Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Muslim, berisi petunjuk, peringatan, serta janji-janji kebahagiaan bagi mereka yang taat. Salah satu ayat yang sarat makna tentang konsekuensi perbuatan dan janji ilahi adalah Surah Al-Maidah ayat ke-10. Ayat ini seringkali dikutip karena secara tegas memisahkan antara mereka yang beriman dan mereka yang melakukan pelanggaran berat. Mempelajari ayat ini bukan sekadar menghafal teks, melainkan meresapi filosofi keadilan dan rahmat Allah SWT.
Dalam konteks sosial dan spiritual, ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada perbuatan baik atau buruk yang luput dari pengawasan Ilahi. Konsekuensi dari setiap pilihan akan tercermin pada hasil akhir yang dijanjikan, baik berupa surga atau siksa.
Berikut adalah teks asli Arab dan terjemahan dari Surah Al-Maidah ayat ke-10:
Ayat ini merupakan seruan langsung kepada kaum mukminin untuk senantiasa mengingat rahmat dan pertolongan Allah di saat-saat kritis. Kisah ini merujuk pada sebuah peristiwa historis di mana umat Islam dihadapkan pada ancaman fisik, namun Allah SWT dengan kuasa-Nya menahan niat buruk musuh tersebut.
Ayat dimulai dengan perintah "Ingatlah nikmat Allah!". Ini menekankan bahwa syukur bukan hanya ritual lisan, tetapi sebuah kesadaran mendalam bahwa setiap keamanan dan keberhasilan yang diraih adalah atas dasar pertolongan-Nya. Dalam kehidupan modern, nikmat tersebut dapat berupa kesehatan, keluarga, atau kesempatan untuk beribadah dengan tenang. Mengingat nikmat akan menumbuhkan kerendahan hati dan menjauhkan dari kesombongan.
Inti kedua dari ayat ini adalah penegasan akan perlindungan ilahi. Ketika kaum mukminin dihadapkan pada niat jahat yang tampak nyata, pertahanan terkuat mereka adalah keimanan. Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun kita harus berusaha secara fisik (ikhtiar), hasil akhirnya diserahkan kepada Allah. Tawakal yang sesungguhnya adalah keyakinan mutlak bahwa Allah memiliki kuasa untuk membatalkan rencana terburuk sekalipun.
Setelah mengingatkan tentang pertolongan dan memerintahkan untuk bertawakal, Allah menyisipkan perintah fundamental: "Dan bertakwalah kepada Allah." Takwa adalah pondasi yang menyatukan syukur dan tawakal. Tanpa ketakwaan, nikmat bisa berubah menjadi malapetaka, dan tawakal hanyalah bualan kosong. Ketakwaan di sini berarti mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, terutama dalam situasi genting.
Penutup ayat menegaskan, "hanya kepada Allah sajalah orang-orang yang beriman itu bertawakal." Ini membatasi cakupan tawakal hanya bagi mereka yang benar-benar memenuhi syarat sebagai orang beriman. Iman yang kokoh secara otomatis mengarahkan hati dan pikiran kepada Allah sebagai satu-satunya pelindung yang sejati, bukan pada kekuatan material, jumlah pasukan, atau persenjataan semata.
Meskipun ayat ini memiliki konteks historis spesifik, pelajarannya bersifat universal. Dalam menghadapi tantangan zaman—mulai dari krisis ekonomi, pandemi, hingga gejolak sosial—Ayat Al-Maidah 10 menjadi pengingat bahwa kekuatan sejati umat bukanlah pada kemampuan rekayasa manusia, melainkan pada hubungan spiritual mereka dengan Sang Pencipta. Ketika kita merasa terdesak atau terancam, kembali mengingat pertolongan Allah di masa lalu dan memurnikan takwa adalah kunci untuk menemukan ketenangan dan jalan keluar.
Oleh karena itu, Al-Maidah ayat 10 berfungsi sebagai doktrin penguatan mental bagi seorang Muslim: bersyukur atas keamanan yang telah diberikan, waspada melalui takwa, dan berserah penuh (tawakal) atas hasil perjuangan.