Surah Al-Waqi'ah adalah salah satu surah yang paling mulia dalam Al-Qur'an, menempati urutan ke-56. Nama surah ini sendiri, yang berarti 'Hari Kiamat' atau 'Peristiwa yang Pasti Terjadi', sudah memberikan indikasi yang jelas mengenai fokus utama dari keseluruhan kandungannya. Surah ini diturunkan di Makkah (Makkiyah) sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah. Periode Makkiyah dikenal dengan fokusnya yang kuat pada penegasan tauhid, kebangkitan setelah mati, dan penggambaran detail tentang Hari Pembalasan.
Inti dari Surah Al-Waqi'ah adalah memberikan peringatan yang tegas dan gambaran yang sangat hidup mengenai transisi dari kehidupan dunia yang fana menuju kehidupan akhirat yang abadi. Ia berfungsi sebagai pengingat mendalam bahwa kenikmatan atau penderitaan di akhirat adalah konsekuensi langsung dari amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia selama masa hidupnya di dunia ini. Penggambaran yang disajikan sangatlah rinci, memberikan kesan nyata tentang kengerian peristiwa Kiamat serta kenikmatan luar biasa yang menanti para penghuni surga dan siksaan pedih yang dialami penghuni neraka.
Sebelum kita menyelami detail keutamaan dan kandungan tafsirnya yang luas, mari kita tetapkan terlebih dahulu jawaban pasti atas pertanyaan pokok yang menjadi tema sentral pembahasan ini. Pengetahuan akan jumlah ayat bukan sekadar angka, melainkan kunci untuk memahami bagaimana struktur naratif Surah ini disusun untuk memberikan dampak psikologis dan spiritual yang maksimal kepada pembacanya.
Menurut kesepakatan ulama dan mushaf standar yang digunakan secara luas di seluruh dunia Islam, termasuk riwayat Hafs dari Ashim (yang paling umum), Surah Al-Waqi'ah terdiri dari:
(Sembilan Puluh Enam Ayat)
Jumlah 96 ayat ini bukanlah sekadar angka acak. Setiap ayat memiliki peran penting dalam membangun narasi Surah ini, mulai dari pernyataan gempa dahsyat yang mengubah tatanan alam semesta (ayat 1-7), pembagian manusia menjadi tiga golongan (ayat 8-56), hingga bukti-bukti kekuasaan Allah yang diambil dari fenomena alam sehari-hari (ayat 57-74), dan diakhiri dengan peringatan tentang sakaratul maut dan kepastian pembalasan (ayat 75-96).
Pembahasan mengenai 96 ayat ini akan membawa kita pada pemahaman bahwa Surah Al-Waqi'ah, meskipun relatif pendek dibandingkan dengan surah-surah panjang lainnya seperti Al-Baqarah, memiliki kepadatan makna yang luar biasa. Struktur 96 ayat ini dirancang dengan presisi untuk membagi dan mengelompokkan pesan-pesan utama, sehingga memudahkan pembaca untuk menyerap hikmah dan mengambil pelajaran dari setiap segmennya. Dari 96 ayat ini, kira-kira separuhnya didedikasikan untuk mendeskripsikan kehidupan para golongan yang beruntung dan golongan yang merugi.
Bagian awal dari Surah Al-Waqi'ah (ayat 1-8) langsung menyentak kesadaran pembaca. Allah memulai Surah ini dengan penegasan mutlak: "Apabila terjadi Hari Kiamat (Al-Waqi'ah), tidak seorang pun dapat mendustakan kejadiannya." Ayat-ayat pembuka ini merupakan fondasi narasi, menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah kepastian yang tidak bisa dielakkan. Al-Waqi'ah bukan sekadar kemungkinan, melainkan suatu keniscayaan.
Alt: Ilustrasi Gempa Besar yang Mewakili Hari Kiamat
Digambarkan pula bagaimana bumi digoncangkan dengan dahsyat, gunung-gunung dihancurkan hingga menjadi debu yang beterbangan. Transformasi kosmis ini menandai berakhirnya tatanan fisik dunia. Goncangan tersebut, yang dalam ayat-ayat lain disebut sebagai *Rajfah*, benar-benar membalikkan segala kemapanan. Dari total 96 ayat, bagian awal ini mengunci perhatian, memaksa pembaca untuk merenungkan kelemahan diri di hadapan kekuatan Allah yang tak terbatas. Delapan ayat pertama ini menyajikan sebuah prolog yang menegangkan dan monumental, mengatur nada untuk seluruh sisa Surah.
