Al-Qur'an merupakan petunjuk hidup bagi umat Islam, dan setiap ayatnya membawa pesan mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat penting yang seringkali menjadi sorotan dalam konteks dialog antarumat beragama dan peneguhan keimanan adalah Surah Al-Maidah ayat ke-19.
"Hai Ahli Kitab, sungguh telah datang kepadamu Rasul Kami, yang menjelaskan (syariat Kami) di antara (masa terutusnya) para rasul, pada masa kemunduran ilmu pengetahuan, agar kamu tidak mengatakan, 'Tidak ada datang kepada kami pembawa berita gembira dan peringatan.' Sungguh, telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan peringatan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maidah: 19)
Ayat ini secara eksplisit ditujukan kepada "Ahli Kitab"—yaitu Yahudi dan Nasrani—namun pesannya memiliki makna universal mengenai pentingnya menerima kebenaran yang dibawa oleh para utusan Allah ketika kebenaran itu datang setelah periode kegelapan atau kekosongan petunjuk yang jelas.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "di antara (masa terutusnya) para rasul, pada masa kemunduran ilmu pengetahuan". Periode ini sering diinterpretasikan sebagai jeda waktu di mana wahyu dari Allah sempat terputus atau ajaran suci telah mengalami distorsi oleh pemahaman manusia. Dalam konteks kenabian, kedatangan Nabi Muhammad SAW setelah rentang waktu tertentu dianggap sebagai penggenapan janji ilahi untuk membersihkan dan menegaskan kembali ajaran tauhid yang murni.
Allah SWT menegaskan bahwa kedatangan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) bukanlah tanpa alasan. Kedatangan tersebut adalah respons ilahi terhadap potensi manusia untuk menyimpang atau berkata bahwa mereka tidak pernah menerima peringatan. Ayat ini berfungsi sebagai sanggahan tegas terhadap kemungkinan penolakan berdasarkan alasan ketidaktahuan.
Pesan pokok Al-Maidah ayat 19 adalah kewajiban kolektif untuk menerima dan mengikuti wahyu yang dibawa oleh rasul ketika mereka hadir. Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan prinsip teologis yang mendasar: Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya tanpa petunjuk yang memadai untuk membedakan benar dan salah.
Ayat ini juga mengandung konsekuensi bagi mereka yang menolak setelah petunjuk itu datang dengan jelas. Dengan datangnya Rasul dan penjelasan yang gamblang mengenai syariat Allah, alasan untuk berpaling atau bersembunyi dari kebenaran menjadi gugur. Tidak ada lagi ruang untuk klaim ketidaktahuan.
Penutup ayat, "Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu," memberikan dimensi penguatan terhadap pesan sebelumnya. Ini menegaskan bahwa kedatangan Rasul tersebut adalah manifestasi dari kehendak dan kekuasaan mutlak-Nya. Allah memiliki kemampuan penuh untuk mengatur kapan, bagaimana, dan siapa yang akan diutus untuk membimbing umat manusia. Kekuasaan-Nya menjamin bahwa janji-Nya untuk memberikan petunjuk pasti akan terwujud.
Bagi umat Islam saat ini, ayat ini menjadi pengingat untuk tidak menyia-nyiakan ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Jika pada masa lalu terjadi jeda ilmu, maka kita sekarang hidup dalam masa di mana sumber-sumber ajaran (Al-Qur'an dan Sunnah) tersedia secara luas. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk mengikuti dan menyebarkan kebenaran menjadi lebih besar.
Secara ringkas, Al-Maidah ayat 19 adalah sebuah deklarasi kenabian yang menetapkan otentisitas risalah Islam. Ia menutup pintu alasan bagi penolakan, sekaligus menegaskan bahwa setiap generasi—terutama yang hidup dalam masa penerangan petunjuk ilahi—memiliki kewajiban untuk tunduk pada kebenaran yang telah disampaikan secara gamblang oleh utusan Allah.