Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, tersimpan petunjuk-petunjuk Ilahi yang melintasi batas waktu, relevan untuk setiap generasi. Salah satu ayat yang sarat makna mengenai konsep keadilan dan konsekuensi penolakan terhadap kebenaran adalah Surah Al-Ma'idah ayat 40. Ayat ini merupakan teguran keras sekaligus peringatan tegas dari Allah SWT kepada mereka yang menyimpang dari hukum-Nya.
"Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dia mengazab siapa yang Dia kehendaki dan mengampuni siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Makna Inti dan Penegasan Kekuasaan
Ayat ini dibuka dengan pertanyaan retoris yang bertujuan mengaktifkan daya pikir (tadzkir), "Tidakkah kamu mengetahui...?" Pertanyaan ini diarahkan untuk menegaskan sebuah realitas mutlak: bahwa Allah adalah pemilik tunggal dan mutlak atas seluruh alam semesta, baik yang terlihat (langit) maupun yang tidak terlihat (bumi). Penegasan kepemilikan ini bukan sekadar klaim teritorial, melainkan pondasi dari hak prerogatif-Nya dalam menetapkan hukum, memberikan balasan, dan menjatuhkan keputusan.
Poin krusial dari ayat ini terletak pada dua konsekuensi utama dari kekuasaan tersebut: mengazab dan mengampuni. Ini menunjukkan bahwa otoritas tertinggi dalam hal penghakiman ada di tangan Sang Pencipta. Dalam konteks turunnya ayat-ayat terkait hukum (seperti pencurian, perzinaan, atau persaksian palsu yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelum dan sesudahnya), ayat 40 berfungsi sebagai penguat bahwa hukum-hukum yang ditetapkan-Nya adalah final. Tidak ada entitas lain yang memiliki hak untuk mengganti atau membatalkan ketetapan tersebut dengan hukum buatan manusia yang bertentangan.
Bagi orang yang berpaling dari kebenaran—terutama mereka yang menolak penerapan syariat atau hukum yang telah diwahyukan—maka mereka harus menyadari bahwa mereka berada di bawah kekuasaan Zat yang mampu memberikan siksa yang pedih (azab) atau, jika Dia berkenan atas keimanan dan taubat mereka, memberikan rahmat pengampunan.
Keadilan dan Ketetapan yang Mutlak
Ayat 40 adalah bantahan terhadap klaim otoritas manusia untuk menetapkan standar moral dan hukum yang setara dengan wahyu Ilahi. Ketika manusia mencoba menggantikan hukum Allah dengan hukum ciptaan mereka sendiri, mereka secara implisit menantang kekuasaan Allah sebagai Al-Malik (Raja) dan Al-Qadir (Maha Kuasa).
Konsep ini sangat penting dalam pembahasan fiqih dan akidah, terutama terkait isu penegakan keadilan. Keadilan sejati hanya dapat terwujud ketika didasarkan pada standar yang tidak berubah dan tidak dipengaruhi oleh kepentingan duniawi atau hawa nafsu manusia. Ketika ayat ini dibaca, seorang Muslim diingatkan bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Dzat yang tidak mungkin dizalimi, Dzat yang kekuasaannya mencakup segala sesuatu.
Implikasi Spiritual bagi Umat
Secara spiritual, ayat ini memicu dua respons utama: rasa takut yang konstruktif (khauf) dan harapan yang besar (raja'). Rasa takut muncul karena kesadaran bahwa ada konsekuensi permanen bagi penolakan dan kemaksiatan yang tidak dapat dihindari. Namun, harapan tetap terbuka lebar karena Allah juga Maha Pengampun. Ini menekankan bahwa pintu taubat selalu terbuka sebelum datangnya ketetapan akhir.
Kutipan terakhir ayat ini, "Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (wallahu 'ala kulli shay'in qadeer), adalah penutup yang menegaskan keesaan dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya. Tidak ada kekuatan yang menandingi atau menghalangi kehendak-Nya. Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap Al-Ma'idah ayat 40 seharusnya mendorong umat Islam untuk selalu kembali kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah sebagai sumber hukum tertinggi, mengakui bahwa di luar ketetapan-Nya, hanya ada ketidakpastian dan kelemahan.
Merenungkan ayat ini membantu memurnikan niat, memperkuat keyakinan terhadap otoritas wahyu, dan menempatkan segala urusan, baik urusan pribadi maupun kolektif, di bawah naungan kebijaksanaan Ilahi yang Maha Sempurna.
Ayat ini senantiasa menjadi pengingat bahwa keadilan sejati berakar pada pengakuan penuh atas kekuasaan Sang Pencipta atas segala ciptaan-Nya.