Kesehatan reproduksi pria memainkan peran krusial dalam keberhasilan pembuahan. Salah satu indikator utama kesuburan pria adalah kualitas spermanya. Sperma yang sehat memiliki jumlah, motilitas (kemampuan bergerak), dan morfologi (bentuk) yang baik. Untuk mencapai hal ini, diperlukan gaya hidup dan kebiasaan yang mendukung produksi sperma optimal.
Apa yang Anda makan secara langsung memengaruhi kualitas sperma. Tubuh membutuhkan nutrisi spesifik untuk memproduksi sperma yang kuat dan bergerak lincah. Defisiensi nutrisi dapat menurunkan produksi dan viabilitas sel sperma.
Selain diet, kebiasaan sehari-hari memiliki dampak signifikan. Lingkungan internal tubuh sangat sensitif terhadap stres, suhu, dan paparan zat kimia.
Obesitas dapat mengganggu keseimbangan hormon, khususnya menurunkan kadar testosteron dan meningkatkan suhu skrotum. Menjaga Indeks Massa Tubuh (IMT) yang sehat melalui olahraga teratur sangat dianjurkan. Namun, perlu diingat, olahraga berlebihan (terutama bersepeda jarak jauh yang menyebabkan tekanan berlebihan pada area genital) juga perlu diwaspadai.
Testis perlu beroperasi pada suhu sedikit lebih rendah daripada suhu tubuh normal agar produksi sperma berjalan efisien. Hindari paparan panas berlebihan seperti mandi air panas terlalu lama, menggunakan laptop langsung di pangkuan, atau mengenakan pakaian dalam yang terlalu ketat.
Merokok telah terbukti secara konsisten menurunkan jumlah dan motilitas sperma. Demikian pula, konsumsi alkohol berlebihan dapat menurunkan kadar testosteron. Jika Anda mengonsumsi obat-obatan resep, konsultasikan dengan dokter mengenai potensi efek sampingnya terhadap kesuburan.
Stres kronis dapat memicu pelepasan hormon kortisol yang pada akhirnya dapat menghambat produksi hormon reproduksi. Pastikan Anda mendapatkan tidur berkualitas selama 7-9 jam setiap malam. Kualitas tidur yang buruk mengganggu ritme hormonal yang penting untuk produksi sperma yang sehat.
Jika Anda dan pasangan telah mencoba untuk hamil selama satu tahun tanpa hasil (atau enam bulan jika usia pasangan di atas 35 tahun), sangat disarankan untuk melakukan analisis sperma (spermiogram). Pemeriksaan ini akan memberikan gambaran jelas mengenai kuantitas, gerakan, dan bentuk sperma Anda. Dengan hasil yang akurat, dokter dapat memberikan saran penanganan yang lebih terarah, baik melalui perubahan gaya hidup lanjutan maupun intervensi medis jika diperlukan.