Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", merupakan surat Madaniyah yang sarat dengan ajaran hukum dan etika dalam Islam. Di antara ayat-ayatnya yang fundamental, terdapat firman Allah SWT dalam ayat ke-15 yang seringkali menjadi perenungan mendalam bagi umat Islam mengenai pentingnya menerima kebenaran.
Ayat ini adalah seruan ilahi yang tegas, mengingatkan kaum Mukminin tentang kedatangan para Nabi terdahulu yang membawa petunjuk, dan kini giliran Muhammad SAW yang membawa risalah penutup. Memahami konteks dan makna dari Al Maidah 15 adalah kunci untuk menguatkan iman dan komitmen kita terhadap ajaran agama.
Ayat ini secara eksplisit menyebutkan dua anugerah besar yang diturunkan Allah kepada umat manusia: "Ayat-ayat Allah yang terang" (Bayyināt) dan "seorang Rasul (Muhammad SAW)". Kedua elemen ini bekerja secara sinergis, di mana wahyu (Al-Qur'an) menjelaskan kebenaran, dan Rasul berfungsi sebagai teladan hidup serta penyampai risalah tersebut.
Tujuan utama dari penurunan risalah ini sangat jelas: "supaya Dia mengeluarkan orang-orang (yang beriman) dari kegelapan kepada cahaya." Kegelapan di sini merujuk pada kebodohan, kesyirikan, perbuatan dosa, dan jalan hidup yang menyimpang. Cahaya, sebaliknya, adalah petunjuk, keimanan yang murni, dan jalan yang diridhai Allah.
Penting untuk dicatat bahwa proses "mengeluarkan" ini bukanlah paksaan, melainkan ajakan. Ayat ini menargetkan orang-orang yang beriman. Iman yang sejati harus dibuktikan dengan amal. Di sinilah letak penekanan berikutnya dari Al Maidah 15.
Ayat ini memberikan jaminan mutlak bagi mereka yang memenuhi dua syarat utama: iman kepada Allah dan melakukan amal saleh. Ini adalah formula sukses dalam pandangan ilahi.
1. Iman kepada Allah (Tauhid): Ini adalah fondasi. Percaya penuh terhadap keesaan Allah, kebenaran wahyu-Nya, dan kenabian Muhammad SAW.
2. Beramal Saleh: Iman tanpa aksi nyata seringkali dianggap kering. Amal saleh mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari ibadah ritual hingga etika bermuamalah, bersikap adil, dan berbuat baik kepada sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya. Amal saleh adalah manifestasi nyata dari cahaya yang telah diterima dalam hati.
Konsekuensi dari perpaduan iman dan amal adalah janji surga: "niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Keabadian dalam kenikmatan adalah tujuan tertinggi, yang digambarkan sebagai "keberuntungan yang paling besar" (Al-Fauz Al-'Azhim).
Ini menunjukkan bahwa keberuntungan terbesar bukanlah kekayaan duniawi, kekuasaan, atau popularitas sesaat, melainkan keridhaan Allah dan kehidupan abadi di surga. Dalam konteks modern, ketika banyak godaan duniawi menawarkan "cahaya palsu," mengingat kembali janji dalam Al Maidah 15 membantu kita memfokuskan prioritas hidup pada hal yang kekal.
Ayat ini juga menjadi pedoman bagi umat Islam dalam konteks dakwah. Tugas utama kita adalah melanjutkan misi Rasulullah SAW, yaitu menjadi pembawa cahaya bagi lingkungan sekitar. Di tengah banjir informasi dan berbagai ideologi yang menyesatkan, pesan Al-Qur'an harus disampaikan dengan jelas dan terang (bayyinah).
Namun, dakwah yang efektif tidak hanya sebatas penyampaian lisan. Ia harus disertai dengan keteladanan (amal saleh) dari para penganutnya. Jika umat Islam sendiri hidup dalam kegelapan moral atau perselisihan, pesan cahaya yang mereka bawa akan sulit diterima.
Intinya, Al Maidah ayat 15 adalah pengingat abadi bahwa Allah telah menyediakan peta jalan yang jelas (wahyu dan Rasul) untuk keluar dari kesesatan menuju kebahagiaan sejati. Tugas kita hanyalah mengambil peta tersebut, meyakininya dengan hati, dan berjalan di atas jalurnya dengan perbuatan nyata. Keberuntungan terbesar menanti mereka yang berhasil melintasi jembatan iman dan amal ini.