وَمِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ إِنَّا نَصَٰرَىٰٓ أَخَذْنَا مِيثَٰقَهُمْ فَنَسُوا۟ حَظًّا مِّمَّا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَأَغْرَيْنَا بَيْنَهُمُ ٱلْعَدَاوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ ۖ وَسَوْفَ يُنَبِّئُهُمُ ٱللَّهُ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ
Dan dari orang-orang yang berkata, "Sesungguhnya kami ini adalah orang Nasrani," (Kami ambil perjanjian mereka), lalu mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka perbuat. (QS. Al-Maidah: 14)
Surah Al-Maidah, yang merupakan salah satu surah Madaniyah, membahas banyak hal terkait hukum, perjanjian, dan interaksi umat Islam dengan Ahli Kitab. Ayat ke-14 ini secara spesifik menyoroti salah satu kelompok Ahli Kitab, yaitu mereka yang mengaku sebagai pengikut agama Nasrani (Kristen). Ayat ini berfungsi sebagai peringatan sekaligus deskripsi historis mengenai konsekuensi pengkhianatan terhadap janji ilahi yang pernah mereka ambil.
Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, interaksi dengan komunitas Yahudi dan Nasrani menjadi sangat krusial. Dalam konteks perjanjian-perjanjian awal, ada ikatan moral dan spiritual yang disepakati. Ayat ini mengindikasikan bahwa, sebagaimana Bani Israil sebelumnya, sebagian dari komunitas Nasrani juga telah menerima perjanjian dari Allah (mungkin merujuk pada ajaran dasar kenabian, tauhid, atau janji untuk mengikuti kebenaran).
Inti dari teguran dalam ayat ini terletak pada frasa: "lalu mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka." Ini menunjukkan adanya selektivitas dalam beragama. Mereka tidak sepenuhnya menolak ajaran, tetapi memilih untuk mengabaikan atau menafsirkan ulang bagian-bagian yang mungkin dianggap memberatkan atau bertentangan dengan kepentingan mereka saat itu. Dalam tafsir klasik, ini sering dikaitkan dengan distorsi ajaran asli, penyembunyian kebenaran yang merujuk kepada kenabian Muhammad SAW, atau penambahan doktrin-doktrin yang tidak bersumber dari wahyu murni.
Pelupaan ini bukanlah sekadar ketidaksengajaan memori, melainkan sebuah pengabaian yang disadari terhadap kewajiban spiritual. Ketika pondasi peringatan ilahi mulai lapuk karena dilupakan, kekacauan internal menjadi tak terhindarkan.
Konsekuensi langsung dari pengabaian perjanjian tersebut digambarkan sangat pedih: "maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat." Ayat ini mengungkap sebuah hukum sosial spiritual yang berlaku universal: pengabaian kebenaran akan menghasilkan perpecahan. Ketika ikatan spiritual yang mempersatukan (yaitu ketaatan kepada Allah) ditinggalkan, kekosongan itu akan diisi oleh nafsu dan perbedaan pandangan yang memecah belah.
Fakta bahwa permusuhan ini digariskan "sampai hari kiamat" menunjukkan sifat permanen dari hukuman tersebut dalam konteks sejarah mereka. Perpecahan sektarian, perselisihan teologis yang tak berkesudahan, dan konflik internal yang berulang dalam sejarah komunitas tersebut seringkali dijadikan bukti nyata dari realisasi ancaman ilahi ini. Allah SWT, sebagai Hakim Agung, menetapkan bahwa pengkhianatan terhadap perjanjian kolektif akan menghasilkan fragmentasi sosial yang sulit dipulihkan selama mereka tetap berada dalam jalannya yang menyimpang.
Ayat diakhiri dengan pengingat yang kuat mengenai pertanggungjawaban final: "Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka perbuat." Ini menggarisbawahi bahwa meskipun dunia mungkin menjadi panggung bagi konflik dan penyimpangan yang tampaknya tidak terpecahkan, perhitungan terakhir di hadapan Allah SWT tidak akan terlewatkan. Tidak ada perbuatan, penyimpangan, atau penafsiran yang disembunyikan dari-Nya.
Bagi umat Islam, Al-Maidah ayat 14 berfungsi sebagai pelajaran penting tentang pentingnya menjaga integritas ajaran, konsistensi dalam iman, dan bahaya dari sikap permisif terhadap distorsi teks suci. Konsistensi dalam berpegang teguh pada ajaran adalah kunci untuk memelihara persatuan dan kedamaian, baik secara internal maupun dalam hubungan dengan pihak lain. Ayat ini menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui dan akan menimbang setiap janji yang dilanggar dan setiap kebenaran yang ditinggalkan.
Secara keseluruhan, Al-Maidah ayat 14 adalah sebuah narasi peringatan ilahi tentang biaya yang harus dibayar ketika manusia memilih jalan subjektif dalam beragama—yaitu kehancuran persatuan dan kebencian yang abadi—sambil menjamin keadilan mutlak di akhirat.