Setelah menggambarkan kengerian Kiamat, Surah Al-Waqi'ah beralih pada konsekuensi yang paling penting: pemisahan manusia menjadi tiga kelompok yang berbeda. Hampir separuh dari keseluruhan 96 ayat, yaitu dari ayat 9 hingga 56, didedikasikan untuk mendeskripsikan secara rinci siapa mereka, apa yang mereka lakukan di dunia, dan apa balasan yang mereka terima di akhirat. Pengelompokan ini adalah jantung teologis Surah ini.
Mereka adalah golongan yang paling mulia, orang-orang yang senantiasa bersegera dalam kebaikan. Mereka tidak hanya melaksanakan kewajiban, tetapi juga unggul dalam amalan sunnah dan meninggalkan perkara syubhat. Mereka adalah pahlawan spiritual yang memimpin dalam setiap medan kebaikan. Surah ini menjelaskan bahwa jumlah mereka sedikit dari umat terdahulu dan juga sedikit dari umat yang akhir ini. Ayat-ayat yang mendeskripsikan mereka memberikan gambaran tentang kemewahan spiritual dan materi yang tak terbayangkan.
Tempat tinggal mereka di Jannah (Surga) adalah di 'Arsy yang tertinggi. Mereka akan berbaring di atas dipan-dipan bertahta emas dan permata. Kenikmatan yang disajikan kepada mereka meliputi hidangan buah-buahan yang tidak pernah habis dan minuman yang murni tanpa memabukkan. Mereka dikelilingi oleh pemuda-pemuda abadi yang siap melayani, dan istri-istri mereka adalah bidadari-bidadari yang suci, indah, dan belum pernah disentuh oleh manusia maupun jin. Ayat-ayat ini, yang menyebar dalam Surah tersebut, menekankan keabadian kenikmatan dan ketiadaan rasa lelah atau bosan. Mereka ini mencapai tingkatan tertinggi dari total 96 ayat yang ada.
Ganjaran yang diberikan kepada *As-Sabiqun* adalah penegasan bahwa setiap pengorbanan dan kecepatan mereka dalam beramal shalih di dunia dibalas dengan balasan yang jauh melampaui harapan. Keberadaan mereka adalah representasi tertinggi dari janji Allah.
Golongan Kanan adalah mayoritas dari orang-orang beriman yang berhasil melewati timbangan amal dengan hasil positif. Mereka adalah orang-orang yang menjalankan kewajiban dengan baik, menjauhi larangan, dan tidak menzalimi diri sendiri secara berlebihan. Mereka adalah kelompok yang disebut "Ashab Al-Maimanah," yang secara harfiah berarti 'golongan keberuntungan' atau 'golongan yang memegang catatan amal di tangan kanan'.
Deskripsi Surga bagi Golongan Kanan juga sangat rinci, meskipun berbeda tingkatan dengan *As-Sabiqun*. Mereka berada di antara pohon-pohon yang tidak berduri, di bawah naungan yang memanjang, dekat dengan air yang mengalir terus-menerus. Buah-buahan yang disajikan berlimpah ruah, mudah dijangkau. Mereka ditempatkan di tempat tidur yang ditinggikan, bersama pasangan-pasangan yang diciptakan kembali dalam keadaan suci dan penuh cinta. Ayat-ayat mengenai *Ashab Al-Maimanah* ini menunjukkan rahmat Allah yang meluas, memberikan balasan yang sesuai bagi mereka yang menjaga batas-batas syariat.
Perbedaan detail antara deskripsi Surga bagi *As-Sabiqun* dan *Ashab Al-Maimanah* dalam Surah Al-Waqi'ah berfungsi untuk memotivasi setiap Muslim untuk berusaha mencapai tingkatan tertinggi. Surah ini menggunakan 96 ayat untuk memberikan spektrum yang lengkap mengenai konsekuensi dari pilihan hidup.
