Kajian Mendalam: Al Isra Ayat 96 (Arab, Latin, dan Makna)

📖 Penegasan Wahyu

Ilustrasi visual pesan Ilahi

Teks Al Isra Ayat 96 (Arab)

قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا

Transliterasi dan Terjemahan

Latin:

Qul kafā bi-llāhi shahīdan baynī wa baynakum, innahū kāna bi-'ibādihī khabīran baṣīrā.

Terjemahan Bahasa Indonesia:

Katakanlah: "Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu sekalian; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."

Konteks dan Kedudukan Ayat

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat 96 ini menempati posisi krusial dalam penutup pembahasan mengenai mukjizat Al-Qur'an dan tantangan yang diajukan kepada kaum musyrikin Mekkah. Ayat ini berfungsi sebagai penegasan mutlak dari Nabi Muhammad SAW mengenai kebenaran risalahnya, yang didukung oleh kesaksian paling agung di alam semesta: Allah SWT.

Ayat ini muncul setelah serangkaian ayat yang menantang kaum kafir untuk mendatangkan satu surat seperti Al-Qur'an, atau bahkan sepuluh surat, atau satu surat saja. Tantangan ini selalu berakhir dengan kegagalan mereka karena Al-Qur'an adalah wahyu ilahi yang tidak mungkin ditiru oleh manusia mana pun. Dalam konteks penutup tantangan tersebut, Nabi diperintahkan untuk menyatakan kesiapannya menghadapi keraguan mereka dengan bersandar sepenuhnya pada otoritas Ilahi.

Makna Mendalam dari Al Isra Ayat 96

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Cukuplah Allah menjadi saksi" (كفى بالله شهيدا). Ini adalah pernyataan keyakinan total. Dalam perselisihan atau ketika manusia gagal memahami kebenaran yang dibawa, seorang Nabi tidak perlu mencari saksi lain selain Pencipta alam semesta itu sendiri. Allah adalah saksi yang tidak bisa dibohongi, tidak pernah lupa, dan memiliki pengetahuan yang sempurna atas segala sesuatu yang terucap maupun tersembunyi di hati manusia.

Penekanan ini memiliki beberapa implikasi penting:

  1. Kebenaran Mutlak Nabi: Kesaksian Allah membatalkan semua tuduhan dusta dari kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad. Jika mereka meragukan kenabiannya, Allah menegaskan bahwa Dia menyaksikan setiap momen kenabiannya.
  2. Sifat Maha Mengetahui (خبيرًا - Khabīran): Allah mengetahui segala sesuatu secara mendalam, termasuk rahasia terdalam hati manusia. Dia mengetahui niat Nabi yang murni dan niat orang-orang yang menentangnya.
  3. Sifat Maha Melihat (بصيرا - Baṣīran): Selain mengetahui, Allah juga melihat segala tindakan. Tidak ada perbuatan, sekecil apapun, yang tersembunyi dari pandangan-Nya. Penglihatan-Nya mencakup apa yang tampak di hadapan manusia (dunia) dan apa yang hanya diketahui oleh Allah (akhirat).

Keseluruhan ayat ini mengajarkan umat Islam untuk tidak gentar dalam menyampaikan kebenaran, meskipun dihadapkan pada penolakan besar. Landasan utama kita adalah kebenaran yang disaksikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pelajaran Praktis untuk Kehidupan

Al Isra ayat 96 memberikan landasan spiritual yang kuat. Ketika kita merasa sendirian dalam memperjuangkan keadilan atau menghadapi ketidakpercayaan, ayat ini mengingatkan kita bahwa pengawasan dan kesaksian tertinggi selalu menyertai kita. Ini mendorong seorang Muslim untuk:

🏠 Homepage