Representasi abstrak konsep pewahyuan dan kebenaran.
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang banyak membahas perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra Mi'raj) serta berbagai aspek hukum dan akidah. Fokus utama kita adalah ayat 42 hingga 52, yang menyoroti respons kaum musyrik Mekah terhadap dakwah kenabian. Ayat-ayat ini berfungsi ganda: sebagai sanggahan terhadap keraguan mereka dan sebagai penegasan otoritas Ilahi atas wahyu yang dibawa Rasulullah.
Kaum Quraisy pada masa itu sering menuntut bukti-bukti yang bersifat fisik atau material. Mereka menanyakan, "Mengapa Allah mengutus seorang manusia (Muhammad) sebagai rasul, bukan malaikat?" Tuntutan ini didasarkan pada pemahaman antropomorfik mereka tentang kekuasaan, seolah-olah Allah harus mengikuti standar atau norma yang mereka bayangkan tentang bagaimana seharusnya seorang utusan datang.
Ayat-ayat selanjutnya (44-48) melanjutkan bantahan dengan menjelaskan bahwa seluruh alam semesta, termasuk langit dan bumi, bertasbih kepada Allah, meskipun manusia (terutama yang kufur) tidak memahaminya. Ini adalah cara Al-Qur'an untuk menempatkan kesombongan manusia dalam perspektif kosmologis yang benar: manusia hanyalah sebagian kecil dari ciptaan yang luas.
Puncak kritik terhadap kaum Quraisy adalah pada penekanan tentang kebangkitan. Mereka menolak konsep hari kebangkitan karena menganggap tulang belulang mereka yang telah hancur mustahil dihidupkan kembali. Di sinilah konteks akidah bertemu dengan logika ilmiah (dalam kerangka pengetahuan saat itu) dan spiritual.
Jawaban Allah yang sangat kuat terdapat pada kelanjutan ayat tersebut, menegaskan bahwa penciptaan awal (dari ketiadaan) jauh lebih sulit bagi-Nya dibandingkan membangkitkan kembali sesuatu yang telah mati. Jika Allah mampu menciptakan alam semesta, maka membangkitkan manusia hanyalah masalah kehendak-Nya.
Ini membawa kita pada ayat penutup bagian ini (Ayat 52), yang membahas pertanyaan mengenai syafaat di Hari Kiamat, di mana mereka bertanya apakah ada perantara yang bisa menjamin keselamatan mereka tanpa harus mengikuti ajaran yang dibawa Nabi Muhammad.
Ayat 42-52 memberikan pelajaran fundamental tentang iman. Pertama, iman sejati tidak memerlukan bukti fisik yang sesuai dengan keinginan penanya; iman adalah penyerahan diri kepada otoritas Ilahi. Kedua, ayat-ayat ini menggarisbawahi bahwa keraguan sering kali berakar pada kesombongan dan keterbatasan pandangan manusia yang hanya melihat sebatas materi (batu atau besi).
Ketika manusia menolak wahyu karena merasa dirinya terlalu penting untuk diperintah oleh seorang manusia, Allah mengingatkan mereka bahwa prioritas penciptaan dan pemeliharaan alam semesta jauh melampaui pemikiran mereka. Ayat-ayat ini mendorong umat Islam untuk memperkuat keyakinan pada dua pilar utama: keesaan Allah (Tauhid) dan kepastian akan hari kebangkitan (Ma'ad), tanpa perlu mencari pembenaran dari logika yang terbatas atau tuntutan yang merendahkan martabat wahyu.
Memahami rangkaian ayat ini membantu kita melihat bahwa tantangan terhadap kenabian selalu bersifat manusiawi, sedangkan jawaban Ilahi selalu bersifat transenden dan final. Ini adalah penegasan bahwa wahyu Al-Qur'an adalah kebenaran hakiki, terlepas dari penerimaan atau penolakan yang ditunjukkannya di hadapan tantangan kaum Quraisy.