Keteguhan Iman

Ilustrasi: Keseimbangan dan Jalan Kebenaran

Memahami Peringatan Allah: Al-Maidah Ayat 66

Al-Qur'an adalah kitab suci yang mengandung petunjuk hidup bagi umat Islam. Di antara ayat-ayatnya, terdapat peringatan dan janji yang tegas, salah satunya termuat dalam Surah Al-Maidah ayat ke-66. Ayat ini seringkali menjadi bahan perenungan mendalam mengenai konsekuensi dari menolak atau berpaling dari ajaran Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 66

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ ۚ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ

(66) Seandainya mereka (Ahlul Kitab) sungguh-sungguh melaksanakan Taurat, Injil, dan apa yang diturunkan kepada mereka dari Tuhan mereka, niscaya mereka akan mendapat rezeki dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada umat yang pertengahan, tetapi kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan.

Kondisi Penerimaan Wahyu

Ayat ini secara spesifik ditujukan kepada Ahli Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani, yang telah menerima kitab suci sebelumnya (Taurat dan Injil). Inti dari ayat 66 adalah sebuah syarat besar: jika mereka benar-benar menjalankan kitab suci yang telah diturunkan kepada mereka secara utuh dan konsisten, maka janji Allah berupa keberkahan dan rezeki yang melimpah akan terwujud.

Frasa "dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka" adalah metafora kuat dalam bahasa Arab yang menyimbolkan kelimpahan rahmat dan berkah yang tak terputus. Rezeki datang dari langit (hujan, rahmat Ilahi) dan bumi (hasil panen, kemakmuran materi). Ini menunjukkan bahwa kepatuhan total pada syariat Ilahi adalah kunci utama bagi kemakmuran duniawi dan ukhrawi.

Umat yang Pertengahan (Umatan Muqtasidah)

Poin penting lainnya dalam ayat ini adalah pengakuan adanya kelompok minoritas di tengah Ahli Kitab yang bersikap muqtasidah (pertengahan atau moderat). Mereka adalah orang-orang yang tidak sepenuhnya menolak wahyu, namun juga tidak sepenuhnya melaksanakannya dengan sempurna. Mereka berada di jalan tengah, berusaha menjalankan sebagian ajaran, namun amal mereka masih belum optimal.

Konsep iqtishad (pertengahan) ini relevan bagi umat Islam sendiri. Islam mengajarkan bahwa jalan terbaik adalah pertengahan (wasatiyyah), yaitu tidak berlebihan dalam beragama (ghuluw) dan tidak pula terlalu longgar hingga meninggalkan kewajiban. Namun, dalam konteks ayat ini, keberadaan mereka yang pertengahan tetap dibayangi oleh statistik mayoritas.

Gambaran Buruknya Mayoritas

Ironisnya, ayat tersebut melanjutkan dengan pernyataan bahwa "kebanyakan dari mereka sangat buruk apa yang mereka kerjakan." Mayoritas Ahli Kitab, pada saat pewahyuan ayat ini dan sesudahnya, memilih untuk menyimpang, menafsirkan kitab suci sesuai hawa nafsu, atau bahkan menyembunyikan kebenaran yang ada dalam teks asli mereka.

Penyimpangan ini menyebabkan hilangnya keberkahan yang dijanjikan. Mereka kehilangan kemakmuran yang seharusnya menjadi buah dari ketaatan. Ayat ini berfungsi sebagai validasi bahwa janji dan ancaman Allah adalah nyata. Jika syarat (melaksanakan wahyu) dipenuhi, hasilnya (rezeki berlimpah) pasti datang; jika syarat diabaikan, konsekuensinya (keburukan amal dan hilangnya berkah) akan menyusul.

Relevansi untuk Umat Islam

Meskipun ayat ini berbicara tentang Ahli Kitab terdahulu, pelajaran universalnya sangat kuat bagi umat Islam. Ayat Al-Maidah 66 adalah pengingat bahwa status kita sebagai umat yang menerima Al-Qur'an sebagai penutup dan penyempurna risalah tidak otomatis menjamin kemuliaan. Kemuliaan dan keberkahan (rezeki dari atas dan bawah) harus dijemput melalui pelaksanaan syariat Allah secara kaffah (menyeluruh).

Ketika umat Islam mengalami kemunduran, kekeringan berkah, atau kesulitan dalam berbagai aspek kehidupan, ayat ini mendorong introspeksi: Apakah kita telah melaksanakan Taurat, Injil, dan—yang paling penting bagi kita—Al-Qur'an, sebagaimana mestinya? Kepatuhan yang tulus dan konsisten adalah prasyarat mutlak untuk mewujudkan janji-janji kemuliaan Ilahi dalam kehidupan pribadi maupun kolektif.

🏠 Homepage