Surat Al-Maidah adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong Madaniyah dan dikenal karena mengandung banyak sekali pembahasan hukum-hukum syariat yang rinci, termasuk pembahasan mengenai perjanjian, makanan yang halal dan haram, hukum pidana, hingga kisah-kisah kenabian.
Membahas Al Maidah ayat 1 sampai selesai berarti menelaah keseluruhan ayat dari surat yang sangat kaya akan petunjuk ini, mencakup ayat 1 hingga ayat 120. Berikut adalah ringkasan dan penekanan pada beberapa bagian penting dari surat ini.
1. Ayat pembuka ini menekankan pentingnya menepati janji (aqad) dan ketaatan penuh kepada perintah Allah, kecuali dalam hal yang diharamkan Allah.
3. Ayat yang sering disebut sebagai "Ayat penyempurnaan agama" (Al-Yaum Akmaltu Lakum Dinakum). Ayat ini mengharamkan bangkai, darah, daging babi, serta hewan yang disembelih atas nama selain Allah. Hal ini menegaskan batasan-batasan makanan dalam Islam.
5. Ayat ini menghalalkan makanan yang baik (Thayyibat) dan memperbolehkan pernikahan dengan wanita dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), dengan syarat mereka menjaga kesucian diri.
Bagian tengah Al-Maidah sangat tegas mengatur tentang keadilan sosial dan penerapan hukum pidana (hudud). Ayat-ayat ini menekankan bahwa hukuman harus diterapkan secara adil dan tegas bagi pelaku kejahatan seperti perampokan dan pembunuhan. Al Maidah ayat 1 sampai selesai secara kolektif menyerukan penegakan syariat demi ketertiban masyarakat.
33. Menjelaskan hukuman berat bagi mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta berbuat kerusakan di muka bumi (fasad), yaitu dibunuh, disalib, atau diamputasi tangan dan kaki secara bersilang.
38. Menetapkan hukuman potong tangan bagi pencuri.
Surat ini kemudian beralih membahas pentingnya Nabi Muhammad SAW sebagai hakim (pembuat keputusan) berdasarkan apa yang diwahyukan Allah, dan peringatan keras terhadap orang-orang yang menolak hukum Allah demi hukum buatan manusia atau mengikuti hawa nafsu kaum lain.
Ayat 49 secara spesifik mengingatkan umat untuk berhukum dengan apa yang diturunkan Allah dan tidak berpaling dari kebenaran tersebut.
Bagian ini juga menceritakan bagaimana kaum Yahudi dan Nasrani (Ahli Kitab) seringkali menyimpang dari ajaran aslinya, yang kemudian menjadi pelajaran bagi umat Islam untuk tidak mengikuti jalan tersebut.
Nama surat ini diambil dari bagian kisah tentang permintaan para Hawariyyin (murid Nabi Isa AS) akan sebuah hidangan dari langit (Al-Maidah).
112-115. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa mukjizat harus dihormati dan tidak dijadikan alat tawar-menawar atau uji coba. Nabi Isa AS menegaskan bahwa mukjizat terakhirnya adalah doa kepada Allah untuk menurunkan hidangan tersebut, dan setelah itu, keimanan sejati harus tegak berdasarkan keyakinan, bukan terus menerus meminta pemandangan supranatural.
Penutup surat ini menegaskan keesaan Allah dan kedaulatan-Nya atas alam semesta.
118. Nabi Isa AS pada hari kiamat akan memberikan kesaksian bahwa dia hanya menyampaikan risalah, tidak pernah menyuruh umatnya untuk menyembahnya atau menyembah ibunya.
120. Ayat terakhir Surat Al-Maidah menutup dengan penegasan bahwa kekuasaan di langit dan di bumi hanyalah milik Allah SWT. Segala urusan bermuara kembali kepada-Nya.
Secara keseluruhan, menelaah Al Maidah ayat 1 sampai selesai memberikan panduan komprehensif mengenai ibadah ritual (seperti Haji dan Wudhu di ayat 6), hukum perdata dan pidana, etika sosial, serta peringatan keras terhadap penyimpangan akidah dan hukum. Surat ini adalah pilar penting dalam perundang-undangan Islam.