Golongan Kiri, atau *Ashab Al-Mash'amah*, adalah mereka yang celaka, yang catatan amalnya diberikan di tangan kiri mereka. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Hari Kebangkitan, berbuat syirik, dan hidup dalam kemaksiatan tanpa bertaubat. Bagian dari 96 ayat Surah Al-Waqi'ah ini memberikan peringatan yang sangat keras dan gambaran neraka yang mengerikan sebagai akibat dari pilihan mereka mendustakan kebenaran.
Kontrasnya sangat tajam. Jika Golongan Kanan berada di bawah naungan yang memanjang, Golongan Kiri berada di tengah angin yang sangat panas dan air yang sangat mendidih. Mereka tidak mendapatkan ketenangan, hanya kabut hitam yang menyelimuti. Makanan mereka adalah pohon *Zaqqum*, pohon yang tumbuh di dasar Neraka Jahim, yang buahnya sangat pahit dan melukai tenggorokan. Mereka dipaksa minum air yang mendidih hingga usus mereka terputus-putus. Keterangan ini menegaskan kepastian balasan bagi para pendusta.
Ayat 45 menyebutkan akar kesalahan mereka: "Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewahan." Ini menunjukkan bahwa kemewahan duniawi yang melalaikan adalah jebakan yang membuat mereka lupa akan tujuan akhir. Gambaran neraka yang disajikan melalui ayat-ayat Surah Al-Waqi'ah ini tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti semata, melainkan untuk memberikan kejelasan mutlak tentang pertanggungjawaban yang harus dipikul oleh setiap individu.
Di samping ketegasan isinya mengenai Hari Kiamat, Surah yang terdiri dari 96 ayat ini memiliki keutamaan yang sangat terkenal dalam tradisi Islam, terutama terkait dengan rezeki (kekayaan dan penghidupan). Meskipun beberapa hadis yang secara spesifik menyebutkan fadhilah ini mungkin menjadi bahan diskusi dalam ilmu hadis, praktik membaca Surah Al-Waqi'ah telah menjadi tradisi yang kuat di kalangan umat Islam selama berabad-abad sebagai sarana memohon kelapangan rezeki dan menjauhkan kefakiran.
Keyakinan ini bersumber dari pemahaman bahwa Surah ini adalah pengingat akan kekuasaan Allah yang tak terbatas, yang mampu memberikan rezeki dari sumber yang tak terduga. Dengan merenungkan 96 ayat yang berbicara tentang janji balasan, seorang hamba diingatkan bahwa Allah adalah Al-Ghaniy (Maha Kaya) dan Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki). Pembacaan Surah ini menjadi bentuk tawakal dan pengakuan atas kebergantungan total kepada Sang Pencipta.
Keutamaan ini menjadikan Surah Al-Waqi'ah sering dibaca pada waktu-waktu tertentu, terutama setelah Shalat Maghrib atau sebelum tidur. Konsistensi dalam membaca Surah yang 96 ayat ini dipercaya akan membawa ketenangan batin, karena seseorang telah menyerahkan urusan rezekinya kepada Dzat yang memegang kendali atas segala sesuatu.
Setelah selesai dengan narasi tentang Hari Kiamat dan pembagian tiga golongan, Surah Al-Waqi'ah beralih ke argumentasi filosofis yang kuat, menggunakan alam semesta dan kehidupan sehari-hari sebagai bukti nyata akan kemampuan Allah untuk menciptakan dan membangkitkan kembali. Bagian ini, yang merupakan sekitar seperlima dari total 96 ayat, sangat penting karena menghubungkan iman kepada Hari Akhir dengan logika penciptaan.
Ayat-ayat ini menantang manusia: "Apakah kamu memperhatikan apa yang kamu pancarkan?" Merujuk pada proses penciptaan manusia dari setetes air mani yang hina. Jika Allah mampu menciptakan bentuk yang sempurna dari materi yang begitu sederhana, sungguh Dia lebih mampu lagi untuk mengembalikannya setelah kematian. Tantangan ini menegaskan bahwa kebangkitan kembali bukan hal yang mustahil bagi Pencipta.
