Kajian Mendalam Al-Maidah Ayat 116

Pengenalan Ayat

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surah kelima dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Ayat 116 dari surah ini memegang peranan sentral dalam menjelaskan tentang keyakinan esensial umat Islam, khususnya mengenai status Nabi Isa AS (Yesus) dan hubungannya dengan Allah SWT. Ayat ini seringkali menjadi titik fokus dalam dialog teologis dan pemahaman akidah Islam mengenai Trinitas dan keilahian Isa.

Ayat ini merupakan konfirmasi tegas dari Allah SWT mengenai status hamba-Nya, Nabi Isa. Di dalamnya terkandung penegasan bahwa Isa adalah seorang hamba dan Rasul, bukan anak Tuhan, sekaligus menjadi peringatan keras bagi mereka yang menyimpang dari tauhid murni.

Teks Al-Maidah Ayat 116

وَاِذْ قَالَ ٱللَّهُ يَا عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ ءَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَٰنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِى بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُۥ فَقَدْ عَلِمْتَهُۥ ۚ تَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِى وَلَآ أَعْلَمُ مَا فِى نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ ٱلْغُيُوبِ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, 'Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah'?" Isa menjawab, "Maha Suci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka Engkaulah yang mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui segala yang gaib."

Allah SWT Isa AS Dialog Penegasan Tauhid

Ilustrasi dialog penegasan keesaan Allah.

Analisis Isi Ayat

Ayat 116 Al-Maidah adalah inti dari klarifikasi ilahiah yang terjadi pada Hari Kiamat. Allah SWT bertanya langsung kepada Nabi Isa AS, menanyakan apakah beliau pernah menyuruh umatnya menjadikan beliau dan ibunya sebagai tuhan selain Allah. Jawaban Nabi Isa adalah penolakan yang tegas, penuh pengagungan terhadap Allah (tasbih), dan pengakuan atas keterbatasan dirinya.

Penolakan Tegas Isa AS

Jawaban Isa, "Maha Suci Engkau! Tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku," menunjukkan tingginya rasa takut dan penghormatan beliau kepada Sang Pencipta. Bagi seorang Nabi yang diutus untuk membawa syariat tauhid, menyuruh manusia menyembah selain Allah adalah hal yang mustahil dan bertentangan dengan seluruh risalah yang dibawanya.

Pengakuan Batasan Ilmu

Bagian selanjutnya dari jawaban Isa, "Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui segala yang gaib," menekankan pemisahan mutlak antara sifat kemanusiaan Isa dengan kesempurnaan ilahiah Allah.

Ini adalah bantahan terkuat terhadap doktrin yang menempatkan Isa pada posisi ilahi atau anak Tuhan, karena seorang Tuhan tidak akan memiliki batasan ilmu seperti itu.

Implikasi Teologis

Al-Maidah ayat 116 memiliki beberapa implikasi mendasar dalam teologi Islam:

  1. Penegasan Tauhid: Ayat ini mengukuhkan prinsip tauhid (keesaan Allah) secara mutlak. Tidak ada sekutu bagi Allah, dan tidak ada yang layak disembah selain Dia.
  2. Status Nabi Isa: Ayat ini mengkonfirmasi status Nabi Isa sebagai hamba Allah dan rasul-Nya, yang memiliki mukjizat besar, namun tetap manusia biasa yang membutuhkan rahmat Allah.
  3. Peringatan Bagi Umat Lain: Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras bagi umat-umat yang telah menyimpang dari ajaran awal para nabi, khususnya mengenai pemujaan terhadap figur-figur suci.
  4. Kepastian di Hari Akhir: Kejadian ini menggambarkan bagaimana pada hari penghakiman kelak, semua kesalahpahaman mengenai status para Nabi akan diklarifikasi secara langsung oleh Allah SWT.

Kajian terhadap ayat ini mengingatkan umat Muslim untuk senantiasa menjaga kemurnian akidah, tidak mengagungkan siapapun melebihi batas yang ditetapkan Allah, serta berpegang teguh pada wahyu yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi.

🏠 Homepage