Memahami Kedudukan Allah dalam Surat Al-Isra Ayat 42

TAUHID

Ilustrasi: Simbol keesaan dan cahaya kebenaran.

Katakanlah: "Jika ada Tuhan-tuhan lain di samping-Nya (yang mereka sembah), sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tuhan-tuhan itu akan mencari jalan kepada Tuhan yang mempunyai 'Arsy."

(QS. Al-Isra: 42)

Konteks dan Kedudukan Tauhid

Surat Al-Isra, atau juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, sarat dengan hikmah dan pengajaran mendalam mengenai perjalanan Rasulullah SAW serta prinsip-prinsip dasar Islam. Ayat ke-42 dari surat ini secara tegas membahas inti dari akidah Islam, yaitu Tauhid, atau keyakinan akan keesaan Allah SWT. Ayat ini adalah bantahan keras terhadap politeisme (syirik) yang masih banyak dianut oleh kaum Quraisy pada masa itu.

Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan sebuah tantangan logis kepada orang-orang musyrik. Mereka menyembah berhala-berhala atau tuhan-tuhan lain selain Allah. Ayat ini bertanya secara retoris: Jika benar tuhan-tuhan lain itu ada dan memiliki kekuasaan, mengapa mereka tidak mampu mencapai atau mendekati Allah, Sang Pemilik 'Arsy?

Logika Pencarian dan Kekuasaan Mutlak

Konsep utama yang ditekankan di sini adalah hierarki kekuasaan. Dalam pandangan alam semesta yang terstruktur, setiap entitas yang memiliki otoritas pasti tunduk atau setidaknya memiliki hubungan dengan otoritas tertinggi di atasnya. Jika para 'tuhan' lain itu benar-benar setara atau memiliki kekuasaan ilahiyah, mereka tentu akan berusaha mendekatkan diri kepada sumber kekuasaan tertinggi, yaitu Allah, Pemilik 'Arsy. 'Arsy sendiri sering diartikan sebagai singgasana atau pusat alam semesta dan kekuasaan ilahi.

Faktanya, tidak ada satu pun entitas di alam semesta ini—baik itu malaikat, jin, dewa-dewa buatan, maupun kekuatan alam—yang mampu mencari jalan atau mendekati kekuasaan Allah. Mereka semua berada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Logika ini sangat kuat: jika mereka tidak mampu mencari jalan kepada yang Maha Kuasa, bagaimana mungkin mereka layak disembah sebagai tuhan?

Implikasi Teologis Ayat 42

Ayat Al-Isra 42 berfungsi sebagai pilar pembuktian Tauhid. Ia menyingkap kelemahan fundamental dari keyakinan yang menyekutukan Allah. Dalam Islam, status ketuhanan (ilahiyah) adalah mutlak dan tidak dapat dibagi. Tidak ada tuhan yang bersekutu dengan Tuhan yang Maha Esa. Semua yang ada diciptakan, bergantung, dan berada dalam keteraturan yang ditetapkan oleh Allah semata.

Bagi seorang Muslim, ayat ini menguatkan keyakinan bahwa segala permohonan, harapan, dan ketakutan harus diarahkan hanya kepada Allah. Mencari jalan kepada Allah berarti menaati perintah-Nya, mengikuti petunjuk rasul-Nya, dan mengakui bahwa hanya Dia yang memiliki otoritas tertinggi atas segala urusan. Jika tuhan-tuhan selain Allah tidak bisa mencari jalan kepada-Nya, mustahil bagi penyembah mereka untuk menemukan keselamatan atau pemenuhan hakiki melalui perantaraan tuhan-tuhan palsu tersebut.

Pengulangan penegasan seperti ini dalam Al-Qur'an bertujuan untuk membersihkan keyakinan umat dari segala bentuk kesyirikan, sekecil apa pun. Ini adalah ajakan untuk kembali pada fitrah kemanusiaan yang mengakui adanya Pencipta yang Maha Tunggal dan Maha Sempurna, yang tidak membutuhkan sekutu, pendamping, atau penolong.

Pelajaran untuk Kehidupan Modern

Meskipun ayat ini diturunkan dalam konteks Arab Jahiliyah, relevansinya tetap abadi. Di era modern, 'berhala' seringkali mengambil bentuk yang berbeda: obsesi terhadap harta benda, kekuasaan duniawi, hawa nafsu pribadi, atau ideologi yang menempatkan makhluk di atas Sang Pencipta. Ayat 42 Al-Isra mengingatkan kita bahwa objek pemujaan apa pun yang kita yakini lebih superior atau independen dari Allah, sejatinya adalah ilusi yang tidak memiliki jalan menuju kebenaran hakiki.

Oleh karena itu, tafsir mendalam terhadap Surat Al-Isra ayat 42 mendorong umat Islam untuk senantiasa memurnikan ibadah mereka. Pemurnian ini bukan hanya terlihat dari ritual formal, tetapi juga dari orientasi hati dan pikiran sehari-hari. Memahami bahwa semua sumber kekuatan di dunia hanyalah ciptaan menegaskan kembali keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya yang layak disembah dan tempat bergantung, sebagaimana ditegaskan melalui tantangan logis dalam ayat mulia tersebut. Keikhlasan dalam tauhid adalah kunci menuju ketenangan jiwa dan kebahagiaan abadi.

🏠 Homepage