Surah ini kemudian mempertanyakan: "Apakah kamu yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya?" Ini merujuk pada tanaman yang menjadi sumber makanan utama manusia. Manusia hanya menabur benih, tetapi proses kehidupan, kesuburan tanah, dan datangnya hujan adalah kehendak Allah. Ayat-ayat ini mengingatkan bahwa rezeki dan kehidupan sepenuhnya berada di tangan-Nya. Jika Dia berkehendak, Dia bisa membuat tanaman itu kering dan hancur, dan manusia hanya bisa menyesal.
Air, sumber kehidupan yang paling mendasar, juga dijadikan bukti. "Apakah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Apakah kamu yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?" Air yang turun dari langit, meskipun terlihat alami, adalah hasil dari proses kosmik yang dikendalikan oleh kekuatan ilahi. Tanpa air hujan, kehidupan akan musnah. Surah Al-Waqi'ah memanfaatkan bukti ini untuk membuktikan bahwa Allah, yang menguasai siklus air, pasti menguasai siklus kehidupan dan kematian.
Bukti terakhir adalah api: "Apakah kamu memperhatikan api yang kamu nyalakan (dengan menggosokkan kayu)? Apakah kamu yang menjadikan kayu itu ataukah Kami yang menjadikannya?" Api adalah alat esensial bagi peradaban, namun bahan bakarnya (kayu) adalah ciptaan Allah. Ayat ini menghubungkan api duniawi dengan api Neraka Jahim yang digambarkan sebelumnya, menjadikannya peringatan yang sangat nyata. Keseluruhan delapan belas ayat (57-74) ini dirangkai untuk memberikan argumen yang tak terbantahkan, memperkuat keimanan yang didasari pada 96 ayat secara keseluruhan.
Bagian penutup Surah, yang terdiri dari 22 ayat terakhir (75-96), memberikan kesimpulan yang sangat kuat dan mengharukan, kembali menegaskan kebenaran Qur'an dan kepastian kematian.
Salah satu sumpah paling megah dalam Al-Qur'an terdapat di sini: "Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Dan sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar, sekiranya kamu mengetahui. Sesungguhnya ia (Al-Qur'an) ini adalah bacaan yang sangat mulia." Allah bersumpah menggunakan ciptaan-Nya yang paling luas dan rumit, yaitu lintasan bintang di alam semesta (Mawaqi'in Nujum), untuk menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang suci, yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Sumpah ini memberikan bobot tak tertandingi pada pesan-pesan yang terkandung dalam 96 ayat Surah Al-Waqi'ah.
Alt: Ilustrasi Bintang dan Lingkaran Kosmik
Ayat-ayat ini secara implisit menolak klaim kaum musyrikin Makkah yang menuduh Al-Qur'an sebagai karangan manusia. Dengan total 96 ayat, Surah ini berhasil menyatukan kosmologi, teologi, dan etika dalam satu kesatuan yang kohesif.
Bagian akhir ini sangat personal dan menghujam. Surah Al-Waqi'ah membawa perhatian pada momen yang tak terhindarkan: sakaratul maut. Saat nyawa sampai di kerongkongan, dan kerabat berkumpul dalam keputusasaan, manusia tidak berdaya. Allah bertanya, "Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat?"
Ayat ini berfungsi sebagai refleksi dari ketidakberdayaan manusia. Pada momen paling krusial, manusia tidak dapat mengembalikan nyawa ke tempatnya. Bagian dari 96 ayat ini memperkuat argumen bahwa kekuasaan mutlak berada di tangan Allah. Jika mereka benar-benar tidak akan dibangkitkan, mengapa mereka tidak mengembalikan saja nyawa yang sedang dicabut itu?
Surah ini mencapai puncaknya dengan ringkasan nasib ketiga golongan yang telah dijelaskan secara rinci di bagian tengah. Ayat 88-91 merangkum nasib *As-Sabiqun* dan *Ashab Al-Maimanah*, dengan janji ketenangan, rezeki yang baik, dan keselamatan. Sebaliknya, ayat 92-94 merangkum nasib *Ashab Al-Mash'amah* dengan siksaan dari air panas, api yang membakar, dan Neraka Jahim. Akhirnya, Surah ditutup dengan dua ayat yang menegaskan kebenaran mutlak:
Ayat 95: "Sesungguhnya ini benar-benar keyakinan yang yakin (haqqul yaqin)."
