Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan tuntunan hukum dan etika sosial. Di antara ayat-ayat penting yang menekankan prinsip fundamental dalam kehidupan bermasyarakat adalah ayat 8 dan 10. Kedua ayat ini secara spesifik berbicara tentang keharusan bersikap adil, bahkan ketika menghadapi pihak yang tidak kita sukai.
Ilustrasi keseimbangan antara keadilan dan perasaan pribadi.
Tuntutan Keadilan Mutlak: Al-Maidah Ayat 8
"Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika menjadi) saksi dan janganlah kebencian suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Maidah: 8)
Ayat 8 ini adalah fondasi etika sosial Islam. Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadi pembela keadilan, bukan hanya dalam urusan sepele, tetapi dalam setiap keputusan yang diambil, bahkan ketika berperan sebagai saksi. Poin krusial dari ayat ini terletak pada penekanan agar **kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh menjadi alasan untuk menyimpang dari kebenaran dan keadilan.**
Dalam konteks sosial atau politik, seringkali kita dihadapkan pada pihak-pihak yang kita cintai atau benci. Ayat ini mengajarkan netralitas moral yang tinggi. Keadilan harus ditegakkan tanpa memandang afiliasi, status sosial, atau sentimen pribadi. Menghindari ketidakadilan karena kebencian adalah barometer ketakwaan sejati. Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah jalan terdekat menuju takwa (kesadaran Ilahi). Ketika seseorang memilih adil di bawah tekanan emosi negatif, ia telah menunjukkan kualitas spiritualitas yang matang.
Janji dan Konsekuensi: Al-Maidah Ayat 10
Jika ayat 8 menekankan perintah untuk bersikap adil, ayat 10 melanjutkan dengan memberikan konsekuensi dan janji ilahiah yang menguatkan pentingnya prinsip tersebut. Ayat ini secara eksplisit mengingatkan tentang pertanggungjawaban akhirat.
"Dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu ketika suatu kaum hendak memanjangkan tangan (mengganggu) kamu, lalu Allah menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah orang-orang yang beriman bertawakal." (QS. Al-Maidah: 10)
Ayat 10 menjadi pengingat historis tentang pertolongan Allah. Ayat ini menyebutkan bahwa ketika ada pihak yang berniat buruk atau menyerang, pertolongan Allah datang untuk menahan tangan mereka. Hal ini berfungsi ganda: pertama, sebagai penguatan iman bahwa Allah melindungi mereka yang berada di jalan yang benar; kedua, sebagai motivasi untuk terus berpegang teguh pada perintah-Nya.
Keterkaitan antara Ayat 8 dan 10 sangat erat. Karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Kuasa menahan musuh (sebagaimana ditegaskan di ayat 10), maka seorang mukmin harus memiliki keberanian moral untuk menegakkan keadilan (ayat 8). Ketakutan akan konsekuensi duniawi atau kebencian pribadi harus dikesampingkan, karena pertolongan Allah sudah dijamin bagi mereka yang bertakwa. Ayat ini menutup dengan seruan untuk bertawakal sepenuhnya kepada Allah, meletakkan hasil dari penegakan keadilan di tangan-Nya.
Implikasi Praktis untuk Umat
Prinsip dalam Al-Maidah 8 dan 10 memiliki implikasi luas dalam kehidupan modern. Dalam interaksi sehari-hari, ini berarti kita harus mampu memberikan apresiasi atau kritik secara seimbang tanpa dibuai sentimen suka atau tidak suka. Dalam ranah hukum dan pemerintahan, ayat ini menuntut imparsialitas total dari para hakim dan penegak hukum. Jika kebencian kepada suku, ras, atau golongan tertentu bisa mengalahkan prinsip keadilan, maka masyarakat akan runtuh dalam ketidakpercayaan.
Keadilan yang diajarkan Al-Qur'an adalah keadilan yang tidak berpihak, didasarkan pada kebenaran objektif, dan ditopang oleh ketakwaan pribadi. Ayat 8 mengingatkan kita bahwa "berlaku adil itu lebih dekat kepada takwa," sebuah formula sederhana namun revolusioner. Ini menunjukkan bahwa tindakan keadilan adalah praktik spiritual yang fundamental. Dengan memahami dan mengamalkan kedua ayat ini, seorang Muslim membangun karakter yang kuat, yang tidak mudah goyah oleh emosi sesaat, melainkan teguh pada prinsip Ilahi yang abadi. Allah SWT menjamin bahwa usaha untuk berlaku adil akan selalu diperhatikan dan dibalas dengan pertolongan-Nya.