Tinjauan Kritis: Al-Maidah Ayat 17

Simbol Peringatan dan Penjelasan Ilmiah

*Visualisasi peringatan dan penjelasan dalam teks suci.

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam. Di antara ayat-ayat yang mengandung peringatan keras dan penegasan tentang konsekuensi pilihan hidup, **Al-Maidah ayat 17** menempati posisi penting. Ayat ini secara spesifik berbicara mengenai reaksi dan penolakan terhadap kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, serta konsekuensi yang menanti mereka yang menolak.

"Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam'." Katakanlah: "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam, dan siapa (pula) yang dapat menahan siksa-Nya? Dan Allah sekali-kali tidak akan menimpa mereka dengan suatu bencana karena kesombongan mereka." (QS. Al-Maidah: 17)

Konteks Historis dan Teologis

Ayat ini diturunkan dalam konteks dialog teologis yang intens antara Rasulullah SAW dengan beberapa golongan Ahli Kitab, khususnya mengenai status Nabi Isa 'Alaihissalam (Yesus Kristus). Penekanan utama dalam ayat 17 adalah pada konsep Tauhid (keesaan Allah) dan bantahan keras terhadap klaim trinitas atau ketuhanan pada diri Nabi Isa.

Dalam Islam, Nabi Isa dihormati sebagai salah satu nabi terbesar, dilahirkan secara mukjizat dari Maryam (Maria). Namun, keyakinan bahwa beliau adalah Tuhan atau Putra Tuhan adalah penyimpangan akidah yang fatal menurut pandangan Islam. Ayat ini menegaskan ketegasan posisi Allah SWT bahwa tidak ada sekutu bagi-Nya, dan klaim tersebut adalah bentuk kekafiran.

Kekuasaan Mutlak Allah SWT

Bagian kedua dari Al-Maidah ayat 17 menyoroti kemahakuasaan Allah. Frasa "Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah...?" berfungsi sebagai retorika yang menunjukkan ketidakmampuan makhluk, sekecil apa pun, untuk menentang ketetapan Ilahi. Jika Allah menghendaki pemusnahan atau pencabutan nikmat dari seseorang—termasuk dari Isa bin Maryam, yang merupakan subjek penghormatan mereka—maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya.

Poin ini sangat krusial: menghormati Nabi Isa sebagai manusia mulia adalah perintah, tetapi meninggikan statusnya hingga setara dengan Tuhan adalah penolakan terhadap sifat Rububiyyah (ketuhanan) Allah. Ayat ini sekaligus menjadi pengingat bahwa status kekeramatan atau kenabian tidak memberikan kekebalan absolut dari kehendak dan kuasa Allah SWT.

Sikap dan Konsekuensi Kesombongan

Ayat tersebut ditutup dengan pernyataan yang sangat kuat: "Dan Allah sekali-kali tidak akan menimpa mereka dengan suatu bencana karena kesombongan mereka." Dalam konteks tafsir, bagian ini sering dipahami dalam dua cara utama. Pertama, Allah menegaskan bahwa Dia tidak akan segera menimpakan bencana atas mereka hanya karena kesombongan mereka, memberikan kesempatan taubat. Kedua, ini menekankan bahwa kemurkaan Allah yang sesungguhnya bersifat adil dan tidak didasari oleh motif balas dendam sepele, melainkan karena penolakan terhadap kebenaran yang terang.

Namun, penolakan yang diikuti dengan kesombongan dan pembangkangan keras terhadap bukti-bukti yang jelas (seperti mukjizat Nabi Isa itu sendiri) pasti akan membawa konsekuensi berat di akhirat. Kesombongan ('isti'raf) inilah yang menutup pintu hati mereka dari menerima wahyu yang dibawa oleh Rasul terakhir.

Relevansi Pembelajaran Modern

Meskipun berakar pada konteks Ahli Kitab di masa lalu, pesan inti dari Al-Maidah ayat 17 tetap relevan hingga kini. Ayat ini mengajarkan pentingnya menjaga kemurnian akidah Tauhid. Dalam dinamika pluralitas keyakinan, umat Islam diingatkan untuk selalu bersikap tegas dalam mempertahankan prinsip bahwa Allah Maha Esa, dan tidak ada makhluk yang boleh disekutukan dengan-Nya dalam ibadah maupun penetapan status ketuhanan.

Selain itu, ayat ini memberikan pelajaran tentang bahaya kesombongan intelektual dan spiritual. Ketika seseorang merasa terlalu superior atau mapan dalam pemahamannya, ia cenderung menutup diri terhadap kebenaran baru atau koreksi ilahi. Memahami ayat ini berarti memahami bahwa otoritas tertinggi hanya dimiliki oleh Sang Pencipta, dan segala bentuk pengkultusan berlebihan terhadap makhluk adalah jalan menuju kehampaan spiritual yang diancam oleh peringatan Ilahi. Ayat ini menjadi mercusuar yang menjaga agar umat Islam tidak tergelincir dari garis lurus kebenaran.

🏠 Homepage