Ayat 96: "Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar."
Penutup yang terdiri dari 96 ayat ini bukan hanya sekadar akhir; ia adalah panggilan untuk bertasbih, sebuah respons langsung dan wajib terhadap semua kebenaran dan kekuasaan yang telah diuraikan dalam keseluruhan Surah.
Untuk memahami mengapa Surah Al-Waqi'ah disusun menjadi tepat 96 ayat, kita perlu melihat bagaimana Surah ini mengalir secara logis dan tematik. Kepadatan makna dalam setiap segmen menunjukkan efisiensi bahasa Qur'an. Struktur 96 ayat ini bisa dibagi menjadi empat kuadran utama, yang masing-masing mendukung argumen inti:
Total 96 ayat ini memungkinkan Surah tersebut untuk memberikan detail yang sangat kaya mengenai keadaan Surga dan Neraka, tanpa menjadi terlalu panjang sehingga mengurangi daya kejutnya. Penggambaran detail tentang bidadari, buah-buahan, dan minuman dalam Surga, yang mengambil banyak dari 96 ayat, sangat penting untuk memotivasi orang beriman. Sebaliknya, detail tentang air mendidih dan pohon Zaqqum bertujuan untuk menanamkan rasa takut yang sehat.
Struktur 96 ayat ini memastikan bahwa tidak ada bagian dari keyakinan esensial—tauhid, kenabian, dan Hari Akhir—yang terlewatkan. Dari guncangan bumi hingga sumpah bintang, setiap ayat dirangkai untuk mencapai tujuan tunggal: memurnikan hati dan menguatkan iman terhadap hari yang pasti terjadi.
Dalam konteks keutamaan rezeki yang sering dikaitkan dengan Surah Al-Waqi'ah, jumlah 96 ayat ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan kelapangan duniawi dan akhirat, diperlukan pemahaman dan perenungan yang mendalam atas setiap janji dan peringatan. Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga ketenangan batin, yang merupakan buah dari keimanan yang kokoh terhadap 96 ayat yang disajikan.
Untuk memenuhi kedalaman pembahasan terkait Surah yang memiliki 96 ayat ini, kita perlu fokus lebih jauh pada kekayaan deskripsi yang Allah berikan untuk dua golongan yang beruntung. Deskripsi ini bukan hanya metafora; ia menjanjikan kenikmatan yang melampaui imajinasi manusia, mencakup aspek fisik, emosional, dan spiritual. Ayat-ayat Surah Al-Waqi'ah memberikan spektrum yang komprehensif mengenai balasan yang disiapkan.
Ayat 17 dan seterusnya memberikan gambaran tentang pelayanan dan suasana di Surga. Para pelayan (wildanun mukhalladun) digambarkan selalu muda dan melayani seperti mutiara yang terserak. Kehadiran para pelayan ini, yang dijamin keabadian dan kesempurnaannya, menyingkirkan segala bentuk kerepotan duniawi. Hal ini merupakan kontras langsung terhadap kehidupan dunia yang penuh dengan kerja keras dan pelayanan yang melelahkan. Dalam 96 ayat, Allah memastikan bahwa di Surga, segala kebutuhan terpenuhi tanpa usaha.
Mereka disajikan gelas berisi minuman yang berasal dari mata air yang mengalir. Penting untuk dicatat bahwa minuman ini tidak menyebabkan sakit kepala, tidak membuat mabuk, dan tidak membuat kehilangan akal sehat. Ini adalah penyucian kenikmatan duniawi, di mana kenikmatan fisik tetap ada, tetapi konsekuensi negatifnya dihilangkan sama sekali. Perenungan terhadap detail-detail dalam 96 ayat ini harus mengarah pada upaya maksimalisasi amal shalih.
Salah satu aspek yang paling ditekankan dalam Surah Al-Waqi'ah adalah pasangan hidup di Surga. Allah menggambarkan bidadari yang diciptakan khusus, yang matanya jelita dan terpelihara, layaknya mutiara yang tersimpan baik. Bagi para pria beriman, istri-istri mereka di dunia akan diciptakan kembali dalam kondisi yang paling sempurna, suci, dan penuh kasih sayang.
