Memahami Kandungan Surat Al-Maidah Ayat 66 hingga 75

Ilustrasi Kitab Suci dan Cahaya Gambar abstrak yang menampilkan buku terbuka dengan cahaya yang memancar keluar, melambangkan petunjuk ilahi. Petunjuk Ilahi

Surat Al-Maidah adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan hukum-hukum, kisah-kisah, dan peringatan penting dalam Islam. Di antara ayat-ayat yang memiliki bobot signifikan adalah rentang ayat 66 hingga 75. Bagian ini secara khusus membahas tentang kedudukan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), pentingnya menegakkan syariat Taurat dan Injil, serta konsekuensi bagi mereka yang berpaling dari kebenaran yang diturunkan.

Kewajiban Mengikuti Wahyu dan Konsekuensi Penolakan

Ayat-ayat awal dalam rentang ini (Al-Maidah: 66-67) menekankan bahwa jika Ahlul Kitab benar-benar melaksanakan ajaran Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka (Al-Qur'an), maka mereka akan diberkahi dari atas dan bawah. Ini adalah prinsip universal dalam Islam: ketaatan total terhadap wahyu akan mendatangkan kemuliaan dan keberkahan. Namun, kenyataannya seringkali berbeda. Banyak di antara mereka yang berpaling dan mengingkari sebagian besar dari wahyu tersebut.

Allah SWT menegaskan bahwa jika mereka tidak menerapkan apa yang diperintahkan, maka hal itu sama saja dengan menolak kebenaran itu sendiri. Hal ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah keberkatan datang dari sekadar pengakuan lisan ataukah dari pelaksanaan nyata ajaran Ilahi? Jawabannya jelas, terletak pada implementasi syariat dalam kehidupan sehari-hari.

Perbedaan Sikap Terhadap Al-Qur'an

Al-Maidah: 68-69 (Inti Pesan): Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak (berada) di atas sesuatu pun) sehingga kamu menegakkan (hukum) Taurat dan Injil dan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu (Al-Qur'an)." Sungguh, apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dari Tuhanmu itu akan menambah keingkaran dan kekafiran bagi kebanyakan dari mereka. Maka, janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.

Ayat 68 menantang Ahlul Kitab untuk berpegang teguh pada seluruh wahyu. Apabila mereka benar-benar beriman, mereka akan berada di jalan yang lurus. Namun, ayat berikutnya memberikan gambaran suram tentang respons mayoritas mereka terhadap Al-Qur'an. Al-Qur'an, yang seharusnya menjadi pembenar dan penyempurna, justru meningkatkan kesombongan dan kekufuran sebagian dari mereka karena Al-Qur'an menolak penyimpangan yang sudah mereka lakukan. Nabi Muhammad SAW diperintahkan untuk tidak bersedih hati melihat penolakan tersebut, karena ketetapan Allah pasti berlaku.

Kekuasaan Allah dan Kekayaan yang Diberikan

Ayat 70 hingga 72 mengingatkan kaum Nabi Musa dan Nabi Isa, serta umat Islam, tentang nikmat-nikmat besar yang telah dilimpahkan Allah. Allah telah memberikan perjanjian kepada Bani Israil dan mengutus rasul-rasul kepada mereka. Namun, banyak di antara mereka yang melanggar perjanjian tersebut.

Puncak dari pengingkaran ini termaktub dalam ayat 72, di mana perkataan kufur mereka disebutkan dengan jelas: "Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam." Ini adalah tuduhan kekafiran yang sangat serius, yang kemudian diikuti oleh peringatan keras dari Allah. Ayat ini menegaskan tauhid (keesaan Allah) secara mutlak, menunjukkan bahwa klaim tersebut adalah penyesatan besar yang tidak dapat ditoleransi dalam ajaran Islam.

Peringatan Bagi Orang yang Beriman

Ayat-ayat terakhir dalam rentang ini, Al-Maidah 73-75, berfungsi sebagai penutup dan penegasan kembali prinsip dasar keimanan. Ayat 73 secara tegas menyatakan bahwa Tuhan itu satu (Allah Ahad), dan klaim adanya tuhan selain-Nya adalah kekafiran. Tidak ada jalan keluar dari kekufuran ini kecuali dengan kembali kepada tauhid murni.

Al-Maidah: 74 (Harapan Kepada Orang yang Kembali): Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini adalah seruan kasih sayang dari Allah SWT. Meskipun telah terjadi pengingkaran yang keras, pintu taubat selalu terbuka lebar. Allah Yang Maha Pengampun menanti kembalinya hamba-Nya.

Puncaknya adalah ayat 75, yang membedakan antara orang yang beriman sejati dan orang yang hanya mengaku-ngaku beriman. Ayat ini menekankan kemuliaan status Nabi Isa al-Masih sebagai seorang hamba dan Rasul, bukan sebagai ilah yang disekutukan. Bagi orang-orang yang beriman sejati, Al-Maidah 66-75 menjadi pengingat tentang pentingnya memegang teguh Al-Qur'an sebagai standar kebenaran, menjauhi kesyirikan, dan senantiasa membuka diri untuk taubat nasuha. Memahami ayat-ayat ini membantu umat Islam memperkokoh pijakan akidah dan menghindari jebakan-jebakan pemikiran yang menyimpang dari garis keras wahyu Ilahi.

🏠 Homepage