Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 13
"Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah-ubah [isi] perkataan dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebahagian daripada peringatan yang diberikan kepada mereka. Dan kamu (Muhammad) akan terus-menerus meneropong pengkhianatan dari mereka kecuali segelintir kecil di antara mereka. Maka maafkanlah mereka dan berpalinglah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik."
Konteks Historis dan Sebab Nuzul
Surat Al-Maidah merupakan surat Madaniyah yang turun setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Ayat ke-13 ini secara spesifik berbicara mengenai Bani Israil dan konsekuensi dari pelanggaran perjanjian (mīthāq) yang telah Allah tetapkan kepada mereka. Perjanjian ini mencakup ketaatan terhadap Taurat, pelaksanaan hukum-hukum ilahi, dan mengikuti para nabi yang diutus.
Konteks ayat ini sering dikaitkan dengan penolakan mereka terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW, pengingkaran terhadap ayat-ayat yang telah mereka terima sebelumnya, serta tindakan penyelewengan terhadap ajaran-ajaran suci mereka sendiri. Allah SWT memberikan sanksi spiritual yang berat atas pengkhianatan berulang ini.
Analisis Perkataan Kunci dalam Ayat
Ayat ini mengandung empat poin utama sebagai dampak dari pelanggaran janji tersebut:
- Kami kutuki mereka (لَعَنَّاهُمْ): Kutukan di sini bukan hanya berarti dijauhkan dari rahmat, tetapi juga kehilangan bimbingan ilahi dan keberkahan dalam kehidupan mereka.
- Kami jadikan hati mereka keras membatu (قَاسِيَةً): Ini adalah hukuman paling berbahaya. Hati yang keras menolak menerima kebenaran (hidayah) meskipun telah disajikan bukti yang nyata. Ini adalah akibat logis dari penolakan berkelanjutan terhadap perintah Allah.
- Mereka mengubah-ubah perkataan (يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ): Tindakan ini menunjukkan upaya aktif untuk memalsukan teks-teks suci agar sesuai dengan kepentingan duniawi atau hawa nafsu mereka. Mereka menempatkan kata-kata di luar konteks aslinya.
- Mereka melupakan sebahagian peringatan (وَنَسُوا حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا بِهِ): Lupa di sini lebih bermakna meninggalkan secara sengaja, bukan sekadar kelalaian biasa. Mereka meninggalkan bagian-bagian ajaran yang dianggap berat atau bertentangan dengan keinginan mereka.
Peringatan akan Pengkhianatan yang Berkelanjutan
Ayat ini menegaskan bahwa sifat pengkhianatan dan penyelewengan ini bukan hanya terjadi di masa lalu, tetapi terus menjadi ciri khas dari mayoritas di antara mereka. Allah mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa Ia akan terus melihat pengkhianatan (خَائِنَةٍ) dari mereka. Ini mengindikasikan bahwa meskipun ada upaya dialog dan dakwah, resistensi mereka terhadap kebenaran sangat kuat.
Namun, ayat ini memberikan jeda yang signifikan: "kecuali segelintir kecil di antara mereka." Ini menunjukkan bahwa selalu ada kelompok minoritas yang tetap memegang teguh kebenaran, yang kemudian menjadi dasar bagi umat Islam untuk tetap berharap dan terus berinteraksi dengan mereka yang beriman di antara Ahlul Kitab.
Sikap Memaafkan dan Berpaling
Bagian penutup ayat ini memberikan arahan langsung kepada Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi pengkhianatan tersebut: "Maka maafkanlah mereka dan berpalinglah." Ini adalah bentuk diplomasi ilahi yang mengajarkan kesabaran tingkat tinggi.
Memaafkan di sini bukan berarti merestui kesalahan mereka, melainkan menahan diri dari pembalasan langsung dan fokus pada dakwah yang lebih luas. Ini menunjukkan kemuliaan akhlak Nabi SAW yang tidak terjebak dalam dendam atas kesalahan masa lalu kelompok yang telah Allah hukum. Penutup ayat dengan pujian "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinin)" menekankan bahwa puncak dari ketabahan menghadapi pembangkangan adalah dengan membalas keburukan dengan kebaikan (ihsan).
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 13 berfungsi sebagai pelajaran historis tentang konsekuensi serius dari pelanggaran perjanjian suci, sekaligus sebagai pedoman etika bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan pihak lain, yaitu dengan mengedepankan pengampunan dan ihsan meskipun dihadapkan pada pengkhianatan.