Menguak Keajaiban Isra: Bacaan Latin dan Arti

Simbol Perjalanan Malam Cahaya

Pengantar Isra Mi'raj dalam Islam

Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Isra merujuk pada perjalanan malam beliau dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sementara Mi'raj adalah naiknya Nabi dari Yerusalem menuju langit ketujuh, bahkan hingga ke Sidratul Muntaha, tempat yang tidak bisa dijangkau oleh pengetahuan manusia biasa.

Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam, tidak hanya sebagai perjalanan fisik, tetapi juga sebagai perjalanan spiritual mendalam yang meneguhkan kedudukan beliau sebagai Rasul terakhir. Pemahaman mengenai kisah ini seringkali memerlukan rujukan langsung, baik dalam bentuk teks Arab asli maupun transliterasi Latin yang memudahkan pembacaan bagi mereka yang belum fasih membaca huruf Arab.

Fokus pada Ayat Terkait Isra

Kisah Isra disebutkan secara ringkas namun padat dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surah Al-Isra, ayat pertama. Ayat ini menjadi dasar utama bagi seluruh umat Islam dalam memahami mukjizat perjalanan malam tersebut.

QS. Al-Isra (17:1) - Bacaan Latin

"Subhānalladhī asrā bi 'abdihi laylan minal Masjidil Ḥarāmi ilal Masjidil Aqṣal-ladhī bāraknā ḥawlahu linuriyahu min āyātinā, innahu Huwas-Samī'ul-Baṣīr."

Arti dan Penjelasan

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini menegaskan tiga poin kunci: Pertama, pengakuan atas keesaan Allah (Subhānallāh) yang mampu melakukan hal luar biasa. Kedua, penegasan bahwa perjalanan dilakukan pada "laylan" (suatu malam) kepada "abdihi" (hamba-Nya), yaitu Nabi Muhammad SAW. Ketiga, tujuan utama perjalanan ini adalah untuk menunjukkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi.

Implikasi Spiritual dari Isra

Meskipun ayat tersebut secara eksplisit membahas perjalanan fisik dari Mekkah ke Yerusalem (Isra), esensi dari peristiwa ini jauh melampaui batas geografis. Para ulama menafsirkan bahwa perjalanan ini merupakan penyegaran rohani bagi Nabi Muhammad SAW setelah menghadapi penolakan keras di Thaif dan kesedihan atas wafatnya Khadijah serta pamannya, Abu Thalib.

Perjalanan Isra, khususnya, menunjukkan pentingnya kota Yerusalem (Al-Aqsa) sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama. Keberadaan Masjidil Aqsa dalam mukjizat ini mengukuhkan kedudukan Yerusalem dalam sejarah kenabian.

Perbedaan Isra dan Mi'raj

Seringkali Isra dan Mi'raj disebut bersamaan, namun keduanya memiliki makna yang berbeda, meskipun merupakan satu kesatuan peristiwa yang tak terpisahkan. Isra adalah perjalanan horizontal, sedangkan Mi'raj adalah perjalanan vertikal.

Mi'raj memberikan kesempatan bagi Nabi untuk bertemu dengan para nabi terdahulu di setiap tingkatan langit, sekaligus menerima perintah shalat lima waktu yang menjadi tiang agama Islam, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis sahih.

Tanda Kebesaran Allah yang Terlihat

Kalimat "linuriyahu min āyātinā" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami) dalam Surah Al-Isra ayat 1 memberikan landasan bahwa peristiwa ini penuh dengan pelajaran ilahiyah. Tanda-tanda ini mencakup:

  1. Kemampuan menempuh jarak yang sangat jauh dalam waktu singkat.
  2. Melihat langsung kondisi umat terdahulu dan bagaimana mereka diperlakukan karena perbuatan mereka.
  3. Menerima perintah ibadah fundamental (shalat) langsung dari Allah SWT di tingkatan tertinggi.

Memahami dan merenungkan makna di balik transliterasi Latin Surah Al-Isra ayat 1 ini akan semakin memperkuat iman seorang Muslim terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang Maha Mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu.

🏠 Homepage