Mengenal Surah Al-Isra (Surah ke-17)

Ilustrasi Perjalanan Malam Siluet Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa dengan cahaya bintang dan bulan yang mengelilingi unta terbang.

Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (sebagaimana nama asalnya), adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf, meskipun diturunkan sebelum Surah Al-Kahfi. Surah ini kaya akan makna dan mengandung beberapa peristiwa penting dalam sejarah Islam, terutama mukjizat agung yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yaitu Isra’ Mi’raj.

Kisah Agung Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra' Mi'raj adalah inti yang paling sering dibahas dari surah ini. Ayat pertama surah Al-Isra membuka tirai peristiwa luar biasa ini: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Al-Isra: 1).

"Isra'" merujuk pada perjalanan malam Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan yang mustahil ditempuh dalam semalam dengan cara biasa ini merupakan bukti nyata kebesaran Allah. Setelah tiba di Al-Aqsa, beliau kemudian melakukan "Mi'raj," yaitu kenaikan vertikal menuju lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.

Dalam Mi'raj, Rasulullah SAW tidak hanya menyaksikan kebesaran alam semesta, tetapi juga menerima perintah langsung mengenai kewajiban shalat lima waktu sehari semalam bagi umat Islam, yang menjadi tiang utama agama setelah syahadat. Kejadian ini menegaskan kedudukan unik Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.

Pelajaran Moral dan Hukum dalam Surah Al-Isra

Selain mukjizat agung tersebut, Surah Al-Isra memuat banyak sekali prinsip dasar etika, moral, dan hukum. Surah ini menekankan pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Allah SWT memerintahkan larangan mengucapkan kata "ah" (sekecil apapun bentuk ketidakridhaan) kepada mereka dan mewajibkan sikap merendah diri penuh kasih sayang.

Ayat-ayat selanjutnya menyoroti larangan-larangan keras yang bertujuan menjaga tatanan sosial dan ekonomi umat. Di antaranya adalah larangan membunuh anak karena takut kemiskinan (larangan aborsi atau pembunuhan bayi), larangan mendekati zina, dan larangan memakan harta anak yatim secara tidak benar. Ayat 32 dari surah ini berbunyi: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.

Prinsip Keadilan dan Kesatuan Umat

Surah ini juga sangat tegas dalam menyerukan keadilan. Allah SWT berfirman: Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, maka hendaklah kamu menetapkannya dengan adil. (QS. Al-Isra: 73). Prinsip ini menunjukkan bahwa keadilan bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah mandat ilahi dalam setiap aspek kehidupan bermasyarakat.

Selain itu, surah ke-17 ini juga membahas tentang tauhid (mengesakan Allah) dengan menantang mereka yang menyembah selain-Nya. Surah ini menjelaskan bahwa semua perbuatan, baik atau buruk, akan dicatat dan diperhitungkan. Kehidupan dunia ini hanyalah sementara, sementara kehidupan akhirat adalah tempat pertanggungjawaban abadi.

Secara keseluruhan, Surah Al-Isra berfungsi sebagai kompas moral yang komprehensif. Mulai dari perjalanan spiritual tertinggi (Mi'raj) hingga panduan praktis tentang hubungan kekeluargaan (berbakti pada orang tua), interaksi sosial (keadilan dan kejujuran), hingga larangan keras terhadap perbuatan keji, menjadikannya salah satu surah yang sarat dengan ajaran Islam yang fundamental dan relevan sepanjang masa bagi setiap muslim.

Mengkaji Surah Al-Isra mengingatkan kita bahwa mukjizat terbesar terkadang datang dalam bentuk pengalaman spiritual yang mendalam, namun pondasi keimanan selalu terletak pada ketaatan pada perintah-perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari.

🏠 Homepage