Surah Al-Ma'idah (Hidangan) adalah salah satu surah terakhir yang diturunkan di Madinah, sarat dengan hukum-hukum syariat dan juga peringatan keras bagi mereka yang melanggar perjanjian dan hukum Allah. Ayat ke-78 dari surah ini menjadi penekanan yang signifikan mengenai konsekuensi dari pengkhianatan dan kekerasan hati yang melampaui batas. Ayat ini secara spesifik merujuk pada kaum Bani Israil yang telah diangkat derajatnya, namun kemudian banyak dari mereka yang menyimpang dari ajaran tauhid.
Ayat ini memuat dua poin utama: **laknat** dan **penyebabnya**, yaitu kedurhakaan dan melampaui batas. Kata 'dilaknat' (atau dilaknati) dalam konteks Al-Qur'an memiliki makna yang mendalam, yaitu dijauhkan dari rahmat dan kasih sayang Allah. Yang menarik, ayat ini menyebutkan bahwa laknat tersebut diturunkan melalui lisan dua Nabi besar, yaitu Nabi Daud AS dan Nabi Isa bin Maryam AS.
Nabi Daud AS, dalam beberapa riwayat, dikenal sebagai nabi yang memiliki kekuatan spiritual dan otoritas untuk menjatuhkan hukuman ilahi terhadap mereka yang terang-terangan melanggar syariat. Demikian pula, Nabi Isa AS, yang memiliki mukjizat besar, menyampaikan kebenaran dengan tegas. Hal ini menunjukkan bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh sebagian Bani Israil saat itu sangat serius sehingga memerlukan penegasan hukum dari para utusan Allah.
Penyebab utama laknat ini bukanlah sekadar kesalahan kecil, melainkan dua sifat yang sangat tercela dalam pandangan Ilahi: durhaka (yaitu membangkang terhadap perintah Allah) dan melampaui batas (i'tada'u). Melampaui batas berarti melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah, baik dalam hal muamalah (hubungan antarmanusia) maupun ibadah.
Dalam sejarah mereka, Bani Israil sering kali diperingatkan melalui para nabi, diberikan kenikmatan besar, tetapi mereka justru memilih jalan pembangkangan. Mereka membunuh nabi-nabi yang datang membawa kebenaran, merusak perjanjian, dan mengubah isi Taurat demi kepentingan hawa nafsu mereka sendiri. Sifat melampaui batas inilah yang menutup pintu rahmat bagi mereka, karena ketika seseorang sadar akan kebenaran namun tetap memilih jalan yang salah, maka kedudukannya di sisi Allah menjadi sangat rendah.
Meskipun ayat ini berbicara spesifik mengenai kaum terdahulu, pelajaran yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan abadi. Setiap umat yang menerima petunjuk (baik melalui nabi terdahulu maupun Al-Qur'an) memiliki tanggung jawab untuk mematuhi batasan-batasan syariat.
Peringatan ini berlaku bagi setiap Muslim saat ini. Ketika kita memahami hukum-hukum Allah (halal dan haram), maka menyimpang darinya karena kepentingan duniawi, hawa nafsu, atau tekanan sosial adalah bentuk kedurhakaan yang membuka peluang bagi datangnya kemurkaan atau penarikan rahmat. Ketegasan ayat ini mengingatkan bahwa konsistensi dalam ketaatan adalah kunci untuk tetap berada dalam naungan kasih sayang-Nya, sementara pelanggaran batas secara sistematis akan membawa kehancuran spiritual dan moral, sebagaimana yang dialami oleh kaum yang disebutkan dalam ayat tersebut.
Ayat 78 Surah Al-Ma'idah adalah sebuah peringatan keras yang diucapkan oleh lisan para nabi. Ia mengajarkan bahwa rahmat Allah tidak didapatkan secara otomatis hanya karena pernah mendapatkan kemuliaan atau bimbingan wahyu, melainkan harus dipertahankan melalui kepatuhan yang teguh. Melawan batas-batas yang ditetapkan Allah berarti memilih untuk berhadapan langsung dengan konsekuensi ilahi, yang puncaknya adalah dilaknat dan dijauhkan dari kebaikan sejati.
Oleh karena itu, seorang Muslim harus selalu menimbang setiap tindakannya, memastikan bahwa tidak ada kesombongan atau pengkhianatan yang terselip dalam ketaatannya, agar terhindar dari nasib umat terdahulu yang telah kehilangan kemuliaannya karena melampaui batas yang telah ditentukan.