Al-Qur'an adalah sumber hukum, petunjuk, dan rahmat bagi umat Islam. Di antara lautan ayat yang berisi ajaran moral, hukum, dan kisah, terdapat ayat-ayat yang secara spesifik menekankan peran vital kenabian dan tanggung jawab para rasul. Salah satu ayat tersebut adalah Surat Al-Maidah ayat 99, yang sering kali dikutip untuk menegaskan perbedaan mendasar antara tuntunan Ilahi dan tanggung jawab manusia.
مَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ ۖ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا تَكْتُمُونَ
"Tugas Rasul hanyalah menyampaikan (risalah), dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan."
Inti dari Al Maidah ayat 99 ini terletak pada penegasan batasan tugas Nabi Muhammad SAW (dan secara implisit, seluruh rasul sebelumnya). Ayat ini secara lugas menyatakan bahwa kewajiban pokok seorang rasul hanyalah al-balagh, yaitu menyampaikan risalah atau ajaran yang diwahyukan kepadanya secara utuh dan jelas. Tidak ada kewajiban bagi Rasul untuk memaksa siapa pun agar beriman, atau menjamin bahwa setiap orang akan menerima dan mengikuti seruan tersebut.
Penekanan ini sangat penting dalam konteks dakwah. Ketika seorang pemimpin agama atau da'i menyampaikan kebenaran, hasil akhir—apakah seseorang memilih untuk mengikuti atau menolaknya—berada di luar kendali langsung mereka. Tugas mereka adalah menyajikan petunjuk sejelas mungkin, laksana seorang kurir yang memastikan paket sampai di tangan penerima. Jika paket itu dibuka dan isinya diikuti, itu adalah kebaikan bagi penerima; jika diabaikan, tanggung jawab penolakan ada pada penerima itu sendiri.
Setelah menetapkan batasan tugas Rasul, ayat ini beralih kepada penegasan tentang Maha Mengetahui-Nya Allah SWT. Frasa "dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan" memberikan dimensi psikologis dan spiritual yang mendalam.
Allah mengetahui niat sejati manusia (mā tubdūn) — apa yang mereka tunjukkan di hadapan publik, bagaimana mereka berinteraksi dalam masyarakat, dan kata-kata apa yang mereka ucapkan secara terbuka. Lebih jauh lagi, Allah juga mengetahui rahasia hati yang paling terpendam (mā taktumūn) — keraguan yang tidak pernah diucapkan, niat buruk yang disembunyikan, atau ketulusan yang tidak pernah dipertunjukkan.
Kombinasi antara kewajiban Rasul yang terbatas pada penyampaian, dan pengetahuan Allah yang mutlak, berfungsi sebagai pengingat ganda. Bagi orang yang beriman, ini memberikan ketenangan bahwa Allah menyaksikan setiap usaha mereka dalam mencari kebenaran. Bagi mereka yang berpura-pura atau menyembunyikan kemunafikan, ini adalah peringatan keras bahwa penipuan terhadap sesama manusia mungkin berhasil, namun tidak akan pernah berhasil menipu Sang Pencipta.
Pemahaman terhadap Al Maidah ayat 99 membantu umat Islam bersikap lebih realistis dalam menghadapi tantangan dakwah kontemporer. Jika Nabi Muhammad SAW, manusia termulia, hanya dibebani tugas menyampaikan, maka umatnya yang melanjutkan estafet dakwah tidak seharusnya merasa bertanggung jawab atas konversi atau kesalehan absolut orang lain.
Fokus harus dialihkan dari hasil (jumlah orang yang patuh) kepada proses (kualitas penyampaian pesan). Jika pesan disampaikan dengan hikmah, kejujuran, dan keteladanan—sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasul—maka tugas telah ditunaikan dengan baik. Keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, meskipun dihadapkan pada penolakan keras, menjadi cerminan kepatuhan terhadap ayat ini.
Pada akhirnya, ayat ini adalah jangkar yang menenangkan hati para penyampai kebenaran dan sekaligus penantang bagi hati yang enggan menerima petunjuk. Tugas kita adalah melihat ke dalam diri, memastikan hati kita bersih saat menyampaikan ajaran, karena hasil akhir perhitungan adalah ranah eksklusif milik Allah SWT yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun yang tersembunyi.