Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan kisah-kisah penting dalam sejarah Islam. Salah satu episode paling mengharukan yang diceritakan di dalamnya adalah permintaan kaum Nabi Isa Al-Masih terhadap mukjizat berupa hidangan yang diturunkan langsung dari langit. Permintaan ini dicatat secara spesifik dalam Al-Maidah ayat 112 hingga 115. Ayat 115 secara khusus berfungsi sebagai penutup dan penegasan janji Allah SWT kepada Nabi Isa mengenai konsekuensi bagi mereka yang menolak iman setelah menyaksikan bukti nyata.
Permintaan ini muncul setelah para pengikut Nabi Isa (Hawariyyin) merasa sedikit ragu atau mungkin membutuhkan penguatan iman yang lebih konkret, terutama terkait dengan kemampuan Nabi Isa dalam hal-hal gaib. Kisah ini menyoroti bagaimana mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran, namun juga menunjukkan bahwa iman sejati tidak hanya bergantung pada apa yang terlihat mata, tetapi lebih kepada penyerahan diri total kepada kehendak Ilahi.
Mukjizat ini, yang dikenal sebagai "Al-Ma’idah," adalah sebuah peristiwa luar biasa yang menjadi ujian keimanan hakiki bagi mereka yang menyaksikannya.
Ayat 115 melanjutkan doa Nabi Isa kepada Allah SWT. Setelah permintaan hidangan diajukan, ayat ini merekam bagian akhir dari doa tersebut, yang sekaligus mencakup tiga tujuan utama dari mukjizat yang diminta:
Setelah Nabi Isa berdoa dengan penuh khushu' dan keyakinan seperti yang tertera dalam ayat 115, Allah mengabulkan permintaan tersebut, seperti yang dijelaskan dalam ayat-ayat setelahnya (Al-Maidah: 116-117). Turunnya hidangan tersebut menjadi bukti kebenaran yang agung.
Namun, ayat 115 juga mengandung implikasi peringatan. Allah berjanji akan memberikan hidangan tersebut, tetapi Dia juga menetapkan konsekuensi berat bagi siapa pun yang setelah melihat bukti nyata tersebut (mukjizat) kemudian menjadi kafir. Konsekuensi ini dijelaskan sebagai azab yang belum pernah Dia timpakan kepada siapa pun sebelum mereka. Ini menekankan bahwa setelah kejelasan bukti Ilahi ditunjukkan, penolakan iman menjadi dosa yang jauh lebih besar dan layak mendapatkan hukuman yang setimpal di dunia maupun akhirat.
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 115 adalah pelajaran tentang bagaimana para nabi memohon pertolongan Allah dalam bentuk mukjizat demi menguatkan umatnya, namun pada saat yang sama, menegaskan bahwa ketaatan dan iman harus mengikuti setelah bukti diturunkan. Permintaan itu sendiri adalah ibadah, dan penegasan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki adalah inti dari penghambaan.