Salah satu topik sentral dalam ajaran Islam adalah keyakinan terhadap Hari Kiamat, hari di mana alam semesta akan mengalami goncangan hebat sebagai tanda dimulainya perhitungan amal perbuatan manusia. Untuk menjelaskan dahsyatnya peristiwa tersebut, Allah SWT menurunkan Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan) dalam Al-Qur'an. Ayat pertama dari surah ini menjadi landasan utama yang membuka tirai kengerian sekaligus peringatan tersebut.
Ayat pertama ini secara harfiah dan lugas menyampaikan sebuah kondisi yang akan terjadi: "Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat." Kata kunci dalam ayat ini adalah "zulzilat" (digoncangkan) dan "zilzaalahaa" (goncangan yang sepadan/sesuai dengan kehebatannya).
Ayat ini menerangkan secara spesifik tentang peristiwa yang sangat mendasar: kehancuran tatanan fisik bumi. Goncangan yang dimaksud bukanlah gempa bumi biasa yang sering kita saksikan karena faktor geologis. Goncangan ini bersifat final, menyeluruh, dan memiliki intensitas yang tak terbayangkan oleh akal manusia. Penegasan dengan kata "zilzaalahaa" mengindikasikan bahwa guncangan itu akan mencapai puncaknya, sesuai dengan apa yang telah Allah tetapkan untuk menandai akhir kehidupan dunia.
Konteks ayat pertama ini sangat penting karena ia berfungsi sebagai pemantik kesadaran. Ketika kita mendengar atau membaca ayat ini, fokus kita langsung tertuju pada sifat Allah sebagai Al-Khaliq (Yang Maha Mencipta) dan Al-Qahhar (Yang Maha Memaksa/Mengalahkan). Dialah yang mampu menggenggam dan menghancurkan planet ini sesuai kehendak-Nya. Ini menanamkan rasa takut (khauf) yang sehat kepada hamba-Nya, mengingatkan bahwa segala kemegahan dan stabilitas yang tampak di dunia ini bersifat sementara dan berada dalam genggaman kuasa-Nya.
Surah Az-Zalzalah, yang dimulai dengan deskripsi bencana fisik ini, berfungsi sebagai transisi mendadak dari kehidupan materialistik menuju realitas spiritual hari perhitungan. Ketika bumi, yang selama ini menjadi pijakan tetap dan sumber penghidupan kita, tiba-tiba bergetar hebat, ini adalah sinyal bahwa fondasi kehidupan dunia telah berakhir. Manusia yang pada saat itu mungkin sedang sibuk dengan urusan dagang, pembangunan, atau kesenangan sesaat, akan mendapati realitas mereka berubah total.
Goncangan bumi yang dijelaskan Az-Zalzalah ayat pertama menjadi pembuka bagi serangkaian peristiwa dahsyat lainnya yang disebutkan dalam ayat-ayat berikutnya, seperti keluarnya isi perut bumi (mineral dan mayat) serta pertanyaan retorika: "Apa yang terjadi padanya?" Peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi yang tersembunyi. Semua yang pernah terjadi di permukaan bumi, semua rahasia, semua perbuatan baik dan buruk, akan terungkap.
Mengapa Allah memulai surah peringatan ini dengan gambaran kegempaan? Jawabannya terletak pada bagaimana fenomena alam dapat mempengaruhi kondisi hati manusia. Gempa bumi adalah analogi sempurna untuk guncangan spiritual. Jika bumi saja bisa terguncang, bagaimana dengan hati kita yang seringkali goyah oleh godaan dunia?
Ayat ini menuntut setiap mukmin untuk selalu waspada. Ayat pertama Az-Zalzalah menerangkan tentang ketetapan (qadar) Allah mengenai akhir zaman. Ini bukanlah ramalan kosong, melainkan janji pasti dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, seorang muslim harus menjadikan ayat ini sebagai pengingat konstan untuk beramal saleh, karena waktu untuk beramal akan segera berakhir ketika guncangan itu tiba. Kesiapan spiritual jauh lebih penting daripada kesiapan fisik dalam menghadapi peristiwa yang digambarkan dalam surah ini. Dengan memahami bahwa bumi akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita (sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat lanjutan yang dipicu oleh ayat pertama), kita termotivasi untuk menjalani hidup dengan integritas dan ketakwaan.
Secara keseluruhan, Az-Zalzalah ayat pertama adalah deklarasi keras dari Allah SWT bahwa fase kehidupan dunia akan ditutup dengan sebuah drama kosmik yang mengguncang. Ini adalah peringatan universal yang melampaui batas bahasa dan budaya, sebuah pengantar menuju keadilan mutlak di Hari Penghakiman.