Ilustrasi Simbolis Kemuliaan Manusia
Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang membahas berbagai aspek akidah, sejarah, dan etika. Di tengah pembahasan mengenai Bani Israil dan peristiwa penting kenabian, terdapat ayat yang secara universal menegaskan kedudukan mulia penciptaan manusia. Ayat tersebut adalah Surat Al-Isra ayat 70.
Ayat ini menegaskan bahwa Allah SWT telah memberikan kehormatan kepada seluruh anak cucu Adam, tanpa memandang ras, status sosial, atau latar belakang mereka. Kehormatan ini adalah anugerah fundamental yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Ayat 70 Al-Isra ini mengandung tiga poin utama yang menekankan kemuliaan manusia. Pertama, penegasan langsung "Sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam". Pemuliaan ini bersifat inheren sejak penciptaan, yaitu pemberian akal, kehendak bebas (ikhtiyar), dan kemampuan untuk memikul amanah.
Kehormatan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga fisik dan intelektual. Islam mengajarkan bahwa setiap nyawa manusia memiliki nilai yang sangat tinggi. Hilangnya satu nyawa tanpa alasan yang benar adalah setara dengan hilangnya seluruh umat manusia, sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya (Al-Isra ayat 33).
Poin kedua yang disebutkan ayat adalah fasilitas yang diberikan Allah SWT untuk menunjang kehidupan manusia di dunia. Ayat ini menyebutkan: "Kami angkut mereka di darat dan di laut, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik."
Kemampuan manusia untuk menaklukkan daratan (dengan membangun infrastruktur, pertanian, transportasi) dan lautan (dengan membuat kapal dan menjelajah samudra) adalah bukti konkret dari kelebihan yang diberikan Allah SWT. Rezeki yang baik (thayyibat) menekankan bahwa manusia diperbolehkan menikmati karunia alam, selama cara memperolehnya sesuai dengan syariat.
Kemampuan untuk berpikir, merancang, dan berinovasi—yang kita kenal sebagai sains dan teknologi—adalah manifestasi dari pemuliaan ini. Manusia diberi instrumen untuk mengelola bumi, menjadikannya khalifah (pemimpin) di muka bumi.
Poin ketiga yang sangat penting adalah penegasan superioritas manusia: "dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."
Keunggulan ini utamanya terletak pada kapasitas spiritual dan intelektual. Malaikat memiliki ketaatan penuh, namun mereka tidak memiliki kehendak bebas untuk memilih maksiat. Hewan memiliki kekuatan fisik atau kecepatan, namun mereka tidak memiliki akal untuk memahami konsep ketuhanan atau moralitas. Manusia, dengan akal dan hati nuraninya, berada pada posisi unik untuk memilih antara ketaatan dan pembangkangan, antara kebaikan dan keburukan.
Kemuliaan ini menuntut tanggung jawab besar. Jika manusia menyia-nyiakan akal dan potensi yang dianugerahkan, dan justru jatuh ke dalam perilaku yang lebih rendah dari binatang (seperti zalim, aniaya, atau menolak kebenaran), maka sejatinya mereka telah meruntuhkan kehormatan yang diberikan Allah SWT kepada mereka.
Memahami Al-Isra ayat 70 harus mendorong sikap yang lebih bertanggung jawab. Pertama, sikap menghargai sesama manusia. Karena semua adalah Bani Adam yang dimuliakan, maka diskriminasi berdasarkan warna kulit, kekayaan, atau bangsa adalah tindakan yang bertentangan dengan prinsip dasar ayat ini.
Kedua, kewajiban untuk menjaga lingkungan. Fasilitas darat dan laut adalah titipan (amanah) yang harus dijaga, bukan dieksploitasi secara membabi buta. Sikap syukur diwujudkan melalui pengelolaan yang bijaksana.
Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa manusia diciptakan dengan potensi tertinggi. Tugas kita adalah menjaga dan mengembangkan potensi tersebut agar pemuliaan yang diberikan Allah SWT benar-benar terealisasi, baik di mata Allah maupun dalam interaksi sosial kita dengan sesama makhluk ciptaan-Nya.