Surah Al-Maidah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pedoman hidup, hukum, dan kisah kenabian. Di antara ayat-ayat yang sangat vital dalam menata hubungan sosial dan moralitas adalah rangkaian ayat 80 hingga 90. Bagian ini menyoroti teguran keras kepada mereka yang bersekutu dengan musuh Islam dan memberikan pelajaran mendalam mengenai keadilan, sumpah, serta konsekuensi dari perbuatan buruk. Memahami konteks dan makna ayat-ayat ini sangat krusial bagi setiap Muslim dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip ilahi dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat 80-82 dibuka dengan peringatan keras kepada orang-orang Mukmin mengenai sikap mereka terhadap musuh-musuh agama. Allah menegur kaum yang masih bersahabat akrab dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya.
(Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi teman-teman penolongmu; mereka itu adalah penolong bagi satu sama lain. Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi teman penolongnya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.) (QS. Al-Maidah: 51, konteks ayat 80-82 juga membahas hal serupa dalam konteks sanksi).
Ayat ini menegaskan bahwa loyalitas sejati haruslah kepada Allah dan Rasul-Nya, bukan kepada kelompok yang secara aktif memusuhi kebenaran. Kesalahan fatal adalah ketika ikatan persahabatan duniawi melampaui ikatan iman, yang pada akhirnya akan menempatkan seseorang pada posisi yang sama dengan orang-orang zalim di mata Allah.
Selanjutnya, ayat 81-82 menyoroti bagaimana kaum munafik dan mereka yang hatinya sakit akan bergegas mencari perlindungan kepada orang-orang musyrik ketika dihadapkan pada konflik, menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap janji pertolongan Allah.
Setelah teguran keras, Al-Maidah 83-87 beralih memberikan penguatan moral dengan merujuk pada pengalaman Bani Israil. Ketika mereka mendengar kebenaran dari Al-Qur'an, mata mereka tercurah air mata karena mereka mengenali kebenaran tersebut.
Ayat 84 secara implisit mengajak umat Islam untuk mengambil pelajaran dari umat terdahulu, seraya menegaskan keyakinan mereka:
"Mengapa kami tidak beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, sedang kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami bersama orang-orang saleh?" (QS. Al-Maidah: 84).
Ayat-ayat ini menekankan bahwa kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW harus diterima dengan kerendahan hati dan pengakuan, bukan dengan kesombongan atau penolakan. Penegasan iman ini menjadi kunci untuk mendapatkan rahmat Allah berupa surga bersama orang-orang saleh.
Bagian akhir dari rentang ayat ini memberikan pedoman praktis mengenai sumpah dan makanan. Ayat 88 memerintahkan kaum Mukmin untuk memakan rezeki yang halal dan baik (thayyib), serta mengingatkan bahwa sumpah yang diucapkan dengan main-main atau tanpa kesadaran penuh tidak memiliki nilai pertanggungjawaban yang berat di sisi Allah.
Namun, ayat 89 secara tegas membedakan antara sumpah yang tidak disengaja dan sumpah yang disengaja. Sumpah yang diikrarkan dengan sadar harus dipenuhi. Jika seseorang melanggar janji yang telah diikrarkan dengan sungguh-sungguh, maka ia wajib menebusnya (kafarat), yang bentuknya bisa berupa memberi makan sepuluh orang miskin, atau memberi pakaian, atau memerdekakan budak. Jika tidak mampu, maka kifaratnya adalah berpuasa tiga hari. Ini menunjukkan betapa seriusnya Islam memandang komitmen dan janji.
Puncak dari segmen ini adalah ayat 90, yang melarang keras mengonsumsi khamr (minuman keras), judi, berkorban untuk berhala, dan mengundi nasib dengan panah. Semua itu disebut sebagai perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan.
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah, itu adalah najis dari perbuatan syaitan, maka jauhilah ia agar kamu mendapat keberuntungan." (QS. Al-Maidah: 90).
Larangan ini fundamental karena perbuatan-perbuatan tersebut merusak akal, memicu permusuhan, dan menjauhkan manusia dari mengingat Allah. Keberuntungan sejati (falah) hanya bisa dicapai dengan menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang dinisbahkan kepada syaitan.
Secara keseluruhan, Al-Maidah 80 hingga 90 berfungsi sebagai pedoman komprehensif mengenai tiga pilar utama kehidupan beragama: kesetiaan ideologis (tidak bersekutu dengan musuh Allah), kesadaran historis (mengambil ibrah dari umat terdahulu), dan integritas moral (menjaga sumpah serta menghindari zat-zat yang merusak akal dan jiwa). Konsistensi antara iman yang diucapkan lisan dan praktik yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari adalah esensi yang ditekankan oleh ayat-ayat ini.