Islam mengajarkan sebuah keseimbangan hidup yang unik, di mana orientasi utama seorang Muslim adalah kehidupan abadi (akhirat), namun tetap menjalankan perannya secara optimal di dunia. Pemahaman ini terekam jelas dalam banyak ayat Al-Qur'an, salah satunya adalah firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 77. Ayat ini seringkali menjadi pengingat keras bagi mereka yang terlalu larut dalam kesenangan duniawi.
"Katakanlah: 'Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebihan (melampaui batas) dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam, adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dia merupakan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan 'Tuhan (adalah) tiga', berhentilah (dari ucapan itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa. Maha Suci Allah dari (mempunyai) anak, karena sesungguhnya bagi-Nyalah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah menjadi Pemelihara.'" (QS. Al-Maidah: 77)
Konteks dan Peringatan Utama
Meskipun ayat 77 secara spesifik ditujukan kepada Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk mengoreksi keyakinan mereka mengenai kedudukan Nabi Isa 'alaihissalam, inti pesannya memiliki implikasi universal mengenai sikap seorang hamba terhadap Tuhannya. Ayat ini menekankan larangan berbuat ghuluw (berlebihan atau melampaui batas) dalam urusan agama.
Dalam konteks yang lebih luas bagi seluruh umat Islam, prinsip ini melahirkan peringatan agar tidak menjadikan atribut duniawi—seperti kekayaan, kekuasaan, atau bahkan kesenangan yang bersifat sementara—sebagai tujuan utama yang menggeser fokus dari ketaatan kepada Allah SWT. Berlebihan dalam agama bisa berarti mengada-adakan ajaran (bid'ah) atau sebaliknya, terlalu lunak hingga mengabaikan syariat.
Keutamaan Tauhid dalam Ayat
Ayat 77 adalah penegasan fundamental tentang Tauhid (Keesaan Allah). Allah SWT menolak segala bentuk persekutuan, termasuk anggapan bahwa Dia memiliki anak. Penolakan ini sangat tegas: "Maha Suci Allah dari (mempunyai) anak." Penegasan ini penting karena landasan kebenaran Islam adalah pengakuan mutlak bahwa Allah adalah Al-Ahad (Yang Maha Esa).
Kepemilikan tunggal atas seluruh alam semesta menjadi bukti nyata keesaan-Nya: "Sesungguhnya bagi-Nyalah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi." Jika segala sesuatu diciptakan dan dimiliki-Nya, maka tidak ada ruang bagi entitas lain untuk disembah atau disekutukan dengan-Nya. Ayat ini menutup dengan afirmasi bahwa Allah adalah Hasbunallahu, Pemelihara yang mencukupi segala kebutuhan.
Dunia sebagai Sarana, Bukan Tujuan Akhir
Ketika ayat ini dihubungkan dengan tema umum Al-Maidah tentang muamalah dan akidah, kita diingatkan bahwa fokus utama haruslah pada apa yang abadi. Dunia (ad-dunya) hanyalah tempat persinggahan atau ladang ujian. Ketika seorang Muslim mengejar dunia hingga melupakan kewajibannya kepada Sang Pencipta, ia telah jatuh ke dalam bentuk ghuluw—yaitu meletakkan sesuatu pada posisi yang tidak seharusnya.
Misalnya, seorang pedagang yang sangat sibuk mencari keuntungan hingga meninggalkan shalat berjamaah, atau seorang pejabat yang terlalu terikat pada kekuasaannya sehingga mengabaikan keadilan. Orientasi seperti ini menunjukkan bahwa nilai dunia telah diperbesar melebihi nilainya yang sebenarnya di sisi Allah.
Implikasi Praktis dalam Kehidupan
Memahami Al-Maidah ayat 77 memberikan perspektif yang sehat dalam menghadapi dualitas hidup. Pertama, kita harus senantiasa menguatkan fondasi akidah (Tauhid) agar tidak mudah terjerumus pada penyimpangan teologis atau pemikiran yang mengagungkan makhluk. Kedua, kita diajarkan untuk bersikap moderat. Islam tidak melarang mencari rezeki atau menikmati karunia dunia, tetapi melarang keras menjadikan kenikmatan tersebut sebagai berhala baru dalam hati.
Ketiga, penekanan pada kesucian Allah dari segala kekurangan (seperti memiliki anak) mendorong seorang hamba untuk menyadari keagungan-Nya yang tak terbatas, sehingga kepatuhan dan ketawakkalan kita menjadi total dan tanpa syarat. Dengan demikian, energi kehidupan dialokasikan secara proporsional: berusaha keras di dunia sebagai ibadah, namun hati selalu tertambat pada janji dan ridha Allah di akhirat.