Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam, sebuah perjalanan spiritual dan fisik yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan, melainkan fondasi penting yang memperkuat keimanan umat dan memberikan landasan syariat, terutama penetapan salat lima waktu. Mengingat agungnya peristiwa ini, menuliskan "surat untuk Isra Mi'raj" menjadi cara kontemplatif untuk meresapi pesan-pesan ilahinya.
Menyusun "surat untuk Isra Mi'raj" adalah bentuk penghormatan batiniah. Surat ini tidak ditujukan kepada Nabi secara fisik, melainkan kepada esensi ajaran yang dibawa dari peristiwa tersebut. Surat semacam ini dapat menjadi jurnal refleksi pribadi, mengungkapkan rasa syukur, serta memohon petunjuk agar kekuatan spiritual dari perjalanan tersebut dapat terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mungkin kita dapat melewati cobaan duniawi tanpa mengingat betapa dahsyatnya ujian yang dihadapi Rasulullah?
Inti dari hadiah terbesar Isra Mi'raj adalah perintah salat lima waktu. Dalam surat kontemplasi kita, aspek ini harus menjadi fokus utama. Salat adalah mi'raj-nya orang beriman. Surat tersebut bisa berisi janji untuk lebih khusyuk, lebih disiplin, dan lebih sadar akan makna setiap gerakan dan bacaan saat menghadap Sang Pencipta. Surat ini menjadi komitmen pribadi untuk menjadikan salat sebagai jangkar spiritual di tengah badai modernitas yang serba cepat.
Surat itu juga bisa menjadi medium untuk merenungkan jarak kosmik yang ditempuh Rasulullah: dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus tujuh lapisan langit. Jarak tersebut menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara makhluk dan Khalik, sebuah kedekatan yang seharusnya kita cari melalui ibadah yang ikhlas. Ia mengingatkan bahwa batasan materi (bumi) tidak berlaku bagi kehendak dan kuasa Allah SWT.
Bayangkan kesulitan yang dihadapi Nabi ketika kembali dan menceritakan perjalanannya. Keraguan, cemoohan, bahkan tuduhan gila datang dari kaum Quraisy. Surat kita kepada peristiwa agung ini dapat diisi dengan pengakuan akan keteguhan hati Nabi. Bagaimana mungkin kita, dengan bekal wahyu yang jelas, bisa mudah goyah oleh kritik kecil? Surat ini seharusnya menanamkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran, seolah-olah kita meminjam sedikit keteguhan dari semangat Isra Mi'raj itu sendiri.
Dalam konteks kekinian, surat untuk Isra Mi'raj dapat berfokus pada bagaimana menularkan semangat pembaharuan ini. Isra Mi'raj adalah titik balik yang mengubah perspektif Nabi terhadap alam semesta dan tugas kenabiannya. Kita dapat menuliskan resolusi untuk menjadikan peristiwa ini sebagai katalisator untuk perbaikan sosial dan moral. Bagaimana kita bisa membawa cahaya Masjidil Aqsa—sebagai titik pertemuan—ke dalam hati kita yang seringkali terpecah belah?
Akhirnya, surat ini adalah jembatan imajinatif. Ia menghubungkan kita yang terikat oleh waktu dan ruang dengan sebuah kejadian supra-alami. Dengan merenungkan perjalanan tersebut, kita diingatkan bahwa di balik setiap kegelapan (seperti malam yang dilalui Nabi), selalu ada cahaya wahyu dan janji pertolongan ilahi. Surat ini adalah ikrar untuk selalu mencari ketinggian spiritual, sebagaimana Nabi telah menunjukkan jalan menuju Arsy.