Surat Al-Hijr Ayat 28: Perintah Ilahi kepada Malaikat

Pengenalan Surat Al-Hijr

Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an yang terdiri dari 99 ayat. Surat ini tergolong dalam surat Makkiyyah, yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Tema utama surat ini meliputi keesaan Allah, kebenaran Al-Qur'an, ancaman bagi orang-orang yang mendustakan, serta kisah-kisah teladan dari para nabi terdahulu, seperti Nabi Ibrahim dan kaum Nabi Luth.

Fokus utama dari ayat-ayat tertentu dalam surat ini adalah menunjukkan kekuasaan Allah dan bagaimana Dia mengelola alam semesta serta berinteraksi dengan makhluk-Nya, termasuk para malaikat. Ayat 28 dari surat ini merupakan salah satu ayat penting yang menggambarkan dialog ilahi mengenai penciptaan manusia.

Simbolisasi Wahyu dan Cahaya Ilahi WAHYU

Visualisasi Konsep Wahyu dan Pertanyaan Malaikat

Teks Surat Al-Hijr Ayat 28

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
Terjemahan:

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk."

Penjelasan Mendalam Ayat 28

Ayat 28 ini merupakan bagian dari rangkaian ayat yang menceritakan persiapan ilahi sebelum penciptaan Nabi Adam a.s., yaitu ketika Allah mengumumkan niat-Nya kepada para malaikat. Pengumuman ini mengandung beberapa poin penting yang perlu dianalisis:

1. Pengumuman Ilahi kepada Malaikat

Frasa "Wa idz qaala Rabbuka lil Malaa'ikati" (Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat) menunjukkan bahwa penciptaan manusia adalah peristiwa monumental yang disaksikan dan diberitahukan terlebih dahulu kepada para malaikat. Para malaikat, sebagai makhluk yang patuh dan suci, memerlukan penjelasan tentang rencana agung ini.

2. Hakikat Penciptaan Manusia

Allah menetapkan asal mula penciptaan manusia: "Innii khaaliqu basyarom min shalṣaalim min ḥamai'in masnoon". Kata-kata kunci di sini adalah:

Penggunaan istilah ini menekankan kerendahan asal materi penciptaan manusia—sebuah elemen dari bumi—yang kontras dengan kemuliaan kedudukan yang akan diberikan kepadanya.

3. Perbedaan dengan Ayat Lain

Perlu dicatat bahwa ayat ini memiliki kesamaan narasi dengan ayat di surat lain, seperti Surat Al-Hijr ayat 26 dan Surat Ash-Shaffat ayat 11. Namun, penekanan di Al-Hijr 28 lebih spesifik pada kondisi tanah liat tersebut—yaitu sudah mengering (shalṣaal) dan berupa lumpur hitam yang dibentuk (ḥamai'in masnoon)—menyoroti tahapan proses penciptaan dari sudut pandang materi fisik.

Implikasi Teologis Ayat Ini

Ayat Al-Hijr 28 mengajarkan beberapa pelajaran penting bagi umat Islam:

  1. Keagungan Kuasa Allah: Ayat ini menegaskan bahwa Allah mampu menciptakan makhluk dari materi yang paling sederhana (tanah liat) menjadi makhluk yang paling mulia (manusia) yang dilengkapi dengan akal dan ruh.
  2. Dasar Kerendahan Hati: Menyadari asal mula penciptaan dari tanah liat mengingatkan manusia akan sifat kefanaan dan kerendahan diri mereka. Meskipun manusia akan diberi keistimewaan (akal, khalifah), hakikatnya mereka berasal dari debu.
  3. Ketundukan Malaikat: Dialog ini menunjukkan posisi para malaikat yang selalu menunggu perintah Allah dan tidak bertindak tanpa izin-Nya. Mereka adalah representasi kepatuhan mutlak.

Ayat ini menjadi fondasi bagi pemahaman kita tentang kemanusiaan—bahwa kita diciptakan dengan tujuan yang besar, namun dengan materi yang rendah. Proses pembentukan dari lumpur yang diberi bentuk (masnoon) juga mengisyaratkan proses pembentukan fisik manusia yang bertahap di dalam rahim ibu, meskipun konteks utama ayat ini adalah penciptaan Adam a.s.

Kontekstualitas dengan Ayat Selanjutnya

Ayat 28 ini sangat erat kaitannya dengan ayat berikutnya (Ayat 29), di mana setelah Allah mengumumkan penciptaan fisik manusia, Dia melanjutkan dengan firman-Nya: "Fa idza sawwaytuhu wa nafakhtu fiihi min ruuhi faqa'u lahu saajidiin" (Maka apabila Aku telah menyempurnakan penciptaannya dan meniupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud).

Ini menunjukkan bahwa materi fisik (shalṣaal dari ḥamai'in masnoon) hanyalah wadah awal. Nilai tertinggi manusia terletak pada peniupan ruh Ilahi yang menjadikannya berbeda dari makhluk lain. Oleh karena itu, setelah penciptaan fisik sempurna, perintah untuk bersujud (penghormatan) ditujukan kepada para malaikat, menandai pengukuhan status istimewa manusia sebagai khalifah di bumi, sebuah status yang didasarkan pada ruh yang dihembuskan Allah.

🏠 Homepage