Ilustrasi visualisasi wahyu dan petunjuk.
Surat Al-Maidah (Al-Ma’idah) adalah surat Madaniyah yang turun setelah Hijrah. Ayat 73 dari surat ini memiliki kedudukan yang sangat penting dalam memberikan klarifikasi fundamental mengenai tauhid, yaitu keesaan Allah SWT. Ayat ini secara tegas menanggapi klaim sekelompok orang, khususnya sebagian dari kalangan Bani Israil (Yahudi dan Nasrani), yang meyakini bahwa Nabi Isa Al-Masih adalah bagian dari ketuhanan Allah atau bahkan adalah Tuhan itu sendiri. Penegasan ini sangat krusial karena kesalahan konsep ketuhanan adalah dosa terbesar dalam Islam, yaitu syirik.
Ayat ini tidak hanya mengkritik pandangan tersebut, tetapi juga menyajikan bukti berupa perkataan langsung dari Nabi Isa a.s. sendiri, yang seolah-olah menjadi saksi atas kebenaran tauhid. Ini adalah strategi retorika Ilahi yang sangat kuat, menggunakan lisan sosok yang diklaim sebagai Tuhan untuk membantah klaim tersebut.
Inti dari Al-Maidah ayat 73 adalah peringatan keras terhadap praktik syirik. Allah SWT menegaskan bahwa anggapan bahwa Al-Masih putera Maryam adalah Tuhan adalah sebuah kekufuran yang nyata. Lafaz "Sesungguhnya telah kafir orang-orang yang berkata..." menunjukkan betapa seriusnya kesalahan ini di mata Allah. Dalam perspektif Islam, Allah adalah esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan menyekutukan-Nya dengan apapun merupakan pengkhianatan terbesar terhadap ajaran yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul, termasuk Nabi Isa a.s. itu sendiri.
Ayat ini mengutip perkataan Nabi Isa a.s. kepada kaumnya: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu." Kalimat ini merupakan penegasan bahwa Isa adalah seorang hamba dan rasul, sama seperti Allah adalah Tuhan bagi semua, termasuk dirinya. Pesan ini menekankan batas yang jelas antara penyembah dan yang disembah.
Konsekuensi dari perbuatan syirik dijelaskan dengan sangat gamblang: "Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan surga baginya, dan tempat kembalinya ialah neraka." Ini adalah peringatan definitif yang tidak meninggalkan ruang ambigu. Bagi mereka yang berbuat syirik hingga akhir hayat tanpa bertobat, balasan utamanya adalah kehilangan surga dan mendapatkan neraka sebagai tempat peristirahatan abadi.
Ayat 73 Al-Maidah mengajarkan kepada umat Islam prinsip tauhid yang murni. Ia mengingatkan bahwa landasan agama adalah keyakinan mutlak terhadap keesaan Allah. Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini relevan sepanjang masa untuk membentengi akidah umat dari segala bentuk penyimpangan, baik itu dalam bentuk pemujaan berlebihan terhadap makhluk, atau keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang setara atau bahkan melebihi Allah SWT.
Pernyataan terakhir dalam ayat tersebut, "Tidaklah ada bagi orang-orang yang zalim itu seorang penolong pun," berfungsi sebagai penutup yang menakutkan. Dzalim (orang yang melakukan kezaliman) dalam konteks ini merujuk pada mereka yang melakukan syirik, kezaliman terbesar. Pada hari penghakiman, ketika segala pertolongan duniawi lenyap, mereka tidak akan menemukan satu pun syafaat atau pembela yang dapat menyelamatkan mereka dari azab Allah.
Oleh karena itu, memahami dan menghayati Al-Maidah ayat 73 adalah sebuah keharusan bagi setiap Muslim. Ayat ini menjadi pilar untuk menjaga kemurnian ibadah dan keyakinan, memastikan bahwa fokus penyembahan hanya tertuju kepada Allah semata, Zat yang Maha Esa yang tidak memiliki sekutu.