Tafsir Ringkas: Al-Maidah Ayat 72 dan 73

Ilustrasi Simbolik Keimanan dan Penolakan Kesyirikan Gambar abstrak yang menampilkan siluet kubah masjid di satu sisi dan simbol penyembahan berhala yang dihancurkan di sisi lain, melambangkan penegasan tauhid. Tauhid Kesyirikan Ditolak

Kontekstualisasi Ayat Al-Maidah 72-73

Surah Al-Maidah, yang berarti Hidangan, merupakan salah satu surah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat 72 dan 73 dalam surah ini memiliki peran krusial dalam menegaskan kembali prinsip dasar Islam, yaitu Tauhid (keesaan Allah), sambil menyoroti kesalahan fatal dalam akidah sebagian kelompok umat terdahulu.

Kedua ayat ini secara tegas menolak konsep Trinitas atau pengakuan bahwa ada entitas lain yang patut disembah selain Allah SWT. Penegasan ini sangat penting pada masa awal penyebaran Islam ketika dialog teologis antara Muslim dan Ahli Kitab (terutama Nasrani) sering terjadi.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 72

Ayat ini memulai dengan peringatan keras bagi mereka yang mengklaim bahwa Al-Masih putra Maryam adalah Tuhan.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۚ قُلْ فَمَن يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَن يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ۚ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
"Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata: 'Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putra Maryam.' Katakanlah: 'Maka siapakah yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al Masih putra Maryam, ibunya dan semua orang yang ada di bumi?' Allah jualah yang memiliki segala kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Kepada-Nya jualah kembali segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 72)

Implikasi Ayat 72

Ayat ini adalah bantahan mutlak terhadap konsep ilahiyah (ketuhanan) yang dilekatkan pada Nabi Isa AS. Argumentasinya bersifat logis dan berbasis kekuasaan absolut. Jika Isa adalah Tuhan, bagaimana mungkin ia tunduk pada kehendak ilahi lainnya, bahkan pembinasaan? Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT adalah Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Malik (Pemilik) atas seluruh alam semesta, termasuk Isa, ibunya, dan seluruh makhluk hidup. Klaim ketuhanan tersebut secara otomatis menggugurkan status keimanan (menyebabkan kekufuran) karena bertentangan langsung dengan prinsip Tauhid.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 73

Ayat berikutnya melanjutkan penolakan tersebut dengan menargetkan kelompok lain yang menyekutukan Allah dengan meyakini adanya tiga Tuhan.

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: 'Bahwasanya Allah itu salah satu dari yang tiga.' Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, niscaya orang-orang yang kafir di antara mereka itu akan ditimpa siksaan yang pedih." (QS. Al-Maidah: 73)

Penegasan Tauhid dalam Ayat 73

Ayat 73 secara spesifik membahas keyakinan Trinitas (Tiga dalam Satu), yang dianggap sebagai bentuk kesyirikan paling nyata menurut Islam. Penegasan dalam ayat ini sangat lugas: "Wama min ilahin illa Ilahun Wahid" (Tidak ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa). Ini adalah inti dari ajaran Islam.

Allah memberikan peringatan keras bahwa jika mereka tidak menghentikan perkataan tersebut, azab pedih akan menanti orang-orang kafir di antara mereka. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya Allah memandang masalah kesyirikan. Dalam Islam, Tauhid adalah landasan segala amal dan keimanan; penyimpangan dari Tauhid adalah dosa yang tidak terampuni jika dibawa hingga kematian tanpa taubat.

Pelajaran Penting dari Dua Ayat Ini

  1. Keutamaan Kekuasaan Tunggal Allah: Kedua ayat ini menekankan bahwa kekuasaan, kepemilikan, dan tujuan akhir (al-Mashiir) hanya berada di tangan Allah SWT. Tidak ada sekutu, baik itu manusia, malaikat, maupun entitas lain.
  2. Tuntutan Logika Akidah: Al-Qur'an sering menggunakan logika dalam menghadapi klaim akidah yang menyimpang. Konsep bahwa yang Maha Kuasa dapat dihancurkan atau tunduk pada kehendak lain adalah kontradiksi internal dalam klaim ketuhanan mereka.
  3. Konsistensi Peringatan: Ayat ini menunjukkan konsistensi ajaran Islam sejak awal, yaitu menolak segala bentuk penyimpangan tauhid, baik itu penuhanan individu (seperti Isa) maupun doktrin kompleks (seperti Trinitas).
  4. Konsekuensi Fatal Syirik: Ancaman azab pedih menegaskan bahwa meskipun dialog dan dakwah dilakukan, batas-batas akidah harus dijaga ketat. Syirik (menyekutukan Allah) adalah pelanggaran terbesar yang harus dihindari.

Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 72 dan 73 berfungsi sebagai pilar dalam teologi Islam, mengukuhkan bahwa keimanan sejati terwujud hanya melalui pengakuan mutlak terhadap keesaan Allah dalam segala aspek kekuasaan dan penyembahan.

🏠 Homepage