Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, Al-Qur'an berfungsi sebagai kompas utama. Di antara lautan ayat yang memberikan petunjuk, Surah Al-Maidah (Hidangan) memegang peranan penting, khususnya ayat ke-87. Ayat ini sering menjadi sorotan dalam pembahasan mengenai batasan-batasan (halal dan haram) yang ditetapkan oleh Allah SWT. Ayat ini bukan sekadar larangan, melainkan kerangka kerja untuk menjaga kemaslahatan umat manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik (tayyibāt) yang telah Allah halalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."
Pesan pertama dari ayat 87 adalah teguran keras terhadap praktik pengkultusan agama secara berlebihan yang justru merugikan diri sendiri. Pada masa awal Islam, ada beberapa sahabat yang, karena semangat beribadah yang terlalu tinggi, menetapkan puasa setiap hari, tidak tidur malam untuk shalat, atau bersumpah untuk tidak lagi mengonsumsi daging atau wanita (menjauhi pernikahan).
Tindakan ini, meskipun didasari niat baik, dianggap melampaui batas yang ditetapkan syariat. Allah menegaskan bahwa segala sesuatu yang diciptakan dan dihalalkan (tayyibāt) adalah karunia yang patut dinikmati dengan rasa syukur, bukan ditolak karena kesalehan yang keliru. Islam adalah agama pertengahan (ummatan wasathan), menolak ekstremisme dalam bentuk apapun, baik itu dalam penghalalan segala sesuatu (liberalisasi) maupun pengharaman segala sesuatu (asketisme berlebihan).
Bagian kedua ayat ini sangat krusial: "dan janganlah kamu melampaui batas." Melampaui batas dalam konteks ini mencakup dua sisi:
Ayat ini mengajarkan bahwa keseimbangan adalah kunci. Rahmat Allah sangat luas, namun batasan-batasan (hudud) ditetapkan untuk menjaga ketertiban sosial, spiritual, dan fisik manusia. Ketika batasan itu dilanggar, baik dengan mengabaikannya atau melebihinya, kita telah keluar dari koridor keridaan-Nya.
Dalam kehidupan modern, memahami Al-Maidah 87 sangat relevan. Ini mengajarkan kita untuk kritis terhadap tren gaya hidup yang ekstrem. Misalnya, dalam hal makanan, larangan terhadap sesuatu yang jelas-jelas membahayakan (seperti makanan yang kotor atau beracun) harus ditaati. Sebaliknya, menganggap makanan sehat atau rekreasi yang mubah sebagai dosa besar adalah bentuk melampaui batas dalam pengharaman.
Intinya, ayat ini memerintahkan umat Islam untuk hidup dalam рамkа tasamuh (toleransi dalam konteks kemudahan syariat) tanpa terjebak dalam ghuluw (berlebihan). Allah menyukai kemudahan yang Dia tetapkan, asalkan kemudahan itu tidak menjerumuskan pada keburukan. Menjalani hidup sesuai panduan Al-Maidah 87 berarti menerima karunia Allah dengan rasa syukur, sambil tetap menghormati batasan yang ditetapkan-Nya untuk menjaga kesucian hidup beriman.
Dengan demikian, ayat ini adalah pengingat abadi: Nikmatilah apa yang baik, jauhi apa yang buruk, dan jangan pernah menciptakan aturan baru yang membatasi rahmat Allah sendiri.