Ayat 35 hingga 37 secara spesifik menyebutkan bahwa Allah menciptakan mereka (istri-istri di Surga) dengan ciptaan yang baru. Mereka dijadikan perawan kembali, penuh cinta dan sebaya usianya. Ini adalah balasan yang sangat spesifik dan intim bagi ketaatan mereka. Deskripsi ini menempati porsi yang signifikan dari 96 ayat untuk menunjukkan bahwa kenikmatan Surga mencakup dimensi spiritual dan hubungan yang paling personal.
Sama pentingnya dengan deskripsi Surga, Surah Al-Waqi'ah menggunakan beberapa ayat yang sangat tajam untuk menggambarkan penderitaan Golongan Kiri, yang meliputi ayat 41 hingga 56. Penggunaan kata-kata yang mendalam dalam 96 ayat ini menciptakan gambaran yang sangat kontras.
Mereka berada dalam 'Samum' dan 'Hamim'. Samum adalah angin panas yang menusuk hingga ke tulang, dan Hamim adalah air yang sangat mendidih. Mereka minum dari air Hamim ini seperti unta yang kehausan dan tidak dapat dihentikan. Hal ini bukan sekadar penderitaan fisik; itu adalah penderitaan yang berkelanjutan dan tak terhindarkan, sebuah kebalikan total dari air minum murni yang disajikan bagi Golongan Kanan.
Ayat 52 menyebutkan makanan mereka adalah pohon Zaqqum. Buah Zaqqum digambarkan sebagai makanan yang harus mereka telan, mengisi perut mereka layaknya makanan wajib, meskipun sangat menjijikkan dan menyakitkan. Ini adalah hukuman yang menargetkan aspek paling dasar dari kehidupan, yaitu nutrisi. Setiap tegukan dan gigitan di Neraka adalah siksaan. Perbandingan antara buah-buahan Surga yang lezat dengan Zaqqum yang pahit dan merusak adalah puncak dari kontras yang disajikan dalam Surah yang memiliki 96 ayat ini.
Penyebab utama penderitaan mereka diringkas di ayat 45-47: mereka hidup bermewah-mewahan dan bersikeras melakukan dosa besar (mendustakan Hari Akhir dan berkata, "Apakah apabila kami telah mati dan menjadi tanah serta tulang belulang, apakah kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?"). Keengganan mereka untuk menerima kebenaran dan kemewahan yang melalaikan adalah kunci kehancuran mereka. Surah Al-Waqi'ah dengan 96 ayatnya memberikan peringatan keras bahwa kenikmatan duniawi tidak boleh menjadi penghalang bagi pengenalan akan kebenaran akhirat.
Ketika Allah bersumpah dengan 'Mawaqi'in Nujum' (tempat-tempat beredarnya bintang-bintang) di ayat 75, ini memberikan dimensi kosmik yang sangat mendalam. Tafsir modern sering mengaitkan sumpah ini dengan konsep astronomi yang luas. Bintang yang kita lihat hari ini mungkin sudah lama mati, dan yang kita saksikan hanyalah "tempat jatuhnya" cahaya bintang tersebut di masa lalu.
Sumpah ini menegaskan bahwa Allah mengendalikan hukum-hukum alam semesta yang sangat kompleks dan jauh melampaui pemahaman manusia. Mengapa Allah bersumpah dengan hal yang begitu agung hanya untuk menegaskan kebenaran Al-Qur'an? Karena kebenaran Al-Qur'an harus memiliki bobot yang setara dengan keagungan alam semesta. Surah yang terdiri dari 96 ayat ini secara halus menyematkan pengetahuan kosmik untuk mendukung klaim ilahiahnya.
Hubungan antara api duniawi (ayat 71-73) dan api Neraka juga merupakan analogi yang kuat. Allah tidak hanya menciptakan api yang menghangatkan dan memasak, tetapi juga api yang menghancurkan. Kemampuan-Nya untuk menciptakan api yang bermanfaat di dunia adalah bukti kemampuan-Nya untuk menciptakan api yang menyiksa di akhirat. Seluruh narasi 96 ayat ini adalah panggilan untuk menggunakan akal sehat dan merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah.
