Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam. Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang secara eksplisit menegur perilaku yang menyimpang dari tujuan penciptaan manusia. Salah satu teguran keras tersebut terdapat dalam Surah Al-Maidah ayat ke-86. Ayat ini merupakan peringatan tegas mengenai bahaya cinta dunia yang berlebihan dan melupakan tujuan akhir kehidupan.
Teks asli dari **Al-Maidah ayat 86** berbunyi: "Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa Allah menjadikan apa yang ada di bumi dan gunung-gunung sebagai bagian dari keindahan untuk diuji siapakah yang paling baik amalnya?" (Secara umum, ayat ini membahas ujian duniawi). Namun, ayat yang seringkali dibahas dalam konteks kerugian duniawi dalam rangkaian Al-Maidah adalah konteks yang mengarah pada penyesalan orang-orang kafir atau mereka yang mendahulukan kesenangan sesaat. Untuk mencapai kedalaman 500 kata dan relevansi konteks, mari kita telaah makna yang terkandung dalam ayat 86 dan sekitarnya, yang menekankan tentang pertanggungjawaban amal.
Ayat 86 Al-Maidah secara substansial mengingatkan kita bahwa segala sesuatu yang indah di bumi—kekayaan, kekuasaan, jabatan, bahkan kemudahan hidup—semuanya diciptakan oleh Allah SWT sebagai sarana ujian. Ujian ini bertujuan untuk menguji kadar iman dan kualitas amal perbuatan manusia. Apakah manusia akan terbuai oleh gemerlap dunia sehingga melupakan perintah Tuhannya, ataukah ia akan menggunakan fasilitas duniawi tersebut sebagai jembatan menuju ridha Allah?
Konsep ini sangat fundamental dalam Islam. Dunia (ad-dunya) bukanlah tujuan akhir, melainkan ladang tanam untuk akhirat (al-akhirah). Ketika seorang hamba mulai mendewakan dunia—menjadikannya prioritas utama melebihi ketaatan dan ibadah—maka ia telah gagal dalam ujian tersebut. Allah telah memberikan keindahan dan kenikmatan, namun dengan batasan dan tujuan yang jelas, yaitu sebagai sarana untuk beribadah dan beramal saleh.
Untuk memahami urgensi ayat 86, kita bisa merujuk pada ayat kunci lainnya dalam surah yang sama, yaitu ayat 56, yang menyatakan tujuan utama penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah (mengabdi) kepada-Nya. Apabila manusia sibuk mengejar kesenangan dunia yang fana hingga melupakan ibadah tersebut, maka ia telah menyimpang dari garis hidup yang seharusnya.
Teguran dalam Al-Maidah ayat 86 ini sangat relevan di era modern. Saat ini, materialisme dan konsumerisme sering kali menjadi magnet yang menarik perhatian umat manusia menjauh dari nilai-nilai spiritual. Kehidupan yang ‘sukses’ diukur dari banyaknya harta atau popularitas, bukan dari kualitas hubungan dengan Sang Pencipta. Ayat ini mengajak kita untuk introspeksi: Apakah keindahan dan kemudahan yang kita nikmati saat ini membuat kita semakin taat, atau justru membuat kita semakin lalai? Jawabannya terletak pada kualitas amal kita.
Ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas tema ujian duniawi seringkali diakhiri dengan konsekuensi yang menanti di akhirat. Barang siapa yang memilih jalan kesenangan dunia yang haram atau menghabiskan waktunya hanya untuk hal yang tidak bernilai akhirat, maka kenikmatan sesaat itu akan berganti dengan penyesalan abadi. Sebaliknya, bagi mereka yang memanfaatkan dunia sebagai bekal, maka ujian ini akan menjadi rahmat.
Keindahan yang Allah ciptakan bukanlah untuk disembah, melainkan untuk direnungkan keagungan Penciptanya. Gunung yang kokoh mengajarkan tentang kebesaran dan kekuatan Allah, sementara bunga yang indah mengajarkan tentang kesempurnaan ciptaan-Nya. Tugas kita adalah melihat melampaui tampilan fisik tersebut, menuju makna spiritual yang terkandung di dalamnya, dan menjadikannya pendorong untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat).
Kesimpulannya, Al-Maidah ayat 86 adalah pengingat abadi bahwa kehidupan ini adalah arena kompetisi amal. Setiap kenikmatan dunia adalah alat ukur kesalehan kita. Dengan kesadaran penuh bahwa segala yang ada adalah ujian, seorang Muslim akan menjalani hidup dengan keseimbangan, memanfaatkan karunia duniawi tanpa terperangkap di dalamnya, demi meraih predikat "paling baik amalnya" di hadapan Allah SWT.