Surat Al-Maidah adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan norma, hukum, dan peringatan penting bagi umat Islam. Bagian pertengahan surat ini, khususnya ayat 61 hingga 70, menyoroti isu-isu krusial terkait interaksi sosial, integritas spiritual, dan pengingat tentang pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Mempelajari ayat-ayat ini berarti menyelami kedalaman etika dan keyakinan yang harus dijunjung tinggi oleh seorang Muslim.
Kritik Terhadap Kemunafikan dan Pengingat Kenikmatan
Ayat-ayat awal dalam rentang ini (sekitar 61-64) sering kali membahas respons orang-orang munafik dan Yahudi terhadap seruan dakwah Rasulullah SAW. Mereka menunjukkan kemunafikan yang nyata: di satu sisi menyatakan keimanan, namun di sisi lain, tindakan mereka menunjukkan penolakan dan bahkan permusuhan terselubung. Allah SWT secara tegas memperingatkan bahwa hati mereka telah tercemar oleh kekafiran, dan mereka adalah sebiasa dalam kebencian.
Selain kritik, ayat-ayat ini juga mengingatkan kaum mukminin akan nikmat-nikmat besar yang telah dilimpahkan Allah, termasuk keselamatan dan perlindungan dari godaan. Peringatan ini berfungsi sebagai penguat motivasi agar umat tetap berada di jalan yang lurus, tidak terpengaruh oleh rayuan atau ancaman dari pihak-pihak yang memiliki niat buruk.
Kepercayaan dan Loyalitas dalam Pandangan Ilahi
Salah satu inti ajaran yang sangat kuat dalam Al-Maidah 61-70 adalah tentang loyalitas (wala') dan kepercayaan. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa seorang Muslim sejati tidak boleh menjadikan orang-orang yang secara terang-terangan menentang ajaran Allah sebagai pemimpin atau sahabat karib yang dipercaya sepenuhnya dalam urusan agama dan kepemimpinan. Ini bukan sekadar masalah prasangka, melainkan sebuah prinsip fundamental menjaga kemurnian aqidah.
Allah SWT berfirman mengenai ciri orang-orang yang benar-benar beriman, yaitu mereka yang tidak menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin utama (awliya') jika mereka saling melindungi dan bersuka cita atas keburukan umat Islam. Hal ini menuntut adanya kejelian dan ketegasan dalam memilih mitra dan panutan. Integritas ini adalah ujian berat, terutama di tengah arus globalisasi dan upaya asimilasi budaya yang mungkin mengaburkan batas antara yang hak dan yang batil.
Pesan Kenabian dan Pertanggungjawaban Akhirat
Menjelang ayat 70, fokus beralih kepada janji-janji kenabian dan tanggung jawab besar yang dipikul oleh para rasul. Allah mengingatkan bahwa risalah telah disampaikan secara sempurna. Nabi-nabi telah menjalankan tugas mereka dengan menyampaikan kebenaran dan membimbing umat mereka. Ini menjadi pelajaran bahwa setiap individu di zaman modern juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran yang telah diwariskan.
Ayat-ayat ini menutup dengan sebuah penegasan tentang pertanggungjawaban. Ketika hari penghakiman tiba, tidak ada alasan yang dapat diterima. Kebenaran telah disajikan melalui para rasul. Jika ada yang tetap memilih untuk kufur setelah menerima petunjuk yang jelas, maka mereka sendirilah yang menanggung konsekuensinya. Ayat 61 hingga 70 secara kolektif berfungsi sebagai panggilan untuk introspeksi mendalam: sejauh mana kesetiaan kita kepada Allah dan seberapa jauh kita mengabaikan peringatan-Nya demi mengikuti hawa nafsu atau tekanan lingkungan? Memahami dan mengamalkan ayat-ayat ini adalah kunci untuk menjaga keteguhan iman di tengah berbagai tantangan zaman.