Lebih dari sekadar deskripsi Surga dan Neraka, Surah Al-Waqi'ah memberikan panduan etis yang jelas, terangkum dalam perbandingan tiga golongan. Etika yang diajarkan oleh 96 ayat ini adalah etika percepatan dan keikhlasan.
Golongan pertama mengajarkan pentingnya menjadi yang terdepan dalam kebaikan (*As-Sabiqun*). Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti tidak menunda ibadah, cepat bertaubat dari dosa, dan selalu mencari kesempatan untuk berbuat amal shalih. Kualitas ini membedakan mereka dari sekadar melakukan kewajiban, menempatkan mereka di tingkatan tertinggi dalam sistem 96 ayat ini.
Golongan kedua mewakili prinsip keseimbangan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani hidup dengan memegang teguh kewajiban, sebuah model yang paling dapat dicapai oleh mayoritas umat manusia. Pelajaran etisnya adalah konsistensi dalam melaksanakan rukun Islam dan menjauhi dosa besar. Ini menunjukkan bahwa rahmat Allah terbuka lebar bagi mereka yang berusaha menjaga jalan tengah.
Pelajaran etis dari Golongan Kiri adalah menghindari kelalaian yang diakibatkan oleh kemewahan. Surah yang berjumlah 96 ayat ini memberikan peringatan bahwa jika harta dan kenyamanan dunia membuat seseorang lupa akan kematian dan kebangkitan, maka harta tersebut justru menjadi musuh. Etika Islam menuntut agar kekayaan digunakan sebagai sarana menuju Surga, bukan sebagai tujuan akhir.
Sebagai kesimpulan atas analisis mendalam terhadap keseluruhan 96 ayat, Surah Al-Waqi'ah adalah sebuah cetak biru kehidupan yang sukses. Ia memberikan motivasi melalui janji kenikmatan, menanamkan rasa takut melalui deskripsi azab, dan menguatkan iman melalui bukti-bukti alam semesta. Konsistensi dalam memahami dan mengamalkan isi 96 ayat ini adalah kunci untuk mencapai keberuntungan yang abadi dan kelapangan rezeki yang dijanjikan di dunia ini.
Setiap bagian dari 96 ayat ini berfungsi sebagai cermin untuk introspeksi. Apakah kita termasuk yang bersegera dalam kebaikan? Apakah kita termasuk yang menjaga batas-batas? Atau apakah kita termasuk yang tenggelam dalam kemewahan dan melupakan janji akhirat? Pertanyaan-pertanyaan ini harus menjadi renungan harian bagi setiap pembaca Surah Al-Waqi'ah.
Keseluruhan 96 ayat ini, dari goncangan bumi di awal hingga perintah bertasbih di akhir, menjalin satu pesan utuh yang tak terpisahkan: kebenaran Hari Kiamat adalah mutlak, dan kesuksesan abadi hanya milik mereka yang memanfaatkan kehidupan dunia untuk meraih tingkatan tertinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Oleh karena itu, jumlah 96 bukan sekadar penanda panjang Surah, melainkan kerangka struktural yang menopang salah satu ajaran paling vital dalam Al-Qur'an.
Maka dari itu, merujuk kembali pada pertanyaan sentral, Surah Al-Waqi'ah terdiri dari **96 ayat** yang mengandung hikmah dan peringatan yang tak terhingga nilainya. Pemahaman mendalam atas struktur dan pesan Surah ini akan memberikan manfaat yang berkelanjutan, baik dalam urusan dunia (rezeki) maupun urusan akhirat (keselamatan abadi).
Salah satu ciri khas retorika Al-Qur'an, yang terlihat jelas dalam 96 ayat Surah Al-Waqi'ah, adalah penggunaan pengulangan tematik yang disengaja. Pengulangan ini bukan redundansi, melainkan penekanan (ta'kid) untuk memastikan pesan tersampaikan secara efektif dan emosional. Setelah mendeskripsikan Golongan Kanan dan Golongan Kiri, Surah ini kembali mengulangi janji dan peringatan dalam konteks yang berbeda, yaitu saat kematian menjemput.
