Peristiwa Isra dan Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini bukan sekadar peristiwa fisik biasa, melainkan sebuah pengalaman spiritual mendalam yang menguatkan keimanan beliau di tengah kesulitan dakwah. Isra merujuk pada perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi'raj adalah kenaikan Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsa menuju tingkatan langit ketujuh dan Sidratul Muntaha.
Kejadian ini diceritakan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra (Al-Isra' ayat 1), yang menegaskan kebenaran peristiwa perjalanan malam tersebut. Peristiwa ini terjadi pada periode yang sangat krusial dalam sejarah kenabian, yaitu setelah tahun-tahun penuh kesedihan ('Amul Huzn), di mana Nabi Muhammad SAW kehilangan pelindung utama, yaitu Siti Khadijah dan pamannya, Abu Thalib.
Ilustrasi simbolik perjalanan Isra Mi'raj.
Isra dimulai ketika Nabi Muhammad SAW tidur di rumah Ummu Hani. Beliau didatangi Malaikat Jibril dan dibersihkan hatinya. Selanjutnya, beliau menaiki hewan tunggangan luar biasa bernama Buraq, yang kecepatannya melebihi pandangan mata. Buraq membawa beliau melintasi padang pasir hingga tiba di Masjidil Aqsa, Yerusalem. Di sana, beliau bertemu dan menjadi imam salat bagi para nabi terdahulu.
Para ulama menafsirkan Isra ini sebagai penghubung fisik dan spiritual. Secara fisik, ini menunjukkan kebesaran Allah yang mampu memendekkan jarak ribuan mil dalam semalam. Secara spiritual, ini adalah penegasan posisi kenabian Muhammad SAW di antara para Rasul sebelum beliau.
Setelah beristirahat sejenak di Al-Aqsa, dimulailah Mi'raj, perjalanan vertikal ke atas. Nabi Muhammad SAW melewati lapisan demi lapisan langit. Pada setiap tingkatan langit, beliau bertemu dengan para nabi besar lainnya. Di langit pertama bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Yahya dan Isa, dan seterusnya. Interaksi ini menegaskan kesinambungan risalah para nabi.
Puncak Mi'raj adalah ketika Nabi SAW mencapai Sidratul Muntaha, pohon bidara agung yang menjadi batas akhir pengetahuan makhluk. Di sanalah Allah SWT memfardhukan salat lima waktu sehari semalam bagi umat Islam. Perintah ini turun langsung, tanpa perantara, sebagai hadiah tertinggi bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Kepulangan Nabi SAW disambut dengan keraguan dari kaum Quraisy. Namun, beliau mampu menjelaskan detail Masjidil Aqsa dan Baitul Maqdis secara akurat, yang sebelumnya belum pernah beliau kunjungi secara fisik. Ini menjadi bukti nyata atas kebenaran risalah beliau.
Esensi dari Isra Mi'raj adalah tiga hal utama: pertama, penetapan salat wajib, yang merupakan tiang utama agama. Kedua, penguatan keyakinan Nabi SAW bahwa di balik kesulitan pasti ada pertolongan Ilahi yang luar biasa. Ketiga, menunjukkan bahwa kedudukan Nabi Muhammad SAW adalah tertinggi di antara seluruh ciptaan Allah SWT. Kisah al isra full ini tetap menjadi sumber inspirasi akan keagungan kuasa Tuhan.