Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 72 merupakan salah satu ayat yang sering menjadi titik fokus dalam diskusi dialog antaragama, khususnya antara umat Islam dan Kristen. Ayat ini secara eksplisit menyatakan penolakan terhadap konsep ketuhanan Yesus Kristus atau Tritunggal dalam pandangan Islam. Bagi seorang yang menganut ajaran Kristen, ayat ini memerlukan pemahaman kontekstual yang mendalam, tidak hanya sebagai penolakan teologis, tetapi juga sebagai bagian dari narasi hubungan historis dan pemahaman wahyu.
Dari perspektif Kristen, ayat ini harus dilihat dalam konteks persaingan teologis yang terjadi di Jazirah Arab pada masa awal Islam. Ayat ini secara langsung menanggapi keyakinan sebagian besar umat Kristen pada saat itu—yaitu pengakuan terhadap Yesus (Al Masih) sebagai Anak Allah yang ilahi, bagian dari Trinitas (Trinitas/Tritunggal). Dalam teologi Kristen, pemahaman bahwa Yesus adalah Allah yang menjelma dan juruselamat umat manusia adalah inti dari iman.
Ayat 72 Al-Maidah mengutip perkataan yang diklaim sebagai perkataan Nabi Isa, yang menyerukan Bani Israil untuk menyembah Allah, Tuhan baik Nabi Isa maupun mereka sendiri. Bagi perspektif Kristen, kutipan ini sebenarnya mendukung narasi inti Alkitab: bahwa Yesus selalu memuliakan Allah Bapa dan menegaskan bahwa kuasa-Nya berasal dari Bapa. Namun, kesimpulan yang diambil dalam ayat tersebut—bahwa klaim ketuhanan Yesus adalah kekafiran—berbeda secara fundamental dengan doktrin utama kekristenan.
Inti ketegangan terletak pada definisi 'Anak Allah'. Dalam Kekristenan, gelar ini tidak diartikan sebagai keturunan biologis dalam pengertian manusiawi (seperti anak kandung), melainkan sebagai hubungan kekal dan substansial antara Firman (Logos) yang menjadi daging dengan Allah Bapa. Yohanes 1:1-3 menyatakan, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
Sedangkan, Al-Maidah 72 menegaskan bahwa mengasosiasikan Allah dengan keturunan (Maryam) adalah bentuk syirk (persekutuan/politeisme), yang dalam Islam dianggap sebagai dosa terbesar. Bagi orang Kristen, ajaran tentang Tritunggal (Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus—satu hakikat dalam tiga pribadi) adalah cara untuk menjelaskan misteri Allah yang Mahatahu, bukan berarti menyembah tiga tuhan terpisah. Mereka percaya bahwa penyebutan "Al Masih putera Maryam" dalam konteks penolakan keilahian-Nya adalah kesalahpahaman terhadap esensi ajaran Kristus yang sejati.
Jika dilihat dari perspektif apologetika Kristen yang mencoba membangun jembatan dialog, ayat ini menyoroti kesamaan mendasar: penyembahan kepada satu Tuhan yang Esa (Tauhid). Baik Al-Qur'an maupun Perjanjian Baru menekankan bahwa Allah Bapa adalah sumber segala kuasa dan layak disembah. Yesus sendiri sering berdoa kepada Bapa (misalnya, Yohanes 17).
Ayat 72 menekankan konsekuensi serius dari penyekutuan: kehilangan surga. Dari sudut pandang Kristen, keselamatan juga bergantung pada hubungan yang benar dengan Allah, yang dalam pandangan mereka dicapai melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Meskipun terminologinya berbeda—satu pihak menekankan penolakan syirk terhadap Allah yang Esa, pihak lain menekankan iman kepada Kristus yang Esa sebagai jalan keselamatan—keduanya sama-sama menempatkan kesetiaan mutlak kepada Tuhan di atas segalanya.
Bagi seorang Kristen, memahami Al-Maidah 72 adalah memahami penegasan tegas Islam mengenai keesaan Allah (Tauhid) dan penolakan terhadap konsep Trinitas. Alih-alih melihatnya sebagai serangan langsung terhadap iman mereka, ayat ini dapat dipandang sebagai manifestasi dari ajaran ketuhanan yang murni (monoteisme radikal) dalam Islam. Dialog yang sehat mengharuskan pengakuan bahwa meskipun narasi sejarah dan formula teologis tentang identitas Kristus berbeda secara radikal, kedua tradisi ini berbagi akar yang sama dalam memuliakan Allah Yang Maha Tinggi. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat akan batasan teologis yang tidak dapat dilintasi antara kedua keyakinan tersebut mengenai hakikat Ilahi Yesus.