Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran sejarah, moral, dan teologis. Di antara rentetan ayat-ayatnya yang memukau, ayat terakhir sering kali menjadi penutup yang penuh makna dan memberikan fondasi kokoh bagi perilaku seorang Muslim. Ayat terakhir dari surah ini (Al-Isra ayat 111) adalah ringkasan spiritual yang mendalam.
Ayat ini secara eksplisit memerintahkan Rasulullah SAW dan umatnya untuk mengakui keesaan Allah dan menegaskan bahwa selain Dia, tidak ada ilah (Tuhan) yang patut disembah. Ini menegaskan kembali inti risalah Islam: Tauhid. Memahami konteks ayat ini sangat krusial karena ia menutup serangkaian kisah dan peringatan yang telah disampaikan sebelumnya dalam surah tersebut.
Ayat 111 dari Surah Al-Isra berbunyi:
Ayat ini adalah sebuah deklarasi Tauhid yang komprehensif. Ia tidak hanya menyatakan bahwa Allah adalah Esa, tetapi juga menyanggah segala bentuk kesyirikan dan kekurangan yang mungkin disematkan kepada-Nya. Bagi kaum musyrik pada saat itu yang sering menisbahkan anak kepada Allah atau menyembah selain-Nya, ayat ini memberikan bantahan tegas berdasarkan logikanya sendiri.
Bagian pertama ayat tersebut menolak gagasan bahwa Allah memiliki anak. Dalam konteks agama-agama lain yang muncul pada masa itu, penolakan ini sangat fundamental dalam mendefinisikan kemahaesaan Allah. Allah terbebas dari konsep keterbatasan biologis atau kebutuhan akan keturunan.
Lebih lanjut, ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan sekutu dalam kekuasaan-Nya (kerajaan-Nya). Ini berarti tidak ada kekuatan lain yang setara, yang dapat menantang atau berbagi otoritas absolut-Nya atas alam semesta.
Aspek yang sangat penting adalah penegasan bahwa Allah tidak memerlukan penolong karena kelemahan-Nya. Ini adalah pujian yang paling meninggikan (tasbih). Semua makhluk, tanpa terkecuali, membutuhkan pertolongan dan dukungan dari pihak lain ketika merasa lemah. Sebaliknya, Allah, dalam kesempurnaan-Nya yang mutlak, adalah Yang Maha Kuat, Maha Mandiri (Al-Ghani), dan tidak pernah mengalami kelemahan. Pujian ini mengikis segala bentuk pemikiran antropomorfik (menggambarkan Tuhan seperti manusia) yang sering menjangkiti pemikiran manusia.
Setelah menetapkan kemahaesaan dan kesempurnaan Allah, ayat ini diakhiri dengan perintah: "dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." Kata "takbīran" (pengagungan yang sebesar-besarnya) menunjukkan intensitas dan kualitas pemujaan yang harus diberikan. Ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan pengakuan tulus dari lubuk hati terdalam.
Ayat terakhir Al-Isra berfungsi sebagai kesimpulan penutup dari seluruh ajaran yang ada dalam surah tersebut. Setelah membahas Isra Mi'raj, larangan berbuat kejahatan, etika sosial, hingga peringatan tentang kebangkitan, Muslim diingatkan kembali pada fokus utama eksistensi mereka: memuji dan mengagungkan Zat Yang Maha Sempurna, Yang tidak membutuhkan apa pun dari makhluk-Nya, namun layak menerima segala pujian. Ayat ini memberikan energi spiritual agar seorang mukmin selalu berada dalam keadaan syukur dan kesadaran akan kebesaran Ilahi, sebuah sikap yang harus dipegang teguh hingga akhir hayat.
Wallahu a'lam bish-shawab.