Surah Al-Maidah, surat ke-5 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali petunjuk kehidupan yang relevan bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-98. Ayat ini menawarkan perspektif penting mengenai ilmu, rahmat, dan penghambaan diri kepada Allah SWT.
Ilmu dan Petunjuk Ilahi
Teks dan Terjemahan Al Maidah Ayat 98
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Terjemahan: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari apa yang telah ia usahakan, dan ia mendapat (dosa) dari apa yang telah ia kerjakan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan atas kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Prinsip Keadilan dan Kemampuan dalam Syariat
Ayat 98 Al-Maidah dimulai dengan sebuah kaidah fundamental dalam hukum Islam: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." Ayat ini menegaskan prinsip keadilan Ilahi yang mutlak. Islam tidak pernah menuntut manusia melakukan sesuatu yang berada di luar batas kemampuan fisik, mental, atau finansial mereka. Beban taklif (perintah dan larangan) yang diletakkan oleh syariat selalu disertai dengan jalan keluar atau dispensasi (rukhsah) jika kondisi seseorang tidak memungkinkan.
Konsekuensinya, setiap individu bertanggung jawab penuh atas perbuatannya: "Ia mendapat (pahala) dari apa yang telah ia usahakan, dan ia mendapat (dosa) dari apa yang telah ia kerjakan." Ini menyoroti konsep ikhtiar dan pertanggungjawaban pribadi. Tidak ada dosa yang ditanggung oleh orang lain, dan tidak ada pahala yang didapatkan kecuali melalui usaha nyata seorang hamba. Hal ini mendorong motivasi untuk berbuat baik dan menjauhi kemaksiatan.
Doa Permohonan yang Mengandung Kerendahan Hati
Bagian kedua dari ayat ini adalah sebuah doa komprehensif yang diajarkan oleh Allah SWT, menunjukkan kerendahan hati dan pengakuan penuh atas kelemahan manusia di hadapan kekuatan-Nya. Doa ini terbagi menjadi tiga permohonan utama:
1. Penghapusan Dosa Lupa dan Kesalahan
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah." Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak luput dari sifat lupa (nisyan) dan melakukan kekhilafan (khatta') yang tidak disengaja. Doa ini mengajarkan bahwa dalam ketetapan Ilahi, sifat pelupa dan kesalahan yang tidak disengaja seringkali dimaafkan, asalkan disertai dengan penyesalan dan niat untuk memperbaiki diri.
2. Menghindari Beban Berat (Isr)
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami." Para ulama menafsirkan "beban berat" ini sebagai hukum-hukum yang sangat keras dan sulit yang pernah diterapkan kepada umat terdahulu akibat kedurhakaan mereka. Allah SWT menunjukkan kemurahan-Nya dengan meringankan syariat bagi umat Nabi Muhammad SAW. Ini adalah rahmat besar yang harus disyukuri.
3. Permohonan Kekuatan dan Pertolongan
"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan atas kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami." Ini adalah permohonan agar Allah tidak menguji melebihi kapasitas kesabaran dan kemampuan kita. Puncak dari permohonan ini adalah penyerahan total: "Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." Doa ini menutup dengan pengakuan bahwa hanya Allah tempat bergantung (Mawla) dan hanya kepada-Nya kemenangan atas segala keburukan dan kekafiran diharapkan.
Implikasi Praktis Ayat 98
Al Maidah ayat 98 berfungsi sebagai pengingat bahwa ajaran Islam adalah agama yang realistis dan penuh kasih sayang. Beban ibadah dirancang agar dapat dilaksanakan oleh semua lapisan umat, tanpa menjadi siksaan. Selain itu, ayat ini mengajarkan sikap mental seorang mukmin: selalu meminta ampunan, mengakui keterbatasan diri, dan menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan utama dalam menghadapi tantangan hidup, termasuk perlawanan dari pihak yang menentang kebenaran.
Dengan merenungkan ayat ini, seorang Muslim diingatkan untuk tidak menyalahkan takdir atas kesulitan, melainkan fokus pada usaha terbaiknya, sambil senantiasa memohon kemurahan dan rahmat-Nya agar mampu menjalani hidup sesuai tuntunan-Nya.