Pengulangan deskripsi kenikmatan Surga, seperti adanya dipan bertahta, buah-buahan yang melimpah, dan pelayanan dari *wildanun mukhalladun*, ditujukan untuk mengukir gambaran kekal dalam benak pembaca. Ketika seseorang membaca Surah ini berulang kali—sebuah praktik yang umum untuk meraih keutamaannya—setiap ayat yang berjumlah 96 itu memperkuat kerinduan akan Surga dan ketakutan akan Neraka.
Misalnya, setelah deskripsi Surga bagi *As-Sabiqun* (ayat 10-26), Allah memberikan deskripsi Surga yang sedikit berbeda bagi *Ashab Al-Maimanah* (ayat 27-40). Meskipun objeknya sama (yaitu Surga), perincian seperti air yang mengalir terus-menerus dan pohon tanpa duri memiliki tujuan retoris untuk menunjukkan bahwa Rahmat Allah itu bertingkat-tingkat dan sesuai dengan amal masing-masing golongan. Dalam kerangka 96 ayat ini, Allah memastikan bahwa setiap amal perbuatan memiliki balasan yang spesifik dan adil.
Surah yang terdiri dari 96 ayat ini memainkan peran krusial dalam memperkuat empat pilar keimanan:
Apabila seseorang merenungkan 96 ayat ini secara mendalam, maka keyakinannya terhadap hari akhir akan menguat, dan ini secara otomatis akan memengaruhi perilaku dan keputusannya di dunia. Ini adalah alasan teologis mengapa Surah Al-Waqi'ah sering dikaitkan dengan ketenangan dan kelapangan rezeki; karena keimanan yang kokoh adalah sumber ketenangan terbesar, yang pada gilirannya membuka pintu rezeki, baik secara materi maupun non-materi.
Surah Al-Waqi'ah termasuk dalam kelompok surah Makkiyah yang fokus pada isu Hari Kiamat, seperti Surah Ar-Rahman (Surah ke-55) yang mendahuluinya, dan Surah Al-Mulk (Surah ke-67) yang datang setelah beberapa surah. Namun, Surah Al-Waqi'ah memiliki ciri khas yang membedakannya, terutama pada pembagian yang sangat detail menjadi tiga golongan. Dalam 96 ayatnya, ia memberikan perbandingan yang tajam dan langsung.
Berbeda dengan Ar-Rahman yang cenderung puitis dan mengulang-ulang pertanyaan retoris tentang nikmat Tuhan, Al-Waqi'ah lebih bersifat naratif dan deskriptif. Ia fokus pada "apa yang akan terjadi" dan "siapa yang akan mendapatkan apa." Jumlah 96 ayat ini memberikan ruang yang cukup bagi narasi untuk mencapai tingkat kedalaman yang sangat pribadi, memaksa pendengar untuk menanyakan, "Saya termasuk golongan yang mana?"
Kepadatan pesan yang terbungkus dalam 96 ayat menjadikannya Surah yang sangat efektif dalam memberikan peringatan. Tidak ada ayat yang terbuang; setiap kata memberikan tekanan pada konsekuensi tindakan manusia. Dari segi kronologi penurunan, Surah ini diturunkan pada masa-masa awal dakwah Nabi di Makkah, ketika kaum musyrikin sangat keras menolak ide kebangkitan setelah mati. Oleh karena itu, 96 ayat ini adalah argumentasi ilahi yang dirancang untuk menghancurkan keraguan mereka.
Pemahaman menyeluruh atas 96 ayat Surah Al-Waqi'ah bukan hanya sekadar memahami terjemahan, tetapi merenungkan konteks sejarah, latar belakang teologis, dan struktur retorisnya. Ini adalah Surah yang berbicara tentang kepastian takdir dan konsekuensi amal, sebuah Surah yang kekuatannya terletak pada detail-detail yang disampaikan dalam 96 baris wahyu yang mulia.
Seluruh uraian ini menegaskan bahwa jumlah ayat Surah Al-Waqi'ah adalah **96 ayat**. Angka ini merefleksikan struktur yang cermat dalam menyampaikan pesan tentang Hari Akhir, balasan, dan bukti-bukti kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Semoga kita semua diberikan taufik untuk senantiasa merenungkan Surah ini dan dimasukkan ke dalam golongan *As-Sabiqun* atau *Ashab Al-Maimanah* berkat rahmat-Nya.