Menggali Makna QS Al-Isra Ayat 80

Jalan Kebenaran Pertolongan Allah QS Al-Isra: 80

Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran sejarah, hukum, dan janji-janji ilahi. Di antara ayat-ayatnya yang mendalam, ayat ke-80 memiliki makna yang sangat relevan bagi setiap mukmin yang sedang menghadapi kesulitan atau mencari arah dalam hidup. Ayat ini sering kali menjadi sumber ketenangan dan motivasi ketika jalan tampak buntu.

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 80

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا

Wa qul rabbi adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin wajʿal lī min ladunka sulṭānan naṣīrā

"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang benar (menolong)'."

Konteks dan Penjelasan Ayat

Ayat 80 dari Surah Al-Isra ini adalah doa yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Doa ini tidak hanya relevan bagi Rasulullah, tetapi juga menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam dalam memohon bimbingan dalam setiap langkah kehidupan mereka, baik dalam konteks memasuki suatu keadaan (masuk) maupun meninggalkannya (keluar).

"Masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar (mudkhala ṣidqin)" merujuk pada permohonan agar setiap awal dari suatu urusan—apakah itu permulaan dakwah, memasuki suatu negeri, atau memulai proyek penting—dilakukan di atas kebenaran, kejujuran, dan keridhaan Allah. Ini adalah permintaan agar segala niat dan tindakan awal dilandasi prinsip tauhid yang lurus.

Selanjutnya, "Keluarkanlah aku ke tempat keluar yang benar (mukhraja ṣidqin)" mengandung makna yang mendalam. Jika "masuk" adalah permulaan, maka "keluar" adalah akhir atau penyelesaian. Doa ini memohon agar ketika saatnya tiba untuk meninggalkan situasi tersebut—baik itu karena telah selesai, pindah lokasi, atau menghadapi kesulitan—proses keluarnya pun harus tetap berada dalam kerangka kebenaran dan menghasilkan dampak yang baik. Ini mencakup harapan agar terhindar dari keburukan atau kekalahan yang tercela.

Permintaan "Sulṭānan Naṣīrā"

Bagian paling kuat dari doa ini terletak pada permintaan terakhir: "Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu pertolongan yang benar (sulṭānan naṣīrā)". Kata *sulṭān* di sini tidak hanya berarti kekuasaan atau otoritas duniawi semata, tetapi lebih merujuk pada kekuatan yang dijamin kebenarannya. *Naṣīrā* berarti penolong.

Ini adalah permohonan agar Allah memberikan dukungan yang hakiki, dukungan yang tidak goyah oleh popularitas sesaat atau kekuatan material. Dalam konteks Nabi Muhammad SAW, doa ini dipanjatkan menjelang dan selama periode hijrah ke Madinah. Beliau memohon agar Allah memberikan kekuatan untuk teguh dalam menyampaikan risalah-Nya, dan agar pertolongan yang datang dari sisi Allah adalah pertolongan yang pasti membawa kemenangan bagi kebenaran.

Relevansi Sepanjang Zaman

Mengapa ayat ini tetap relevan bagi umat Islam modern? Karena kehidupan selalu terdiri dari serangkaian "masuk" dan "keluar". Kita memasuki pekerjaan baru, memulai hubungan, berinteraksi di tengah tantangan sosial, atau bahkan menghadapi krisis pribadi. QS Al-Isra ayat 80 mengajarkan kita bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari apakah kita berhasil mencapai tujuan materi, tetapi apakah kita berhasil menjaga konsistensi kita di atas kebenaran (*ṣidq*) dari awal hingga akhir.

Permintaan pertolongan yang benar (*sulṭānan naṣīrā*) mengingatkan bahwa kekuatan manusia terbatas. Ketika kita telah melakukan usaha terbaik sesuai syariat, langkah selanjutnya adalah bersandar penuh kepada Allah. Pertolongan Allah adalah fondasi yang membuat usaha kita di atas kebenaran tidak sia-sia. Ia memastikan bahwa jalan yang kita tempuh, meskipun sulit, memiliki akhir yang diridhai oleh-Nya. Doa ini adalah komitmen untuk hidup jujur dan bergantung sepenuhnya kepada Sang Maha Penolong dalam setiap fase kehidupan.

🏠 Homepage