Menggali Hikmah Surat Al-Isra Ayat 52

Teks Ayat dan Terjemahan

Ilustrasi Kebangkitan dan Pemanggilan KUN!
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ لَمْ يَلْبَثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ
"Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat. Demikianlah dahulu mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)." (QS. Al-Isra: 52)

Kefanaan Dunia dan Realitas Akhirat

Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat yang kaya akan pelajaran moral dan akidah. Salah satu ayat penutup yang sangat menggugah kesadaran kita adalah ayat ke-52. Ayat ini menyajikan sebuah skenario dramatis di hari perhitungan amal, yaitu Hari Kiamat.

Inti dari ayat ini terletak pada pengakuan ironis dari para pendurhaka (al-mujrimun). Ketika mereka dihadapkan pada realitas keabadian dan perhitungan dosa, durasi hidup mereka yang penuh maksiat dan kelalaian tiba-tiba terasa sangat singkat. Mereka bersumpah bahwa mereka tidak tinggal di dunia melainkan "hanya sesaat" (ghaira sa'ah). Kontras antara persepsi mereka saat hidup—merasa punya waktu tak terbatas—dan persepsi mereka saat kematian tiba adalah pelajaran terbesar.

Dampak Psikologis dan Metafora Waktu

Metafora "sesaat" ini menunjukkan betapa dangkal dan tidak berartinya waktu duniawi jika dihabiskan dalam kesia-siaan. Bagi orang yang hidupnya diisi dengan urusan duniawi yang fana tanpa peduli akan tujuan akhir penciptaan, masa hidup puluhan tahun terasa seperti sekejap mata ketika dihadapkan pada kekekalan neraka atau surga. Ulama tafsir menjelaskan bahwa ketika seseorang menyaksikan kebenaran hakiki setelah kematian, segala kenikmatan dan kesenangan yang dikejar di dunia akan lenyap dari ingatan, menyisakan penyesalan yang tak terhingga.

Ayat ini juga menegaskan akar masalah mereka: "Demikianlah dahulu mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran)." (Kadhalika kaanu yu’fakun). Kata 'yu’fakun' merujuk pada tindakan memalingkan atau menipu diri sendiri. Saat mereka hidup, mereka secara aktif menipu diri mereka sendiri dari kebenaran risalah para Nabi. Mereka mengabaikan peringatan tentang hari pembalasan, memilih untuk mengikuti hawa nafsu dan ilusi kenikmatan dunia. Kesalahan mereka bukan hanya karena lalai, tetapi karena secara aktif memalingkan hati dan akal mereka dari petunjuk Allah SWT.

Peringatan untuk Kaum Beriman

Bagi kaum Muslimin, Al-Isra ayat 52 berfungsi sebagai pengingat yang tegas. Jika orang kafir dan pendosa merasakan waktu dunia sangat singkat saat sudah terlambat, seharusnya orang beriman memanfaatkan setiap detiknya untuk beribadah, berbuat baik, dan mempersiapkan bekal.

Penghargaan kita terhadap waktu haruslah berbanding lurus dengan nilai keabadian yang kita yakini. Jangan sampai kita, meski mengetahui hakikat kebenaran, malah terjerumus dalam kelalaian yang sama, sehingga saat waktu dihisab, kita pun ikut bersumpah bahwa hidup kita hanya sekejap tanpa bekal berarti. Surat ini mengajak kita untuk merefleksikan prioritas hidup: apakah kita mengejar kesenangan yang lenyap dalam sesaat, atau berinvestasi pada kehidupan abadi yang kekal? Pilihan ada pada cara kita memanfaatkan setiap detik yang diberikan sebelum tirai dunia ditutup selamanya.

🏠 Homepage