Ilustrasi Konsep Keadilan dan Pertanggungjawaban
Al-Qur'an, sebagai petunjuk hidup umat Islam, mengandung banyak sekali prinsip fundamental yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam semesta. Salah satu ayat yang sangat penting dalam konteks pertanggungjawaban moral dan keadilan adalah Surah Al-Isra ayat 15.
"Barangsiapa mendapat petunjuk, maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa tersesat, maka sungguh (kesesatan itu) menjadi bahaya atas dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain. Dan Kami tidak akan mengazab (suatu kaum) sebelum Kami mengutus seorang rasul." (QS. Al-Isra: 15)
Terjemahan ringkas berdasarkan Tafsir Departemen Agama RI.
Ayat 15 dari Surah Al-Isra (juga dikenal sebagai Al-Isra' atau Bani Israil) ini menyajikan inti dari ajaran Islam mengenai akuntabilitas personal. Poin pertama yang ditekankan adalah bahwa konsekuensi dari pilihan hidup—baik berupa hidayah (petunjuk) maupun kesesatan—adalah tanggung jawab pribadi. Jika seseorang memilih jalan kebenaran, manfaatnya dirasakan sepenuhnya oleh dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, jika ia memilih kesesatan dan kemaksiatan, kerugian dan azab yang menanti juga hanya akan menimpanya seorang.
Ini adalah penegasan tegas mengenai independensi spiritual setiap individu. Tidak ada konsep "dosa warisan" dalam Islam. Setiap jiwa harus mempertanggungjawabkan amalnya sendiri di hadapan Allah SWT. Ayat ini memberikan motivasi kuat bagi setiap Muslim untuk senantiasa introspeksi diri (muhasabah) dan berhati-hati dalam setiap keputusan, karena tidak ada pihak lain yang bisa menanggung beban kesalahannya di hari perhitungan.
Bagian kedua dari ayat ini mengandung prinsip keadilan prosedural yang sangat tinggi dalam hukum Ilahi: "Dan Kami tidak akan mengazab (suatu kaum) sebelum Kami mengutus seorang rasul."
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Allah SWT Maha Adil. Sebelum sebuah komunitas atau individu dikenakan hukuman atas penyimpangan mereka, Allah memastikan bahwa telah ada bukti yang jelas mengenai kesalahan tersebut, dan bukti itu disampaikan melalui utusan-Nya (para Nabi dan Rasul). Rasul berfungsi sebagai pembawa peringatan, penjelas ajaran, dan saksi atas penolakan atau penerimaan umat terhadap kebenaran.
Prinsip ini memberikan jaminan bahwa tidak ada seorang pun yang akan dihukum tanpa terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Ini mencakup penyampaian risalah tauhid secara utuh. Jika risalah itu telah disampaikan dan mereka tetap memilih untuk menolaknya dengan kesadaran penuh, barulah perhitungan dan konsekuensi akhir akan diterapkan.
Konsep "seorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain" memiliki implikasi mendalam bagi etika sosial. Ayat ini menegaskan bahwa dalam Islam, tidak ada solidaritas dosa. Seorang pemimpin yang zalim tidak bisa memindahkan bebannya kepada rakyatnya, dan sebaliknya, seorang rakyat yang taat tidak menanggung dosa kemaksiatan yang dilakukan oleh pemimpinnya.
Dalam konteks modern, ini bisa diartikan bahwa setiap individu harus bertanggung jawab atas integritas moralnya sendiri, terlepas dari lingkungan atau tekanan sosial di sekitarnya. Meskipun seseorang mungkin terpengaruh oleh perbuatan orang lain, pada akhirnya, keputusan untuk mengikuti atau menolak kebatilan tetap berada di tangan pribadinya, dan pertanggungjawabannya bersifat tunggal.
Al Isra ayat 15 adalah pilar teologis yang menegaskan kedaulatan dan keadilan Allah dalam menghakimi makhluk-Nya. Ia menekankan bahwa hidup adalah pilihan sadar yang memiliki konsekuensi langsung bagi pelakunya. Dengan pemahaman ini, seorang mukmin didorong untuk mengambil kendali penuh atas perjalanan spiritualnya, berupaya keras meraih petunjuk, menjauhi kesesatan, dan menyadari bahwa kebebasan memilih disertai dengan tanggung jawab mutlak di hadapan Sang Pencipta.
Ayat ini mengingatkan kita bahwa gerak-gerik kita hari ini akan membentuk timbangan amal kita esok hari. Tidak ada jalan pintas untuk menghindari pertanggungjawaban, dan tidak ada pula kezaliman dalam penghakiman Ilahi karena setiap orang akan diadili berdasarkan catatan perbuatannya sendiri setelah peringatan yang jelas disampaikan melalui para Rasul.