Konteks Ayat
Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surah kelima dalam Al-Qur'an. Ayat 78 dan 79 secara spesifik memberikan peringatan keras terhadap kaum Bani Israil yang saat itu banyak tinggal di sekitar Madinah, serta memberikan gambaran umum mengenai posisi mereka di hadapan Allah SWT.
Kedua ayat ini sering kali dibaca bersamaan karena keduanya saling melengkapi dalam menyampaikan pesan penegasan kekuasaan Allah dan konsekuensi dari pengingkaran terhadap perintah-Nya. Ayat-ayat ini menyoroti bagaimana kerusakan moral dan penolakan terhadap kebenaran membawa pada konsekuensi ilahiyah yang nyata.
Teks dan Terjemahan Ayat
Ayat 78
Ayat 79
Analisis dan Hikmah yang Diambil
Laknat dan Peringatan Keras
Ayat 78 dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas: "Telah dilaknat..." Laknat adalah pengusiran dari rahmat Allah. Menariknya, laknat ini diucapkan melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi Isa. Ini menunjukkan bahwa teguran keras datang dari para nabi yang diutus kepada mereka. Nabi Dawud, yang diberikan Taurat, dan Nabi Isa, yang menerima Injil, sama-sama menyaksikan pembangkangan kaumnya. Penyebutan nama kedua nabi ini menekankan bahwa penolakan mereka bukanlah terhadap satu ajaran saja, melainkan terhadap esensi kebenaran yang dibawa oleh para rasul.
Penyebab utama laknat ini disebutkan dengan jelas: "disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas." Durhaka ('ashaw) adalah pelanggaran terhadap perintah Allah, sementara melampaui batas (ya'tadun) adalah tindakan melanggar norma dan hukum yang ditetapkan, sering kali merugikan orang lain.
Bahaya Diam Terhadap Kemungkaran (Ayat 79)
Ayat 79 memberikan gambaran diagnosis sosial atas kebobrokan tersebut. Masalah utama bukan hanya pada pelaku dosa, tetapi juga pada masyarakat yang membiarkannya. Frasa "Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang perbuatan mungkar yang mereka kerjakan" adalah teguran pedas bagi komunitas mana pun yang membiarkan kemaksiatan merajalela tanpa ada upaya korektif dari sesama anggotanya.
Dalam Islam, konsep amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran) adalah pilar utama menjaga kesucian umat. Ayat ini menunjukkan bahwa ketika mekanisme pengawasan moral ini mati, maka kehancuran sosial akan menyusul. Ketika lingkungan sudah terbiasa melihat keburukan tanpa reaksi, maka keburukan tersebut dianggap norma baru, yang menghasilkan kesimpulan pedih: "Sejahat-jahat apa yang mereka perbuat itu."
Relevansi Kontemporer
Meskipun konteksnya ditujukan kepada Bani Israil pada masa lalu, pelajaran dari Al-Maidah 78-79 bersifat universal dan abadi. Pelajaran ini berlaku bagi umat Nabi Muhammad SAW dan seluruh umat manusia. Setiap generasi diingatkan bahwa kemaksiatan kolektif, didukung oleh sikap diam dan pembiaran, akan mendatangkan murka Tuhan.
Peringatan ini mendesak kita untuk proaktif dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Tidak cukup hanya menjauhi dosa secara personal; kita bertanggung jawab moral untuk mengingatkan sesama ketika melihat penyimpangan serius yang mengancam integritas kolektif.
Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim diingatkan bahwa Allah Maha Melihat dan tidak akan membiarkan kedurhakaan tersembunyi. Konsekuensi dari sikap melampaui batas dan membiarkan kemungkaran adalah kehilangan rahmat ilahi, sebuah keadaan yang jauh lebih ditakuti daripada hukuman duniawi mana pun.
Oleh karena itu, penghayatan mendalam terhadap Al-Maidah 78 dan 79 harus memotivasi umat Islam untuk senantiasa berada di garis depan dalam menyeru kebaikan dan menolak keburukan dengan cara yang bijaksana, sesuai tuntunan syariat.