Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), yang disebabkan oleh infeksi virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), tetap menjadi salah satu isu kesehatan masyarakat global yang signifikan. Meskipun kemajuan dalam terapi antiretroviral (ARV) telah mengubah AIDS dari penyakit yang hampir selalu fatal menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola, pemahaman mendalam mengenai pola penyebaran virus ini tetap krusial untuk upaya pencegahan dan penanggulangan.
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4, membuat tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan jenis kanker tertentu. Penyebaran virus ini terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi virus tinggi. Cairan tersebut meliputi darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan ASI. Penting untuk dicatat bahwa HIV tidak menular melalui sentuhan kasual, gigitan nyamuk, berbagi peralatan makan, atau kontak sosial sehari-hari lainnya.
Pola penyebaran HIV di seluruh dunia cenderung terfokus pada tiga jalur utama. Mengidentifikasi jalur-jalur ini memungkinkan intervensi yang lebih terarah dan efektif dalam memutus rantai transmisi.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, pola penyebaran HIV telah bergeser dari dominasi pengguna narkoba suntik menjadi lebih banyak melalui transmisi seksual. Fenomena ini seringkali berkorelasi dengan perubahan demografi dan perilaku sosial, terutama di kalangan populasi kunci seperti pekerja seks, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL), dan pengguna narkotika suntik yang masih ada.
Salah satu tantangan terbesar saat ini adalah stigma dan diskriminasi. Stigma membuat orang enggan melakukan tes HIV, sehingga mereka tidak mengetahui status mereka dan secara tidak sadar dapat menularkan virus. Masyarakat yang terstigmatisasi juga cenderung menolak pengobatan, yang berdampak buruk pada kesehatan individu dan upaya pengendalian epidemi di tingkat populasi.
Untuk mencapai tujuan eliminasi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat, fokus harus tetap pada tiga pilar utama: Pencegahan (melalui promosi kondom, PrEP/PEP, dan edukasi), Pengujian (meningkatkan cakupan tes dan mengetahui status), dan Pengobatan (memastikan setiap ODHA mendapatkan terapi ARV secara berkelanjutan). Dengan pendekatan yang inklusif dan berbasis hak asasi manusia, penyebaran HIV dapat dikendalikan secara efektif di berbagai lapisan masyarakat. Pengetahuan yang akurat adalah perisai pertama melawan virus ini.