Al-Qur'an adalah petunjuk hidup bagi umat Islam, dan setiap ayatnya mengandung hikmah dan pelajaran mendalam. Salah satu ayat yang sering menjadi sorotan dalam konteks menjaga keimanan adalah Surah Al-Maidah ayat 71. Ayat ini merupakan seruan tegas dari Allah SWT kepada orang-orang beriman untuk senantiasa waspada terhadap tipu daya dan provokasi yang bertujuan menggoyahkan keyakinan mereka.
Ayat ini turun sebagai respons terhadap situasi sosial dan politik di mana umat Islam pada masa itu menghadapi berbagai macam godaan, baik dari dalam maupun dari luar komunitas. Peringatan ini bersifat universal dan relevan hingga kini, mengingat kompleksitas tantangan iman di era modern.
Ilustrasi: Penjagaan Hati dari Keraguan
Berikut adalah teks asli ayat tersebut beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
Ayat ini memberikan beberapa poin krusial. Pertama, larangan untuk mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menekankan pentingnya kepatuhan mutlak terhadap syariat dan arahan Nabi Muhammad SAW. Sikap mendahului, atau bertindak seolah-olah lebih mengetahui dari sumber wahyu, adalah bentuk kesombongan yang dilarang keras.
Kedua, peringatan spesifik mengenai tata krama berbicara kepada Rasulullah SAW. Jangan meninggikan suara melebihi suara beliau atau berbicara dengan keras. Ini bukan sekadar masalah etiket sosial biasa, tetapi sebuah barometer tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang. Ayat ini menyiratkan bahwa penghormatan fisik terhadap Nabi adalah cerminan dari penghormatan batiniah terhadap wahyu yang dibawanya.
Jika amalan seseorang menjadi sia-sia karena melanggar adab ini tanpa disadari, betapa ruginya pengabdian yang telah dilakukan. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, ibadah fisik harus diimbangi dengan kesantunan spiritual dan akhlak yang benar.
Sebagai kontras dari larangan tersebut, ayat ini menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang mempraktikkan adab tersebut. "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di hadapan Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah dibersihkan hatinya oleh Allah untuk-Nya."
Pembersihan hati (*tazkiyatun nufs*) adalah tujuan tertinggi dalam kehidupan seorang mukmin. Hati yang bersih adalah wadah yang siap menerima cahaya Ilahi. Ketika seseorang menundukkan ego dan kesombongannya di hadapan tuntunan Nabi, Allah membersihkan hati tersebut dari kotoran syubhat (keraguan) dan syahwat (hawa nafsu).
Ganjaran yang dijanjikan sangat besar: ampunan dan pahala yang agung. Ini menggarisbawahi bahwa hubungan vertikal kita dengan Tuhan sangat bergantung pada bagaimana kita memperlakukan perantara wahyu-Nya, yaitu Rasulullah SAW. Menjaga lisan dan sikap di hadapan ajaran yang dibawa Nabi adalah kunci untuk mencapai ketenangan spiritual dan keridhaan Ilahi.