qur'an adalah wahyu ilahi yang tidak mungkin ditiru oleh manusia mana pun. Dalam konteks penutup tantangan tersebut, Nabi diperintahkan untuk menyatakan kesiapannya menghadapi keraguan mereka dengan bersandar sepenuhnya pada otoritas Ilahi.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Cukuplah Allah menjadi saksi" (كفى بالله شهيدا). Ini adalah pernyataan keyakinan total. Dalam perselisihan atau ketika manusia gagal memahami kebenaran yang dibawa, seorang Nabi tidak perlu mencari saksi lain selain Pencipta alam semesta itu sendiri. Allah adalah saksi yang tidak bisa dibohongi, tidak pernah lupa, dan memiliki pengetahuan yang sempurna atas segala sesuatu yang terucap maupun tersembunyi di hati manusia.
Penekanan ini memiliki beberapa implikasi penting:
Keseluruhan ayat ini mengajarkan umat Islam untuk tidak gentar dalam menyampaikan kebenaran, meskipun dihadapkan pada penolakan besar. Landasan utama kita adalah kebenaran yang disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Al Isra ayat 96 memberikan landasan spiritual yang kuat. Ketika kita merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan atau menghadapi ketidakpercayaan, ayat ini mengingatkan kita bahwa pengawasan dan kesaksian tertinggi selalu menyertai kita. Ini mendorong seorang Muslim untuk: